Kolom
Glow Up atau Tekanan Sosial? Saatnya Berhenti Membeli Standar Kecantikan yang Tidak Perlu
Fenomena glow up semakin populer di media sosial dan jadi bagian dari pengembangan diri. Namun, saat tampil lebih menarik menjadi tuntutan sosial, apakah glow up masih menjadi pilihan atau justru tekanan?
Dulu, istilah glow up identik dengan perubahan positif. Seseorang menjadi lebih percaya diri, lebih sehat, atau lebih rapi dalam berpenampilan. Glow up pun dipandang sebagai bentuk pengembangan diri yang dilakukan sesuai keinginan masing-masing.
Namun, belakangan ini maknanya terasa mulai bergeser. Di media sosial, glow up sering digambarkan sebagai proses yang harus dilakukan agar dianggap menarik, sukses, atau lebih layak mendapatkan perhatian.
Mulai dari rutinitas skincare, olahraga, gaya berpakaian, hingga cara berbicara, semuanya seolah menjadi daftar yang wajib dipenuhi. Di titik ini glow up perlahan berubah menjadi tuntutan agar orang merasa harus terus memperbaiki penampilan.
Media Sosial Membentuk Standar Baru
Bisa dibilang media sosial memiliki peran besar dalam mempopulerkan ‘budaya’ glow up. Setiap hari kita melihat video transformasi wajah, tips berpakaian, rekomendasi produk kecantikan, hingga konten "before-after" yang populer.
Konten seperti ini memang bisa menjadi inspirasi. Namun, jika dikonsumsi terus-menerus, muncul kesan kalau semua orang harus mengalami perubahan yang sama.
Sayangnya, algoritma membuat standar tersebut terasa dekat. Semakin sering kita melihat konten glow up, semakin mudah juga kita merasa kalau penampilan saat ini masih belum cukup baik.
Glow Up Tidak Selalu Tentang Percaya Diri
Tidak ada yang salah dengan merawat diri. Menggunakan skincare, berolahraga, atau memilih pakaian yang membuat kita nyaman adalah hal yang positif. Masalahnya muncul saat keputusan itu dilakukan karena takut dinilai oleh orang lain.
Saya melihat banyak orang mulai merasa harus tampil menarik setiap saat, bahkan untuk aktivitas sehari-hari. Ada rasa khawatir dianggap kurang mengikuti tren, atau kurang "niat" jika tampil sederhana.
Menurut saya, ketika rasa percaya diri bergantung sepenuhnya pada validasi orang lain, glow up justru bisa berubah menjadi sumber tekanan. Dan di titik inilah masalah finansial muncul saat idealisme glow up berubah jadi kewajiban.
Biaya Tampil "Ideal" Tidak Selalu Murah
Disadari atau tidak, tuntutan menjadi glow up juga memiliki sisi lain yang jarang dibahas, yaitu biaya. Perawatan kulit, makeup, pakaian, hingga berbagai produk penunjang penampilan membutuhkan pengeluaran yang tidak sedikit.
Belum lagi jika tren yang terus berganti, banyak orang merasa perlu membeli produk baru agar tetap mengikuti perkembangan. Kondisi ini membuat sebagian anak muda berada dalam dilema.
Mereka ingin tampil lebih baik, tapi juga harus mempertimbangkan kondisi keuangan. Ironisnya, demi mengejar standar media sosial, tidak sedikit yang akhirnya membeli sesuatu yang sebenarnya belum terlalu dibutuhkan.
Glow Up Seharusnya Tidak Hanya Soal Penampilan
Glow up yang sesungguhnya memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar perubahan fisik. Belajar skill baru, memperluas wawasan, mengelola emosi yang lebih baik, atau memperbaiki cara komunikasi sebagai bentuk perkembangan diri.
Sayangnya, perubahan seperti ini tidak selalu terlihat di kamera hingga sering kalah populer dibanding transformasi penampilan. Padahal, pengembangan kualitas diri akan memberikan dampak yang lebih bertahan lama dibanding sekadar tren kecantikan.
Saatnya Pilih Grow Up, Bukan Hanya Glow Up
Saya percaya kalau merawat penampilan tetap penting. Namun, akan lebih baik jika hal itu dilakukan karena kita ingin merasa nyaman dengan diri sendiri, bukan takut dianggap tidak memenuhi standar sosial.
Media sosial memang penuh dengan inspirasi, tapi setiap orang memiliki kondisi, kebutuhan, dan perjalanan yang berbeda. Sebab menjadi versi terbaik dari diri sendiri tidak selalu berarti memiliki wajah yang paling glowing atau pakaian paling estetik.
Jangan Sampai Nilai Diri Ditentukan oleh Standar Media Sosial
Fenomena glow up menunjukkan bahwa masyarakat semakin peduli terhadap penampilan dan pengembangan diri. Hal ini tentu memiliki banyak sisi positif jika dilakukan dengan kesadaran dan tujuan yang sehat.
Namun, saat glow up berubah menjadi tuntutan sosial, kita perlu bertanya kembali apakah perubahan itu benar-benar kita inginkan atau hanya dilakukan demi memenuhi ekspektasi lingkungan.
Pada akhirnya, hal yang lebih penting bukan sekadar glow up, melainkan grow up. Penampilan memang bisa membuka kesan pertama, tapi karakter, kemampuan, dan cara kita memperlakukan orang lain adalah hal yang membuat seseorang benar-benar bersinar.