Kolom

Overconsumption Core: Ketika Gen Z Mulai Kritik Budaya Belanja Berlebihan

Overconsumption Core: Ketika Gen Z Mulai Kritik Budaya Belanja Berlebihan
Ilustrasi mengkritik belanja berlebihan (Pexels/Tim Douglas)

Media sosial selalu menghadirkan tren baru. Jika sebelumnya konten haul, unboxing, dan checkout “racun belanja" mendominasi linimasa, belakangan muncul tren yang cukup berbeda, yaitu overconsumption core.

Istilah ini digunakan untuk mengkritik kebiasaan membeli barang secara berlebihan, terutama ketika barang tersebut sebenarnya tidak benar-benar dibutuhkan. Tren baru di media sosial ini ternyata justru banyak datang dari Gen Z.

Generasi digital yang dekat dengan budaya belanja online ini sekarang semakin kritis mempertanyakan apakah normalisasi kebiasaan konsumtif benar-benar mampu membawa kepuasan.

Bukan asal kritik, perubahan pola pikir Gen Z tersebut menunjukkan kalau semakin banyak anak muda mulai menyadari dampak dari konsumsi berlebihan, baik terhadap kondisi finansial maupun lingkungan.

Belanja Berlebihan Kini Tidak Lagi Dianggap Keren

Beberapa waktu lalu, memiliki koleksi produk viral paling hits sering dianggap sebagai hal yang menarik. Namun, perlahan muncul pertanyaan baru: apakah semua barang itu benar-benar digunakan?

Banyak kreator konten pun mulai membagikan pengalaman tentang produk yang akhirnya kedaluwarsa, pakaian yang hanya dipakai sekali, atau barang impulsif yang terlupakan di sudut kamar.

Menurut saya, konten seperti ini membuat banyak orang semakin melihat sisi lain dari budaya konsumtif. Belanja memang menyenangkan, tapi membeli terlalu banyak tidak selalu membuat hidup menjadi lebih baik.

Media Sosial Ikut Membentuk Dua Sisi Tren

Menariknya, media sosial memiliki peran ganda dalam fenomena ini. Di satu sisi, algoritma sering mendorong kita untuk belanja produk viral. Namun, di sisi lain juga dipenuhi konten untuk berpikir lebih kritis sebelum menekan tombol checkout.

Perubahan ini menunjukkan kalau media sosial bukan hanya tempat lahirnya tren konsumtif, tapi juga ruang untuk mengkritisi kebiasaan tersebut agar orang sadar untuk membeli sesuai kebutuhan atau memanfaatkan kembali barang yang sudah dimiliki.

Overconsumption Bukan Hanya Soal Uang

Ketika membahas belanja berlebihan, banyak orang langsung mengaitkannya dengan kondisi finansial. Padahal kebiasaan overconsumption bukan hanya soal uang sebab dampaknya ternyata jauh lebih luas.

Barang yang dibeli tapi tidak digunakan akan menjadi limbah. Produksi barang baru membutuhkan bahan baku, energi, dan proses distribusi yang juga berdampak pada lingkungan.

Bahkan kebiasaan terus membeli barang baru sering kali juga membuat kita merasa tidak pernah puas dengan apa yang sudah dimiliki. Overconsumption juga bicara tentang pola pikir bahwa kebahagiaan selalu bisa dibeli.

Hidup Sederhana Bukan Berarti Berhenti Belanja

Tren mengkritik overconsumption bukan berarti melarang orang untuk berbelanja. Saya justru melihat pesan utama tentang ajakan agar kita menjadi konsumen yang lebih sadar sebelum memutuskan membeli sesuatu.

Memang benar belanja bisa jadi bentuk menikmati hasil kerja sendiri. Namun, akan lebih bermakna jika setiap pembelian dilakukan karena diperlukan, bukan sekadar mengikuti tren yang sedang viral hingga memicu rasa bersalah pasca checkout.

Kesadaran Baru Gen Z yang Patut Diapresiasi

Saya melihat munculnya tren overconsumption core sebagai tanda bahwa Gen Z mulai berani mengevaluasi kebiasaan yang sebelumnya dianggap wajar. Tentu perubahan ini layak diapresiasi sebagai kemajuan berpikir kritis.

Alih-alih berlomba memiliki barang paling banyak, semakin banyak anak muda yang kini membahas cara mengelola keuangan, menerapkan gaya hidup yang lebih sederhana, hingga mengurangi pembelian impulsif.

Mungkin belum sempurna, tapi setidaknya sudah ada langkah awal yang positif menuju pola konsumsi lebih sehat. Tidak lantas jadi anti-belanja, hanya memahami alasan di balik setiap keputusan membeli.

Belanja Seperlunya, Menikmati Hidup Secukupnya

Fenomena overconsumption core menunjukkan bahwa cara pandang Gen Z terhadap konsumsi mulai berubah. Setelah lama hidup di tengah budaya checkout, haul, dan tren yang terus berganti, kini semakin banyak yang membeli dengan lebih sadar.

Bukan tentang siapa yang paling hemat atau paling sedikit memiliki barang, tapi membangun hubungan yang lebih sehat dengan kebiasaan konsumsi. Bukankah hidup tidak harus dipenuhi barang baru agar terasa menyenangkan?

Saat kita mampu menghargai apa yang sudah dimiliki dan membeli sesuai kebutuhan, kondisi finansial akan lebih terjaga, lingkungan semakin terlindungi, dan kepuasan yang dirasakan pun cenderung bertahan lebih lama.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda