Kolom
Membongkar Fenomena Anti-Intelektual di Media Sosial: Apa yang Salah dengan Kita?
Belakangan ini, media sosial dipenuhi berbagai komentar yang meremehkan pendidikan. Ada yang menertawakan orang yang gemar membaca buku, menyindir mereka yang melanjutkan kuliah, bahkan dengan percaya diri menulis, "Titik terendah manusia adalah jadi mahasiswa."
Kalimat seperti itu mungkin dianggap candaan atau bentuk kritik terhadap dunia pendidikan. Namun, jika diamati lebih dalam, ada fenomena psikologis yang patut diperhatikan. Mengapa sebagian orang justru merasa terganggu ketika melihat orang lain ingin menjadi lebih pintar?
Terjebak dalam Pola Pikir Kelangkaan
Dalam psikologi, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan scarcity mindset atau pola pikir kelangkaan. Konsep ini menjelaskan bagaimana seseorang yang terus-menerus merasa hidupnya serba kurang, baik itu kurang uang, kurang waktu, kurang kesempatan, maupun kurang pengakuan, cenderung memandang keberhasilan orang lain sebagai ancaman bagi dirinya sendiri.
Scarcity mindset bukan sekadar soal kondisi ekonomi. Penelitian di bidang psikologi dan ekonomi perilaku menunjukkan bahwa ketika seseorang merasa hidup dalam keterbatasan yang berkepanjangan, pikirannya akan terjebak pada apa yang disebut tunnel vision.
Otak menjadi terlalu fokus pada masalah yang sedang dihadapi sehingga kehilangan kemampuan melihat peluang jangka panjang. Akibatnya, keputusan sering diambil berdasarkan rasa takut, bukan berdasarkan harapan atau pertumbuhan.
Dampaknya tidak hanya terlihat pada cara seseorang mengelola uang atau waktu. Pola pikir ini juga memengaruhi cara memandang orang lain. Ketika melihat teman memperoleh beasiswa, seseorang dengan scarcity mindset mungkin berpikir bahwa kesempatan dirinya makin kecil.
Ketika melihat orang lain rajin membaca buku, ia justru mengejek karena merasa kecerdasan orang lain membuat dirinya tampak tertinggal. Ketika ada generasi muda yang bersemangat melanjutkan pendidikan, yang muncul bukan rasa bangga, melainkan sinisme.
Pengetahuan Bukanlah Sumber Daya Terbatas
Padahal, pengetahuan bukanlah sumber daya yang akan habis jika dibagikan. Kepintaran seseorang tidak mengurangi kepintaran orang lain. Buku yang dibaca seseorang tidak membuat kesempatan belajar orang lain berkurang. Pendidikan bukan perlombaan dengan jumlah pemenang yang terbatas. Justru makin banyak masyarakat yang berpendidikan, makin besar pula peluang sebuah bangsa untuk berkembang.
Sayangnya, media sosial sering memperkuat pola pikir kelangkaan tersebut. Algoritma cenderung mengangkat konten yang provokatif, termasuk narasi antiintelektual yang meremehkan sekolah, kampus, atau budaya membaca. Akibatnya, muncul kesan seolah-olah menjadi pintar adalah sesuatu yang memalukan, sementara sikap antiilmu justru dianggap keren atau berani.
Fenomena ini patut diwaspadai. Sejarah menunjukkan bahwa bangsa yang maju justru dibangun oleh masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Mereka mendorong anak-anak membaca, memperluas akses pendidikan, menghormati guru, dan memberi ruang bagi riset serta inovasi. Tidak ada negara yang berhasil membangun kemajuan dengan meremehkan orang yang belajar.
Tentu saja pendidikan formal bukan satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Banyak orang berhasil melalui jalur wirausaha, keterampilan teknis, atau pengalaman kerja. Namun, menghargai pendidikan tidak berarti merendahkan pilihan hidup yang lain. Begitu pula sebaliknya. Mengkritik sistem pendidikan boleh saja, tetapi mengejek orang yang sedang belajar adalah persoalan yang berbeda. Kritik bertujuan memperbaiki sistem, sedangkan ejekan hanya mematikan semangat belajar.
Beralih Menuju Abundance Mindset
Lalu bagaimana keluar dari scarcity mindset? Langkah pertama adalah menyadari bahwa peluang tidak selalu bersifat rebutan. Dunia terus berkembang dan menciptakan kesempatan baru. Keberhasilan orang lain bukan bukti bahwa kita gagal, melainkan bukti bahwa keberhasilan memang mungkin diraih. Psikolog menyebut cara pandang ini sebagai abundance mindset, yaitu keyakinan bahwa peluang, ilmu, dan kemajuan dapat terus bertambah melalui kerja sama, kreativitas, dan pembelajaran.
Selain itu, penting pula mengelola sumber stres yang menjadi akar pola pikir kelangkaan. Tekanan ekonomi, utang, ketidakpastian pekerjaan, atau kecemasan berkepanjangan memang dapat mempersempit cara berpikir. Oleh karena itu, menyusun perencanaan keuangan, membangun dana darurat, meningkatkan keterampilan, dan menjaga kesehatan mental bukan hanya bermanfaat bagi kesejahteraan hidup, tetapi juga membantu seseorang melihat masa depan dengan lebih optimistis.
Pada akhirnya, ada sesuatu yang perlu direnungkan. Jika melihat orang lain membaca buku membuat kita kesal, jika melihat anak muda kuliah membuat kita sinis, atau jika keberhasilan orang lain terasa seperti ancaman, mungkin persoalannya bukan pada buku, kampus, atau orang yang belajar.
Mungkin yang perlu diperiksa adalah cara kita memandang dunia. Sebab masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang takut melihat orang lain menjadi pintar, melainkan masyarakat yang ikut bergembira ketika makin banyak orang memilih jalan ilmu pengetahuan.
Karena ketika pengetahuan bertambah, yang tumbuh bukan hanya kecerdasan individu, melainkan juga masa depan sebuah bangsa.