Kolom

Kisah Kang Edai: Local Hero yang Mengubah Desa Kemiren Menjadi Inspirasi

Kisah Kang Edai: Local Hero yang Mengubah Desa Kemiren Menjadi Inspirasi
Potret Kang Edai, Local Hero Desa Sejahtera Astra Kemiren (Doc.Pribadi)

Keberhasilan sebuah desa wisata sering kali diukur dari jumlah wisatawan, penghargaan, atau besarnya perputaran ekonomi. Namun, ukuran itu sesungguhnya hanya bagian dari hasil akhir.

Di baliknya, ada proses panjang yang jarang terlihat membangun kepercayaan masyarakat, menyatukan berbagai kepentingan, hingga belajar mengelola perubahan.

Perjalanan itulah yang dialami oleh Muhammad Edy Saputro atau biasa disapa Kang Edai, Ketua Desa Wisata Kemiren yang kini dipercaya menjadi Local Hero Desa Sejahtera Astra (DSA) Kemiren.

Saat Desa Kemiren bergabung dalam program Desa Sejahtera Astra pada 2024, Kang Edai tidak langsung merasa siap. Selama ini ia terbiasa mengembangkan desa melalui sektor wisata budaya. Kini, ia harus memahami empat pilar Pembangunan, kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan yang seluruhnya harus berjalan beriringan.

"Awalnya saya memang fokus mengembangkan desa wisata. Setelah menjadi Desa Sejahtera Astra, saya harus belajar bidang lain. Saya sempat bingung soal laporan, koordinasi, sampai apa saja yang harus dilakukan sebagai Local Hero," tuturnya pada wawancara pada Sabtu (1/08/2026) .

Pengakuan tersebut mengingatkan bahwa pembangunan desa bukan sekadar menghadirkan program baru, tetapi juga membangun kapasitas orang-orang yang menjalankannya. Seorang penggerak desa tidak lahir dengan bekal yang sempurna. Ia tumbuh melalui proses belajar yang sering kali tidak mudah.

Belajar Menjadi Local Hero: Kepemimpinan yang Bertumbuh Bersama Masyarakat

Bagi Kang Edai, tantangan terbesar bukan berasal dari keterbatasan anggaran, melainkan perubahan cara berpikir. Sebelum menjadi bagian dari DSA, ia lebih banyak berfokus pada pengembangan desa wisata bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Ketika dipercaya menjadi Local Hero, tanggung jawabnya meluas hingga menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat.

"Saya sempat bingung membuat laporan ke DSA, koordinasi dengan bidang selain wirausaha, bahkan menyesuaikan program dengan kondisi desa," ujarnya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa program pemberdayaan masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar pendanaan. Pendampingan dan penguatan kapasitas menjadi faktor yang menentukan keberhasilan jangka panjang. Banyak program desa berhenti ketika bantuan selesai karena masyarakat belum benar-benar menguasai tata kelola maupun koordinasi lintas sektor.

Dalam kasus Desa Kemiren, proses adaptasi menjadi bagian penting dari perubahan. Kang Edai harus belajar berkomunikasi dengan berbagai pihak, memahami sistem pelaporan, hingga menyusun prioritas sesuai kebutuhan desa. Bahkan, persoalan pemanfaatan lahan dan sinkronisasi program menjadi tantangan yang harus diselesaikan melalui musyawarah.

Di sinilah makna seorang Local Hero menjadi nyata. Kepemimpinan tidak hanya diukur dari kemampuan mengambil keputusan, tetapi juga dari kesediaan untuk belajar, mendengarkan, dan membangun kolaborasi.

Justru karena berangkat dari kebingungan, Kang Edai mampu memahami bahwa pembangunan desa memerlukan proses yang bertahap dan melibatkan banyak pihak.

Empat Pilar yang Mengubah Arah Pembangunan Desa

Perubahan paling terasa setelah Desa Kemiren bergabung dengan DSA adalah lahirnya pendekatan pembangunan yang lebih menyeluruh. Desa tidak lagi hanya berbicara tentang pariwisata, tetapi juga mulai memperhatikan kualitas hidup masyarakat.

"Sebelumnya kami fokus pada desa wisata. Setelah bergabung dengan DSA, kami mulai membuat pupuk organik, memilah sampah, menggandeng PAUD, SD, sampai Posyandu," kata Kang Edai.

Program lingkungan seperti pembuatan pupuk organik dan pemilahan sampah menjadi langkah awal membangun kesadaran ekologis masyarakat. Sementara itu, dukungan terhadap PAUD, sekolah dasar, dan Posyandu memperlihatkan bahwa pembangunan desa tidak cukup hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga memperkuat kualitas sumber daya manusia sejak dini.

Meski demikian, Kang Edai mengakui bahwa sektor kewirausahaan tetap menjadi penggerak utama.

"Yang paling terasa dampaknya tetap di bidang wirausaha desa wisata. Astra membantu kami sehingga Desa Kemiren bisa mengirim perwakilan mengikuti penghargaan pariwisata di Tiongkok dan Kuala Lumpur. Kesempatan seperti itu jarang dimiliki desa wisata," ungkapnya.

Dari delapan desa wisata Indonesia yang mengikuti ajang penghargaan di Tiongkok, Desa Kemiren menjadi salah satu wakilnya. Kesempatan tersebut membuka jejaring internasional sekaligus meningkatkan kepercayaan diri masyarakat bahwa desa berbasis budaya juga mampu bersaing di tingkat global.

Namun, keberhasilan ini juga menghadirkan tantangan baru. Pengakuan internasional seharusnya tidak membuat desa terlena pada pencapaian simbolik. Yang jauh lebih penting adalah menjaga agar manfaat ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat secara merata, bukan hanya segelintir pelaku wisata.

Keberlanjutan sebuah desa wisata pada akhirnya bergantung pada kemampuan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian budaya, dan kualitas lingkungan.

Menjaga Budaya Asli Kemiren di Tengah Arus Digital

Ketika banyak destinasi berlomba menciptakan atraksi baru, Desa Kemiren memilih jalan yang berbeda mempertahankan keaslian budaya Osing.

"Rahasia kami sederhana, mempertahankan budaya Kemiren. Orang datang ke sini bukan mencari tempat wisata buatan, tetapi ingin melihat kehidupan masyarakat Kemiren yang asli," tutur Kang Edai.

Pilihan tersebut terbukti menjadi kekuatan tersendiri. Desa seluas sekitar 100 hektare ini semakin sering dikunjungi akademisi, media, hingga wisatawan mancanegara yang ingin mempelajari budaya Osing secara langsung.

Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Kang Edai adalah saat menerima Vicente, seorang guru musik asal Chile. Setelah belajar gamelan di Solo, Vicente datang ke Kemiren untuk mendalami musik Banyuwangi.

"Beliau sangat tertarik dengan musik Osing. Bahkan belajar memainkan gendang Banyuwangi bersama saya," kenangnya.

Kang Edai juga bercerita bahwa beberapa wisatawan asing mengetahui keberadaan Desa Kemiren melalui internet, media sosial, hingga aplikasi berbasis kecerdasan buatan, ChatGPT sebelum akhirnya menghubunginya dan datang berkunjung.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa teknologi digital tidak selalu menjadi ancaman bagi budaya lokal. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi jembatan yang mempertemukan dunia dengan desa, selama identitas budaya tetap dijaga.

"Desa kami memang tidak luas, sekitar seratus hektare. Tetapi potensinya luar biasa. Yang membuat saya bangga, orang datang bukan hanya melihat tempatnya, tetapi ingin mengenal masyarakat Kemiren," ujarnya.

Kisah Kang Edai membuktikan bahwa pembangunan berkelanjutan bukan hanya tentang membangun infrastruktur atau mengejar penghargaan. Keberlanjutan lahir ketika masyarakat Desa Kemiren memiliki pemimpin lokal yang mau belajar, mampu berkolaborasi, dan tetap menjaga akar budayanya di tengah perubahan zaman.

Dari kebingungan menjadi kebanggaan, perjalanan Kang Edai memperlihatkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian seseorang untuk terus belajar bersama desanya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda