Mencari buku yang pas menjadi awal dari mencintai dunia membaca. Kadang-kadang, kita tidak mencari buku yang terlalu berat, melainkan cerita yang bisa mengisi kesunyian.
Berikut ini lima buku yang menyenangkan untuk dibaca tanpa merasa lelah, namun tetap meninggalkan kesan mendalam setelah dibaca sampai akhir.
1. Pejalan Anarki karya Jazuli Imam

- Judul: Pejalan Anarki
- Penulis: Jazuli Imam
- Genre: Fiksi / Petualangan / Sosial-Politik
Sebuah cerita cinta yang dipenuhi debu jalan raya dan asap gunung. Novel ini menceritakan El, seorang petualang yang melihat perjalanan bukan sebagai cara untuk kabur, melainkan sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem yang kaku. Melalui percakapan di warung kopi pinggir jalan hingga menghadapi dinginnya puncak gunung, Jazuli Imam mengajak kita untuk kembali mempertanyakan arti kebebasan, cinta, dan otoritas diri di tengah dunia yang semakin seragam.
Jika kamu menyukai cerita romantis yang dibalut dengan serunya petualangan dan tajamnya isu sosial-politik, novel ini adalah pilihan yang tepat.
2. Jalan Pulang karya Jazuli Imam

- Judul: Jalan Pulang (Sekuel Pejalan Anarki)
- Penulis: Jazuli Imam
Jika Pejalan Anarki berkisah tentang keberanian untuk pergi dan melawan, maka Jalan Pulang adalah tentang keberanian untuk kembali dan berjumpa lagi. Novel ini menceritakan perjalanan Sekar yang harus menghadapi kenyataan hidup setelah meninggalkan El. Di sini, pembaca diminta untuk memikirkan arti sebenarnya dari "pulang"—bahwa rumah bukan hanya bangunan, melainkan juga sebuah penerimaan. Ini adalah akhir dari seri dwilogi yang penuh perasaan, tetap kritis, namun terasa lebih tenang dan dewasa.
Kedua novel ini adalah satu kesatuan; membaca buku pertamanya tanpa lanjut ke buku kedua akan membuat cerita terasa menggantung. Sekuel ini hadir untuk memberikan klimaks dan pemahaman yang utuh bagi pembaca.
3. Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye

- Judul: Teruslah Bodoh Jangan Pintar
- Penulis: Tere Liye
- Genre: Aksi / Kritik Sosial / Politik
Berbeda dengan judulnya yang terkesan menggugah, novel ini sebenarnya adalah kritik tajam terhadap dunia modern. Tere Liye membawa pembaca ke dalam sebuah kisah penuh teka-teki yang mengungkap bagaimana sistem, perusahaan, dan kekuasaan sering kali justru mempertahankan 'kebodohan' sebagai alat untuk memperoleh keuntungan yang tidak seimbang. Ini bukan hanya sebuah thriller yang menggugah adrenalin, tetapi juga mengajak pembaca untuk lebih waspada terhadap cara informasi di sekitar kita dimanipulasi.
Keduanya memiliki kesamaan, yaitu menantang pembaca untuk mempertanyakan kekuatan dan kestabilan sistem yang ada.
4. Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna

- Judul: Sisi Tergelap Surga
- Penulis: Brian Khrisna
- Genre: Drama / Psychological Fiction / Misteri
Brian Khrisna mengajak pembaca untuk menyelami bagian gelap dari hal-hal yang biasanya kita anggap sempurna. Novel ini membongkar luka masa lalu, rahasia keluarga, serta trauma yang disembunyikan di balik wajah kehidupan yang terlihat indah.
Dengan cerita yang penuh teka-teki, kita akan menyadari bahwa setiap orang memiliki sisi gelap yang mereka sembunyikan, bahkan di tempat yang mereka anggap sebagai surga. Ini adalah kisah tentang betapa pekatnya rahasia-rahasia yang tersimpan di dalam hati manusia.
5. Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring karya dr. Andreas Kurniawan

- Judul: Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring
- Penulis: dr. Andreas Kurniawan
- Genre: Memoar / Psikologi / Self-Reflection
Melalui kegiatan sederhana seperti mencuci piring, dr. Andreas Kurniawan membedah kerumitan rasa duka. Buku ini adalah catatan jujur tentang bagaimana seorang pria—yang juga seorang psikiater—menghadapi kehilangan dan kesedihan. Dengan cara yang sangat manusiawi, penulis menunjukkan bahwa menghadapi kesedihan tidak selalu harus melalui hal besar, melainkan bisa melalui rutinitas kecil yang reflektif. Buku ini seperti pelukan hangat bagi siapa saja yang sedang belajar untuk menerima kehilangan.
Mulai dari perjalanan mendaki gunung hingga pekerjaan sederhana seperti mencuci piring, novel-novel ini mengajarkan bahwa menjadi manusia berarti berani menghadapi dunia, sistem, orang lain, dan yang paling sulit: diri sendiri. Membaca kelima buku tersebut seperti menjalani perjalanan panjang yang tidak terduga untuk menemukan cara "pulang" dan berdamai dengan diri sendiri.