Kolom
Menakar Urgensi Jurnal Tulis Tangan di Era Digital, Masih Relevan?
"Langkahi dulu mayat kami kalau mau jurnal boleh diketik." Kalimat dari para alumni ini seolah menjadi hukum rimba yang harus kami terima saat pertama kali menginjakkan kaki di jurusan Kimia.
Dari angkatan pertama hingga sekarang, aturannya tetap sama: jurnal praktikum wajib tulis tangan. Hanya di semester satu kami diberi kelonggaran untuk mengeprint, sisanya? Tinta dan kertas folio menjadi kawan setia sekaligus musuh dalam selimut.
Sebagai mahasiswa yang menjalaninya, saya sering kali merasa tradisi ini lebih banyak menyita energi daripada memberi pemahaman.
Fenomena Serupa di Kampus Lain
Ternyata, keresahan ini tidak hanya saya rasakan sendirian di kampus saya. Di media sosial saya banyak melihat pola serupa, terutama mereka yang mengambil rumpun sains (Saintek). Banyak kampus besar di Indonesia masih melanggengkan aturan tulis tangan ini dengan alasan kedisiplinan.
Fenomena ini seolah menjadi "standar tak tertulis" bahwa mahasiswa sains belum dianggap bekerja keras jika jarinya belum kapalan karena menulis laporan. Melihat begitu masifnya penerapan aturan ini di berbagai daerah, saya merasa sudah saatnya kita mulai mempertanyakan: apakah kita sedang mendidik calon saintis yang kritis, atau sekadar pencatat data yang patuh?
Pemandangan di Ruang Kuliah: Fisik Hadir, Pikiran Absen
Saya sering sekali memperhatikan suasana di dalam kelas saat dosen sedang memaparkan materi. Bukannya fokus mendengarkan, banyak teman saya (termasuk saya di beberapa kesempatan) yang justru sibuk "curi-curi waktu" menulis jurnal di bawah meja. Bukan karena malas menyimak, tapi karena tekanan beban dua lab dalam sehari yang membuat kami tidak punya pilihan.
Banyak teman saya yang bahkan tidak tidur sama sekali jika ada jadwal praktikum padat. Bayangkan, masuk ke laboratorium dengan kondisi tubuh yang drop karena begadang hanya demi menyalin prosedur kerja. Alih-alih belajar tentang reaksi kimia, kami justru belajar cara bertahan hidup agar tidak pingsan saat praktikum.
Belum lagi kami harus menghapal prosedur kerja, materi, dan mekanisme reaksi sebelum memasuki lab, jika tidak hafal maka akan dikeluarkan oleh kakak asisten. Teori bahwa "menulis tangan akan membuat materi lebih nempel" rasanya luruh seketika saat badan sudah terlalu lelah untuk berpikir jernih.
Beban Ekonomi yang Tak Terlihat
Selain tenaga, ada hidden cost atau biaya tersembunyi yang cukup menyesakkan dada. Saat saya masih kos di area Pintu 4, saya menyadari pengeluaran untuk kertas, alat tulis, hingga biaya cetak literatur pendukung yang harus ditempel manual sangatlah tinggi. Uang bulanan saya sering kali "boncos" hanya untuk urusan administratif yang sebenarnya bisa diefisienkan melalui teknologi.
Jujur, ada rasa tidak enak hati setiap kali harus meminta uang tambahan kepada Ayah hanya untuk membeli kebutuhan operasional jurnal ini. Rasanya sangat miris jika membayangkan uang hasil keringat orang tua habis hanya untuk lembaran-lembaran kertas yang nasib akhirnya sering kali berakhir di tempat loak.
Kabar bahwa jurnal-jurnal kami nantinya hanya dikilokan oleh pihak tertentu menambah rasa kecewa saya. Rasanya, perjuangan berdarah-darah kami menyusun laporan itu sama sekali tidak dihargai sebagaimana mestinya.
Prinsip Belajar: Satu Ukuran Tidak Cocok untuk Semua
Dosen saya pernah berkata bahwa jika tidak ditulis sendiri, ilmunya tidak akan masuk. Saya sangat menghormati pendapat itu, namun kenyataannya, setiap orang punya cara belajar yang berbeda (bio-individuality). Bagi saya, menulis berlembar-lembar sering kali hanya menjadi aktivitas menyalin mekanis tanpa proses berpikir. Saya tetap harus belajar ulang dari awal untuk benar-benar paham.
Jika jurnal boleh diketik atau menggunakan sistem hybrid, kami akan punya lebih banyak waktu untuk deeplearning yaitu memahami substansi ilmu, bukan sekadar mengejar rapinya tulisan tangan.
Penutup: Harapan untuk Perubahan
Melalui tulisan ini, saya bukan ingin memberontak terhadap kedisiplinan, melainkan mengajak kita semua untuk meninjau kembali efektivitas sebuah tradisi. Pendidikan seharusnya memerdekakan pikiran, bukan membelenggunya dengan beban administratif yang berlebihan.
Modernisasi laboratorium dengan sistem digital bukan hanya soal mengikuti tren, tapi soal efisiensi waktu, kesehatan mental mahasiswa, dan kepedulian terhadap lingkungan. Jangan sampai kita terus membayar mahal untuk sebuah tradisi, sementara esensi belajarnya justru tertinggal di belakang.