Kolom
Anak SD Tewas Dibully Kakak Kelas: Guru, Sekolah, atau Orang Tua yang Harus Bertanggung Jawab?
Sangat menyedihkan ketika siswa kelas 2 SDN 1 Kebondalem berinisial A (7), Pemalang, Jawa Tengah tewas dengan dugaan menjadi korban perundungan (bullying) oleh kakak kelas. Atas hal tersebut, betapa mirisnya hati keluarga si anak melihat anak meninggal dunia karena bully. Kondisi ini sesungguhnya tidak bisa dibiarkan. Perundungan sudah semakin merajalela di sekolah. Banyak informasi sebelumnya menyatakan bahwa bullying membuat anak stres dan tidak mau sekolah. Sekarang, karena perundungan, seorang anak meninggal dunia.
Banyak pihak yang harus memberi atensi sangat serius mengenai peristiwa ini agar tidak terus berlanjut. Bullying itu harus dilawan bukan dipelihara. Bullying itu merupakan tindakan tak terpuji dan dapat dihindari.
Sekolah Harus Menjadi Sarana Mencegah Perundungan
Kasus bullying yang selama ini banyak terjadi di sekolah merupakan sesuatu yang harus jadi perhatian serius pihak sekolah. Pasalnya, perundungan yang mengakibatkan anak trauma dan ada pula yang meninggal dunia bukanlah peristiwa yang biasa-biasa saja.
Sudah seharusnya sekolah mengambil peran penting dalam pencegahan. Alangkah baiknya sekolah mampu menjadi wadah yang melerai dan memberikan pembinaan bagi anak atau siswa-siswi yang melakukan perundungan terhadap siswa lainnya.
Sudah sepantasnya pelaku perundungan diberikan sanksi agar memberi efek jera dan tidak melakukan tindakan yang sama. Selain itu, guru maupun pihak sekolah harus berani untuk tegas bagi siapa pun siswa-siswi yang melakukan bullying terhadap siswa lainnya. Guru dan pihak sekolah merupakan orang terdekat bagi anak saat proses belajar mengajar berlangsung. Karena itu, guru maupun pihak sekolah harus memahami masalah apa yang sedang dihadapi oleh siswa-siswinya.
Menjadi penting agar kasus bullying ini diberikan perhatian serius oleh pemerintah. Setiap sekolah diingatkan untuk mengawasi dan mengantisipasi segala bentuk tindakan perundungan. Sekolah harus mampu mencegah dan menyelamatkan anak. Sekolah harus jadi ruang terbaik dan ternyaman untuk anak, bukan hanya tempat untuk belajar saja. Kondisi ini harus diketahui oleh semua sekolah agar kasus perundungan yang mengakibatkan anak trauma dan meninggal dunia dapat diatasi.
Jangan biarkan anak maupun siswa-siswi berkonflik dengan teman lainnya. Ciptakan situasi damai dan harmonis selama proses belajar mengajar berlangsung. Berikan edukasi kepada anak untuk mau saling menghargai dan menghormati satu sama lain demi masa depan yang lebih baik.
Orang Tua Harus Membina atau Mendidik Anak dengan Baik
Harapan selanjutnya kita berikan kepada orang tua sebagai sosok terdekat bagi anak. Orang tua tahu segalanya tentang anak dan orang tua pun harus tahu anaknya bila ada masalah maupun konflik dengan anak lainnya sehingga jika hal tersebut terjadi maka berikan pembinaan. Anak harus diajak berbincang dan jujur mengenai masalah atau konflik yang sedang dihadapi.
Orang tua harus tegas pula bila anak bersalah. Cara itu akan sangat membuahkan hasil positif mencegah anak menjadi pelaku maupun korban bullying. Tindakan perundungan jangan dianggap sepele. Orang tua punya peran penting dan harus aktif dalam melawan tindakan bullying. Rumah harus sebagai tempat edukasi menumbuhkan karakter dan kebiasaan untuk menghormati orang lain.
Rumah harus jadi sarana pembinaan cara berpikir dan bertindak bagi anak demi membentuknya menjadi pribadi yang baik, taat, cerdas dan berhasil di masa depan. Kasus kematian anak SD di Pemalang wajib dijadikan pelajaran penting untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkarakter dan berwibawa.
Tugas kita saat ini adalah lebih aktif dalam mengawasi anak dalam beraktivitas. Lebih banyak menanamkan sikap menghargai, kebersamaan dan bertindak sesuai nilai dan norma yang ada. Anak harus dilindungi dari perundungan agar tumbuh kembangnya tetap baik serta menjadikannya calon pemimpin yang punya integritas, moral dan masa depan cerah.