Mobil listrik lagi naik daun dan makin sering terlihat di jalanan, konten media sosial, sampai obrolan sehari-hari, seolah jadi simbol gaya hidup baru yang modern dan ramah lingkungan. Tapi di balik semua hype itu, muncul satu pertanyaan yang cukup mengganjal: apakah EV benar-benar siap jadi solusi masa depan, atau cuma tren teknologi yang lagi ramai?
Buat banyak anak muda, mobil listrik bukan sekadar kendaraan, tapi representasi gaya hidup yang dianggap lebih maju, lebih bersih, dan lebih futuristik. Desain minimalis, fitur digital, dan citra ramah lingkungan bikin EV terasa selaras dengan cara hidup generasi yang tumbuh bersama teknologi.
Namun, tren ini tidak bisa dilihat hanya dari sisi visual dan citra. Mobil listrik juga membawa persoalan besar soal kesiapan sistem, mulai dari infrastruktur, regulasi, sampai kebiasaan masyarakat dalam menggunakan kendaraan sehari-hari.
Di kota besar, EV terasa cukup masuk akal karena akses charging station mulai tersedia dan mobilitas cenderung jarak dekat. Tapi di luar kota, mobil listrik masih terasa “jauh” karena ekosistem pendukungnya belum benar-benar siap.
Fitra Eri pernah menyoroti bahwa persoalan utama mobil listrik bukan ada di produknya saja. “Masalahnya bukan cuma di mobilnya, tapi di regulasi dan infrastrukturnya,” kata Fitra Eri, dikutip dari kanal YouTube Helmy Yahya Bicara.
Tren mobil listrik juga tidak lepas dari masuknya merek-merek global dengan harga yang makin kompetitif. Hal ini membuat EV cepat diterima pasar dan terlihat sebagai simbol kendaraan masa depan yang lebih terjangkau.
Fitra Eri menilai dominasi merek China menjadi faktor penting dalam lonjakan tren ini. “Tiba-tiba China mengeluarkan mobil-mobil listrik yang fiturnya lengkap, nyaman, kualitasnya bagus, dengan harga jauh di bawah,” ujarnya.
Namun, realitas mobil listrik tidak selalu seindah narasi promosinya. Salah satu isu yang jarang dibahas adalah soal depresiasi harga yang terjadi cukup cepat.
“Depresiasi mobil listrik itu besar sekali, ada yang dalam dua sampai tiga tahun bisa tinggal 50 persen harganya,” ucap Fitra Eri. Ini menunjukkan bahwa EV bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal risiko ekonomi jangka panjang.
Dari sisi kelebihan, mobil listrik unggul dalam biaya operasional yang lebih hemat dan perawatan yang lebih sederhana. EV juga nyaman untuk penggunaan harian di kota karena suara mesin yang senyap dan pengalaman berkendara yang lebih halus.
Sebaliknya, mobil bensin unggul dalam kepraktisan pengisian energi. Mengisi bahan bakar bisa dilakukan dalam hitungan menit, langsung penuh, tanpa harus menunggu berjam-jam seperti proses charging pada mobil listrik.
Untuk perjalanan jauh, mobil bensin juga terasa lebih fleksibel dan aman. Infrastruktur SPBU yang merata bikin perjalanan lintas kota tidak penuh kekhawatiran soal kehabisan energi di tengah jalan.
Sementara itu, mobil listrik masih menghadapi keterbatasan jarak tempuh dan waktu pengisian daya. EV jadi kurang ideal untuk perjalanan jauh karena proses pengisian yang lama dan charging station yang belum merata.
Fitra Eri bahkan menilai solusi saat ini bukan berpindah ekstrem ke satu teknologi. “Kalau saya cuma punya satu mobil, definitely saya pilih hybrid,” katanya.