Kolom

Jangan Dibuang! Ternyata Tempe "Bosok" adalah Rahasia Kelezatan Masakan Jawa

Jangan Dibuang! Ternyata Tempe "Bosok" adalah Rahasia Kelezatan Masakan Jawa
ilustrasi tempe bosok (Youtube/Resep Ririn Jaelani)

Pernah makan tempe? Tempe yang digoreng atau diolah jadi masakan umumnya masih berwarna cerah, dengan serat-serat putih bak kapas. Kalau terlalu lama dibiarkan, warnanya bakal jadi cokelat dan menguarkan aroma khas yang lazim disebut tempe bosok.

Melansir Halodoc, tempe bosok sejatinya adalah tempe yang mengalami fermentasi lanjutan sehingga warnanya berubah agak kecokelatan dengan aroma khas mirip keju. Entah ya, menurutku aromanya nggak kayak keju, tapi khas antara gurih, wangi, dan sedap. Agak bingung digambarkan.

Alih-alih dibuang, masyarakat luas kerap memanfaatkannya sebagai bahan penyedap masakan. Praktik ini banyak dijumpai dalam masakan rumahan Jawa, ya, tapi kemungkinan juga dipakai oleh masyarakat daerah lainnya.

Penyedap Rasa Alami Sejak Zaman Baheula

Mengapa tempe bosok tetap dipakai dalam masakan?

Oke, konteksnya memang krusial mengingat frasa bosok yang berarti 'busuk'. Namun, pada praktiknya, kami hanya menggunakan tempe yang sudah mengalami fermentasi lanjutan yang ditandai dengan perubahan warna menjadi lebih gelap, dan menguarkan aroma yang masih bisa ditoleransi. Kalau fisiknya sudah busuk pol, sudah muncul belatung, dan aromanya betul-betul bosok yang nggak bisa dimakan, ya otomatis dibuanglah.

Kendati demikian, masyarakat justru menjadikannya sebagai bumbu penyedap tambahan sejak masa silam. Tidak seperti era sekarang yang banyak kita jumpai bumbu-bumbu instan, penyedap rasa instan, sampai kaldu bubuk instan, orang-orang dahulu memanfaatkan penyedap rasa alamiah seperti ebi kering—atau disebut urang dawu—maupun tempe bosok itu sendiri. Tentu dengan kekayaan rempah lainnya sebagaimana daun salam, daun jeruk, serai, dan lainnya tergantung jenis masakan.

Bumbu Primadona yang Membawa Nostalgia

Kendati era sudah semakin pesat dengan beragam resep dan teknik memasak kian maju juga, ada kalanya orang-orang rindu dengan era lampau. Mungkin rindu dengan masakan Emak, masakan nenek, maupun geografis pedesaan yang berbeda 180 derajat dibandingkan sekarang. Hal-hal itu kemudian membutuhkan pelampiasan, termasuk eksistensi tempe bosok dalam masakan.

Dengan menggunakan resep dan teknik memasak ala Emak atau nenek, berikut penambahan bumbu spesial autentik, maka kerinduannya terbayarkan. Memang nggak bisa disandingkan dengan makanan restoran bintang lima, tapi personalitas dan elegi kehidupannya berhasil dipuaskan.

Kalau boleh jujur, masakan yang dibumbui dengan tempe bosok berasa lebih gurih, lebih autentik ala pedesaan lampau, dan lebih nikmat dalam setiap suapannya.

Praktik Moral 'Gemati' agar Tidak Membuang Makanan

Kudapati masyarakat era lampau hidup dalam budaya setiti, gemati, dan ati-ati yang mana pandai memilah dan memilih segala aspek. Bagi mereka yang hidup di zaman itu ketika teknologi penyimpanan bahan makanan belum semutakhir sekarang, ada saja idenya untuk menyimpan bahan pangan.

Ada proses pengawetan nasi menjadi sego karak, proses pengawetan ikan menjadi ikan asin atau ikan asap, sampai proses mendaur ulang makanan sebagaimana tempe bosok ini. Dengan eksistensinya, tempe bosok lantas diolah menjadi bumbu spesial yang membuat cita rasa masakan kian unik, autentik, dan tentunya berupaya menyelamatkan bahan pangan semaksimal mungkin.

Sinergi Kekayaan Kuliner Nusantara

Selain sebagai bumbu penyedap dan pelengkap napas autentik, tempe bosok nggak jarang diolah sebagai bintang utama masakan. Alih-alih figuran, ia menjelma menjadi kekayaan kuliner Nusantara sebagaimana sambal tumpang yang lazim di daerah Kediri.

Sambal tumpang adalah masakan yang terbuat dari tempe bosok, tempe standar, santan, dan dibumbui dengan daun salam, daun jeruk, lengkuas, cabai, perbawangan, garam, dan lainnya. Silakan googling deh, maka sekian resep bakal muncul.

Kuliner ini umumnya berdampingan dengan nasi pecel, dan kerap dicampur sebagai cita rasa khas Kediri. Namun, bisa juga dimakan dengan nasi dan sayuran saja kok. Makanya nggak heran, kalau sambal tumpang selalu erat kaitannya dengan Kediri.

Adaptasi yang Gampang Diaplikasikan

Kendati identitasnya lekat dengan sambal tumpang, warga bumi Jayabaya seperti aku nggak serta-merta mengolah tempe bosok menjadi satu menu saja. Ada beragam masakan yang bisa diaplikasikan, mulai dari sayur lodeh maupun tumisan sayur.

Selain mencoba meminimalkan penyedap masakan instan, kami juga memanfaatkan budaya lokal gemati dan memelihara tradisi lama. Yakni soal nguri-nguri cita rasa lokal, dan mengeksplorasi kekayaan rempah dan sumber pangan khas Nusantara.

So, kawan-kawan pernah nggak menggunakan tempe bosok dalam masakan?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda