Kolom
Bukan Solusi, Membalas "Terserah" dengan "Sepakat" Justru Jadi Bom Waktu bagi Hubunganmu
Laki-laki ketika menjalin hubungan sering kali menghadapi pasangan dengan kata "terserah" yang multitafsir dan tidak bisa dipahami. Jika mengacu pada KBBI, kata tersebut bermakna pasrah atau memberikan keputusan kepada lawan bicara. Dalam hal ini, laki-laki berarti mampu memberi keputusan secara sepihak, sedangkan perempuan cukup mengikutinya. Meskipun begitu, penjelasan menurut KBBI tidak terlalu menjawab hati perempuan sebab mereka ingin laki-laki peka terhadap keinginannya.
Kata "terserah" yang selalu digunakan oleh kaum hawa membuat laki-laki hanya bisa terdiam sembari mendengarkan celotehan yang tidak pernah menemukan muaranya. Laki-laki yang perlu berhadapan dengan teka-teki itu mungkin sering kali mengambil keputusan sepihak, memberi beberapa opsi untuk dipilih, menebak hal yang disukai pasangan, mengajukan berbagai pertanyaan, memilih hal yang paling mudah untuk dirinya sendiri, hingga ikut membalas dengan kata "terserah".
Namun, saat ini kata tersebut telah menemukan balasannya. Diketahui kaum adam terinspirasi dari sebuah video berjudul "Enaknya Jadi Laki-laki" di kanal YouTube Najwa Shihab yang diunggah dua tahun lalu. Pada durasi 1:09:03, Najwa mengatakan bahwa laki-laki tidak akan sanggup menjadi perempuan, lalu Genrifinadi Pamungkas merespons dengan kata "sepakat". Kata itulah yang kemudian dijadikan sebagai tanggapan dari laki-laki untuk perempuan yang berkata "terserah".
Dalam tayangan video tersebut, ketika Najwa diladeni dengan kata "sepakat", ia tetap melanjutkan pembicaraan. Bahkan, ada pula warganet yang menyindir bahwa ketika laki-laki seandainya merespons kurang sepakat, pembicaraan justru bisa berlanjut hingga 30 menit. Terlebih lagi, jikalau laki-laki merasa tidak sepakat tentu bisa sampai 30 jam ataupun berhari-hari hingga perdebatan itu tak kunjung usai. Lantas, apakah dinamika komunikasi menggunakan kata "terserah" dan "sepakat" baik untuk diterapkan dalam hubungan?
Implikasi Kata "Terserah" dalam Memengaruhi Kualitas Hubungan
Kata "terserah" bisa berdampak baik pada kualitas hubungan asalkan apa saja keputusan lawan bicara disetujui dengan hati yang lapang. Berbeda halnya jika berlaku sebaliknya, bila keputusan tidak diterima tentu akan memberi efek yang merugikan lawan bicara. Selain itu, pembicaraan yang tidak terselesaikan dapat menyebabkan komunikasi buntu sehingga hubungan menjadi tidak sehat akibat rasa frustrasi.
Sebagai kaum adam yang merasa sulit untuk memahami keinginan kaum hawa, alangkah baiknya dihadapi dengan menggunakan rumus eliminasi dan validasi. Misalnya, pertanyaan seperti "Kamu mau makan apa?" diganti dengan kalimat yang menyempitkan pilihan, yaitu "Kamu mau makan mi ayam kesukaanmu atau mau coba soto yang lagi viral?" Dalam dinamika komunikasi seperti ini, laki-laki diharapkan tidak melemparkan pertanyaan umum kepada perempuan karena justru bisa menjadi beban pikiran.
Banyaknya jenis makanan malah membuat perempuan malas berpikir untuk memilih di antara salah satunya, sehingga kata andalannya keluar kembali. Tak hanya soal makanan, setiap pertanyaan umum perlu diubah dengan pendekatan yang jauh lebih spesifik dengan memasukkan suatu hal yang mungkin disukai pasangan ataupun menyempitkan pertanyaan yang membuat mereka tak perlu berpikir keras. Kendati demikian, cara komunikasi seperti ini tak selamanya ampuh dalam menangani kata "terserah".
Implikasi Kata "Sepakat" dalam Memengaruhi Kualitas Hubungan
Kata "sepakat" yang digunakan laki-laki sebagai jurus pamungkas kepada perempuan agar terhindar dari perdebatan bisa menimbulkan bom waktu di kemudian hari. Niat untuk meredakan situasi justru berakhir dilema karena komunikasi yang tidak jelas dan persetujuan palsu. Masalah utama yang dibahas tidak benar-benar hilang, melainkan hanya menunggu masa tenang berakhir. Maka dari itu, kata "sepakat" yang dipaksakan mampu menghancurkan ruang diskusi yang jujur dalam hubungan.
Saat laki-laki dan perempuan merasa sependapat, maka kata tersebut sah-sah saja diungkapkan. Sebaliknya, jika tidak setuju tentu penting sekali untuk mencari titik mufakat sebelum menetapkan keputusan. Namun, jika perempuan masih melontarkan kata andalannya, laki-laki perlu mengambil alih satu keputusan tegas atau memvalidasi emosi. Jangan mengatakan sepakat untuk memberi jeda sesaat karena sama saja seperti bunuh diri di hari mendatang.
Mengambil keputusan tegas dapat diawali dengan menerapkan teknik tebakan terbalik untuk memancing kejujuran perempuan. Laki-laki bisa menawarkan opsi ekstrem yang kemungkinan besar akan ditolak, seperti mengajak makan di tempat yang paling tidak disukainya. Ketika perempuan menolak tawaran tersebut, kata "terserah" otomatis runtuh dan ruang diskusi yang buntu akan kembali terbuka untuk menemukan pilihan yang benar-benar diinginkan bersama. Walaupun begitu, tetap saja cara komunikasi seperti ini tidak sepenuhnya efektif untuk dijalani.
Keterbukaan Lebih Penting dalam Membangun Hubungan yang Sehat
Pada dasarnya, laki-laki adalah manusia biasa yang tidak diberikan insting ajaib. Laki-laki juga bukan dukun yang bisa selalu tahu keinginan perempuan. Oleh sebab itu, strategi komunikasi apa pun tidak akan bisa menemukan cara terbaik untuk menyelesaikan dinamika komunikasi semacam ini jika ternyata perempuan memang sengaja mencari keributan, tentunya bukan karena mengetes kepekaan pasangan apalagi meminta dipilihkan.
Menjalin hubungan yang baik sudah sepatutnya dilakukan melalui komunikasi yang sehat tanpa membatasi nilai kejujuran. Keterbukaan adalah kunci dalam membangun kepercayaan. Kata "terserah" dan "sepakat" terdeteksi menjadi indikator yang kurang sehat untuk membina komitmen yang jujur dan berlandaskan kepercayaan. Laki-laki dan perempuan perlu memahami bahwa kata tersebut bisa merusak komunikasi. Dengan demikian, alangkah baiknya jika kedua kata itu tidak digunakan lagi dalam berkomunikasi.