Kolom

Saat Media Sosial Terasa Tak Menyenangkan Lagi: Serangan Digital Fatigue?

Saat Media Sosial Terasa Tak Menyenangkan Lagi: Serangan Digital Fatigue?
Ilustrasi merasa lelah (Pexels/Thirdman)

Media sosial pernah menjadi ruang yang menyenangkan bagi banyak orang, terutama Gen Z. Kita bisa berbagi cerita, mengikuti tren terbaru, mencari hiburan, dan menjalin komunikasi hingga rasanya hampir tidak ada hari tanpa membuka media sosial.

Namun, belakangan ini muncul fenomena yang semakin sering dirasakan, yaitu digital fatigue. Alih-alih merasa terhibur, banyak orang justru merasa lelah, jenuh, bahkan kehilangan semangat saat berselancar di media sosial.

Menurut saya, kondisi ini menjadi ironi di era digital yang semakin sering terlihat. Teknologi yang awalnya dirancang untuk memudahkan komunikasi justru kadang membuat kita merasa kewalahan.

Terlalu Banyak Informasi dalam Waktu Bersamaan

Salah satu penyebab digital fatigue adalah banjir informasi yang datang tanpa henti. Dalam hitungan menit, kita bisa melihat berita, video hiburan, promosi belanja, opini publik, hingga berbagai isu sosial yang silih berganti muncul di beranda. Otak seolah dipaksa memproses begitu banyak informasi dalam waktu yang sangat singkat.

Saya sendiri sering merasa sulit benar-benar "beristirahat" dari dunia digital. Saat cuma ingin scrolling santai, justru muncul informasi yang menuntut perhatian. Akibatnya, waktu yang seharusnya menjadi momen relaksasi justru berubah menjadi aktivitas yang menguras energi dan mental.

Lelah Karena Terus Membandingkan Diri

Media sosial juga menghadirkan kehidupan orang lain yang terlihat begitu sempurna. Ada yang baru lulus kuliah, mendapat pekerjaan impian, membeli barang baru, berlibur ke luar negeri, atau membangun bisnis di usia muda.

Tanpa disadari, kita mulai membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Hal inilah yang tanpa disadari juga jadi sumber kelelahan. Padahal perjalanan hidup orang berbeda, tapi media sosial seolah membuat semuanya harus dicapai dalam waktu yang bersamaan.

Semakin sering membandingkan diri, semakin mudah muncul rasa kurang percaya diri atau merasa tertinggal. Bukan hidup kita buruk, tapi karena kita terlalu sering melihat versi terbaik dari kehidupan orang lain.

FOMO Membuat Sulit Benar-Benar Beristirahat

Fenomena FOMO juga berperan besar dalam munculnya digital fatigue. Banyak Gen Z merasa harus selalu mengetahui tren terbaru, berita viral, atau konten yang sedang ramai diperbincangkan.

Jika tidak membuka media sosial selama beberapa jam saja, muncul rasa khawatir akan ketinggalan informasi. Kebiasaan ini membuat kita sulit benar-benar menikmati waktu tanpa gawai meski sebenarnya tidak semua informasi harus diketahui saat itu juga.

Namun, algoritma media sosial seolah mendorong kita untuk terus membuka aplikasi agar tidak merasa tertinggal. Lama-kelamaan, aktivitas yang awalnya dilakukan secara sukarela berubah menjadi kebiasaan yang terasa seperti kewajiban.

Hiburan yang Berubah Menjadi Rutinitas

Hal lain yang saya rasakan adalah media sosial kini sering dibuka bukan karena benar-benar ingin, tapi faktor kebiasaan. Saat menunggu kendaraan, sebelum tidur, setelah bangun tidur, bahkan ketika sedang makan, tangan otomatis ambil ponsel dan membuka aplikasi media sosial.

Ironisnya, setelah menghabiskan waktu puluhan menit untuk scrolling, sering kali tidak ada konten yang benar-benar diingat. Ini jadi tanda kalau media sosial mulai kehilangan fungsi utamanya sebagai hiburan.

Aktivitas scrolling menjadi rutinitas yang dilakukan tanpa tujuan yang jelas. Pada akhirnya bukan membuat pikiran lebih segar, tapi justru meninggalkan rasa lelah dan waktu yang terasa terbuang.

Bijak Menggunakan Media Sosial di Era Digital

Digital fatigue menjadi pengingat bahwa tidak semua kemudahan teknologi selalu membawa kenyamanan. Di balik akses informasi yang cepat dan hiburan yang melimpah, ada risiko kelelahan mental jika kita tidak mampu mengatur cara menggunakannya.

Sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi, Gen Z memiliki peluang besar untuk memanfaatkan media sosial secara positif. Namun, mereka juga perlu belajar mengenali kapan saatnya berhenti, beristirahat, dan kembali menikmati real life.

Menurut saya, media sosial tetap bisa menjadi tempat yang menyenangkan selama digunakan dengan bijak. Tidak semua tren harus diikuti, tidak semua konten harus ditonton, dan tidak semua notifikasi harus segera dibuka.

Karena terkadang, bentuk self-care yang paling sederhana justru bukan dengan mencari hiburan baru di media sosial, melainkan memberi diri sendiri waktu untuk benar-benar lepas dari dunia digital sejenak.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda