Sebagian besar orang menganggap bila merantau adalah hal yang menyenangkan. Bisa jauh dari orang tua dan bebas ke luar malam tanpa ada yang mengomel, bisa membeli apa saja yang kita sukai sepuasnya tanpa ada gangguan dari orang rumah, serta yang terpenting ialah bisa belajar hidup mandiri.
Tapi, ternyata, di balik suka yang dirasakan oleh anak rantau, ada pula duka yang jarang diketahui oleh orang-orang di luaran sana. Hal-hal duka ini biasanya dirasakan oleh mereka yang telah lama merantau. Bahkan tanpa disadari, hal ini jugalah yang membuat mereka tidak betah dan ingin pulang ke rumah mereka. Kira-kira apa saja, ya?
Berikut beberapa duka yang hanya dirasakan oleh anak rantau.
1. Biaya hidup yang besar
Hal yang pertama ini biasanya jarang diperhatikan serta dipertimbangkan oleh mereka yang hendak pergi merantau. Contoh paling sederhananya, ketika kita merantau, pastinya kita tetap membutuhkan makan untuk sehari-harinya.
Masih mending jika kita pandai memasak yang sekaligus bisa menghemat biaya pengeluaran untuk membeli makanan siap saji yang harganya lebih mahal.
Tapi, bagaimana jika tidak bisa? Ya, boros. Belum lagi, kita harus mengisi bensin, membayar biasa kosan, uang listrik dan air yang harus dibayar setiap bulan, dan lain sebagainya. Bisa-bisa gaji setelah sebuah bekerja ludes dalam sekejap untuk membayar itu semua.
2. Tidak ada yang menjaga ketika sakit
Meskipun kita mengakui mempunyai daya tahan tubuh yang cukup baik, tapi tetap saja ada saatnya kita akan sakit. Jika biasanya di rumah, ada ibu yang menjaga atau menyuapi kita saat makan.
Maka, di kota perantauan, tidak ada. Syukur-syukur jika kita mempunyai teman baik yang siap sedia menjaga kita, tapi jika tidak? Jangankan untuk melakukan aktivitas yang macam-macam, untuk bangun saja terkadang kita kesusahan.
Belum lagi, tidak ada yang memasakkan kita makanan saat sakit. Bahkan, ketika kita memesan makanan secara online pun, kita tetap harus mengeluarkan tenaga untuk mengambil pesanan itu ke depan pintu. Atau, parahnya, yang ada, bisa-bisa kita tidak makan seharian.
3. Semua pekerjaan rumah dikerjakan sendiri
Coba kita bayangkan, setelah seharian bekerja atau berkuliah, kita masih tetap harus membersihkan kosan, menyapu, mengepel, atau mungkin mencuci piring bekas makan. Tentunya, ini adalah hal yang melelahkan. Tidak ada yang membantu.
Bahkan, bisa jadi, kita tidak mempunyai waktu untuk sekadar beristirahat. Beda halnya dengan saat kita di rumah, masih ada orang tua yang membantu kita untuk mengerjakan pekerjaan rumah.
Itu adalah 3 duka yang hanya dirasakan oleh anak perantauan. Apakah salah satunya telah kamu rasakan?