Sahabat Kita sedang Curhat? Jangan Katakan 4 Kalimat Ini!

Syifa Fauzia
Sahabat Kita sedang Curhat? Jangan Katakan 4 Kalimat Ini!
Ilustrasi sahabat (Pexels.com/Anastasia Shuraeva)

Banyak dari kita yang merasa lebih nyaman berbagi perasaan dengan teman baik atau sahabat jika sedang dalam masalah. Hal ini wajar sekali, mengingat sahabat kita adalah salah satu orang yang peduli dengan kita. Selain dapat meringankan perasaan, bercerita dengan sahabat juga bisa memberikan semangat dan membuat perasaan kita menjadi lebih tenang. 

Namun, sayangnya tidak semua orang tahu bagaimana harus merespons seorang sahabat yang sedang curhat. Agar tidak terjadi salah paham dan berakhir saling menyakiti, ada baiknya kita simak beberapa kalimat yang tidak boleh kita ucapkan untuk merespon teman kita yang sedang curhat.

1. "Yah, cuma segitu doang?"

Bayangkan jika yang sedang curhat itu adalah kita, kemudian teman kita justru meremehkan perasaan kita. Kita pasti akan merasa kecewa dengan respon yang terkesan meremehkan tersebut. Begitu pula dengan teman kita, dia pasti makin sedih, hanya saja ia memilih diam dan tidak mempermasalahkan sikap kita. 

2. "Itu mah biasa".

Kita mungkin lebih hebat dan berpengalaman dari pada teman kita, tapi bukan berarti kita boleh meremehkan perasaan sahabat kita. Apalagi saat ia sedang sedih atau terluka perasaanya. 

3. "Aku juga pernah".

Kalimat "aku juga pernah, .." biasanya dilanjutkan dengan kalimat pernyataan yang menyamakan keadaan kita dengan teman kita saat ia sedang curhat. Sebaiknya cari kesempatan lain jika kita ingin menceritakan kejadian yang mirip dengan yang teman kita alami, agar tidak membuatnya kecewa dan memendam perasaan jengkelnya pada kita. 

4. "Aku malah lebih parah lagi".

"Aku malah lebih parah lagi, ", setelah mengatakannya pada teman kita, ia pasti akan langsung terdiam, kemudian terpaksa harus menghentikan curhatnya untuk mendengarkan cerita kita. Jangan heran jika tiba-tiba teman kita menyela pembicaraan kita, lalu mencari alasan untuk pulang agar punya waktu menyendiri diri di rumah. 

Pada intinya, seorang sahabat menceritakan permasalahannya karena dia percaya dengan kita dan ingin mengeluarkan unek-uneknya. Bukannya untuk membandingkan nasibnya dengan kita, nasib bukanlah sebuah perlombaan. Jika kita tidak tahu harus bagaimana untuk meresponnya, tindakan yang paling tepat yang bisa kita lakukan adalah mendengarkan ceritanya secara aktif sampai selesai. Kemudian, barulah tanyakan padanya apa yang ia butuhkan saat ini. Semudah itu.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak