Kolom

Pariwisata Kuatkan Ekonomi, Pendidikan Menjaga Jiwa Budaya Suku Osing

Pariwisata Kuatkan Ekonomi, Pendidikan Menjaga Jiwa Budaya Suku Osing
Potret Desa Kemiren (Kemiren.com)

Di banyak daerah, keberhasilan desa wisata hampir selalu diukur dengan angka jumlah wisatawan, tingkat hunian homestay, omzet UMKM, atau penghargaan yang berhasil diraih. Ukuran tersebut memang penting karena mencerminkan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Namun, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan apakah generasi mudanya masih memahami budaya yang menjadi alasan wisatawan datang?

Pertanyaan ini layak diajukan karena tidak sedikit desa wisata yang akhirnya terjebak dalam paradoks. Budaya dipromosikan sebagai daya tarik ekonomi, tetapi perlahan kehilangan makna sebagai identitas masyarakat.

Tarian dipentaskan hanya ketika ada tamu, bahasa daerah mulai jarang digunakan, sementara anak-anak lebih mengenal tren digital daripada cerita leluhur mereka sendiri.

Di tengah dilema tersebut, Desa Sejahtera Astra Kemiren di Banyuwangi menawarkan pelajaran penting. Program yang dikembangkan sejak 2024 melalui empat bidang yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan dan ini menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak cukup hanya memperkuat ekonomi.

Pendidikan justru menjadi fondasi agar budaya Osing tetap hidup di tengah geliat industri pariwisata. Di sinilah letak keberhasilan Kemiren sekaligus tantangan yang harus terus dijaga.

Pendidikan Adalah Benteng Terakhir Budaya

Masyarakat sering menganggap pendidikan hanya berlangsung di sekolah. Padahal, dalam konteks desa adat, pendidikan adalah proses pewarisan nilai, tradisi, dan cara hidup antargenerasi. Tanpa proses itu, budaya hanya akan menjadi pertunjukan yang kehilangan makna.

Kemiren memahami persoalan tersebut. Program Desa Sejahtera Astra tidak berhenti pada penyediaan sarana pendidikan, tetapi juga mendorong pengenalan budaya Osing sejak usia dini melalui PAUD dan sekolah dasar. Anak-anak tidak hanya belajar membaca dan berhitung, tetapi juga mengenal identitas budaya yang menjadi akar kehidupan masyarakatnya.

Muhammad Edy Saputro atau Kang Edai, Local Hero Desa Sejahtera Astra Kemiren, mengaku perubahan cara pandang itu ia rasakan setelah bergabung dalam program tersebut. Sebelum menjadi bagian dari Desa Sejahtera Astra, fokusnya hanya pada pengembangan desa wisata dan kewirausahaan.

"Sebelum bergabung saya hanya fokus di bidang wirausaha. Setelah ada empat program Astra, kami menggandeng PAUD, TK, hingga SD untuk mengenalkan budaya Osing sejak dini. Kami juga bekerja sama dengan Posyandu dan berbagai kelompok masyarakat. Jadi, kami tidak lagi hanya berbicara soal wisata, tetapi juga bagaimana membangun masyarakatnya," ujarnya pada Sabtu (1/8/2026).

Pernyataan itu menunjukkan perubahan paradigma yang penting. Pendidikan tidak lagi dipahami sebagai urusan sekolah semata, melainkan tanggung jawab seluruh desa. Anak-anak belajar budaya di sekolah, keluarga memperkuatnya di rumah, dan masyarakat menjadikannya sebagai praktik kehidupan sehari-hari.

Kritik terhadap Ukuran Keberhasilan Desa Wisata

Sayangnya, indikator seperti ini masih jarang menjadi ukuran keberhasilan pembangunan desa. Pemerintah maupun berbagai pihak lebih sering menonjolkan angka kunjungan wisata, penghargaan internasional, atau peningkatan pendapatan masyarakat. Padahal, ukuran ekonomi hanya menggambarkan hasil jangka pendek.

Disadur dari laman Astra Media Tour 2026 pada Senin (3/8/2026) Desa Kemiren memang mencatat lebih dari 3.000 kunjungan wisatawan setiap tahun, memiliki 50 homestay dengan 92 kamar, serta sekitar 40 pelaku UMKM dan 40 anggota Pokdarwis. Pendapatan rata-rata anggota Pokdarwis bahkan meningkat sekitar 33 persen. Semua capaian itu layak diapresiasi.

Namun, keberhasilan tersebut akan kehilangan makna apabila anak-anak Osing suatu hari hanya menjadi pelayan di kampung budayanya sendiri tanpa memahami nilai budaya yang mereka tampilkan kepada wisatawan. Inilah ancaman terbesar dari komersialisasi budaya yang sering luput dibahas.

Kang Edai mengakui bahwa membangun desa melalui pendekatan yang lebih menyeluruh bukan pekerjaan mudah. Bahkan pada tahap awal pelaksanaan program, ia harus menyesuaikan diri dengan sistem yang sama sekali baru.

"Sebagai penggerak DSA saya masih perlu banyak penyesuaian. Saya sempat bingung dengan laporan, koordinasi lintas bidang, dan menyesuaikan program karena desa-desa lain di Jawa Timur sudah lebih dulu menjalankannya. Sampai sekarang pun kami masih terus belajar agar program benar-benar sesuai dengan karakter Kemiren," kata Kang Edai.

Pengakuan tersebut justru memperlihatkan bahwa pembangunan sosial membutuhkan proses belajar yang panjang. Perubahan tidak lahir dari bantuan dana semata, tetapi dari kemampuan masyarakat membangun kebiasaan baru.

Ketika Dunia Datang Belajar kepada Kemiren

Keaslian budaya ternyata menjadi daya tarik yang jauh lebih kuat daripada sekadar kemegahan fasilitas wisata. Kang Edai bercerita bahwa Kemiren tidak hanya dikunjungi wisatawan domestik, tetapi juga peneliti dan akademisi dari berbagai negara.

Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah ketika seorang guru musik asal Chile bernama Vicente datang dan tinggal selama empat hari di Kemiren. Ia sebelumnya belajar gamelan di Solo, kemudian melanjutkan perjalanannya ke Banyuwangi untuk mempelajari musik tradisional Osing secara langsung.

"Vicente sangat tertarik dengan musik Osing. Dia sampai belajar memainkan gendang Banyuwangi bersama saya. Yang membuat saya bangga, mereka datang bukan hanya untuk melihat pertunjukan, tetapi benar-benar ingin belajar budaya kami," ungkap Kang Edai.

Fenomena ini memberikan pelajaran penting. Wisatawan mancanegara tidak datang karena desa memiliki panggung yang megah atau festival yang meriah. Mereka datang karena budaya Osing masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Sawah tetap digarap, musik tradisional masih dimainkan, dan tradisi diwariskan kepada generasi muda.

Bahkan, menurut Kang Edai, semakin banyak media dan perguruan tinggi menjadikan Kemiren sebagai lokasi penelitian. Hal itu menunjukkan bahwa kekuatan utama desa ini bukanlah kemasan wisata, melainkan keaslian budaya yang masih terpelihara.

Membangun Generasi, Bukan Sekadar Destinasi

Pengalaman Desa Sejahtera Astra Kemiren mengajarkan bahwa pembangunan desa tidak boleh berhenti pada penciptaan destinasi wisata. Tujuan akhirnya adalah membangun masyarakat yang berdaya sekaligus bangga terhadap identitas budayanya.

Keberhasilan mengirim delegasi ke forum pariwisata di Kuala Lumpur maupun Tiongkok tentu membanggakan. Namun, penghargaan tersebut seharusnya dipandang sebagai konsekuensi dari budaya yang tetap hidup, bukan sebagai tujuan utama pembangunan.

Pelajaran terbesar dari Kemiren justru terletak pada keberaniannya menempatkan pendidikan sebagai investasi jangka panjang.

Ketika anak-anak mengenal budaya Osing sejak dini, ketika Posyandu ikut membangun kualitas generasi, ketika masyarakat belajar mengelola lingkungan melalui pemilahan sampah dan pupuk organik, serta ketika kewirausahaan tumbuh tanpa menghilangkan jati diri budaya, saat itulah desa sedang membangun masa depannya.

Kemiren membuktikan bahwa pariwisata memang mampu meningkatkan kesejahteraan, tetapi pendidikanlah yang memastikan budaya tidak kehilangan ruhnya.

Jika desa-desa di Indonesia ingin membangun pariwisata yang benar-benar berkelanjutan, ukuran keberhasilannya tidak cukup berhenti pada banyaknya wisatawan yang datang.

Ukuran yang jauh lebih penting adalah seberapa banyak generasi muda yang masih bangga menjadi bagian dari budaya leluhurnya. Sebab, budaya yang hidup di hati masyarakat akan selalu memiliki masa depan, sedangkan budaya yang hanya dipertontonkan perlahan akan kehilangan jiwanya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda