Lifestyle
Komunitas Dermaga Diri: Ruang Aman untuk Pulih dari Luka Batin
Bagi sebagian orang, pulih dari luka batin bukan hanya soal datang ke psikolog. Ada yang memilih memulainya dengan duduk melingkar bersama orang-orang yang baru dikenalnya, menulis isi kepala di buku jurnal, lalu bercerita tanpa takut dihakimi.
Ruang seperti itulah yang ingin dihadirkan Komunitas Dermaga Diri. Di tengah masih terbatasnya akses layanan kesehatan mental di Indonesia, dengan rasio psikolog yang baru mencapai 0,01 per 1.000 penduduk pada 2026 menurut Kementerian Kesehatan, komunitas ini menjadi tempat bagi mereka yang ingin mengenali diri sekaligus menjalani proses pemulihan bersama.
Didirikan pada Oktober 2025, nama Dermaga Diri dipilih sebagai metafora sebuah tempat persinggahan sebelum seseorang "menyelami" dirinya lebih dalam. Layaknya sebuah dermaga, komunitas ini menyediakan ruang refleksi, dukungan, dan berbagai alat yang membantu peserta mempersiapkan diri menghadapi proses pemulihan.
"Dermaga Diri lahir sekitar Oktober 2025. Kami ingin membuat ruang aman bagi orang-orang yang baru mulai mengenal dirinya dan menjalani proses pulih. Kami ibaratkan sebagai dermaga yang menyediakan beragam tools supaya mereka lebih kuat saat menyelami dirinya," ujar Co-founder Dermaga Diri, Tentry Yudvi.
Dalam setiap pertemuan, persoalan yang paling sering muncul adalah kecemasan (anxiety) dan depresi. Latar belakang pesertanya beragam, mulai dari kehilangan orang terdekat yang belum sepenuhnya diterima hingga persoalan relasi dalam keluarga.
"Kebanyakan mereka mengalami anxiety dan depresi. Faktornya bermacam-macam, ada yang pernah kehilangan keluarga tapi belum bisa berdamai, tapi sebagian besar memang berawal dari persoalan di rumah," kata Tentry.
Alih-alih berfokus pada diagnosis, Dermaga Diri membantu peserta memahami diri melalui proses refleksi dan berbagi pengalaman. Menurut Tentry, perjalanan untuk pulih sering kali terasa sunyi sehingga kehadiran komunitas dapat membuat seseorang merasa tidak menjalani proses itu sendirian.
"Pulih itu jalan yang menyakitkan dan memang sepi. Kami ingin jadi ruang aman yang bisa memberi mereka kekuatan," ujarnya.
Setiap sesi dikemas melalui kegiatan journaling dan circle sharing dengan tema yang dekat dengan pengalaman peserta, seperti mengelola kehilangan (grief) atau melepaskan pengalaman yang membebani (letting go). Seluruh kegiatan didampingi psikolog dan praktisi kesehatan mental.
Yang membedakan Dermaga Diri dari forum diskusi pada umumnya adalah pendekatannya. Peserta tidak diminta saling memberi solusi atau nasihat. Mereka justru diajak untuk mendengarkan, memahami, dan menemukan bahwa pengalaman serupa juga pernah dialami orang lain.
"Mereka cukup bercerita. Kami tidak meminta peserta memberi saran. Yang terjadi justru saling mendengar, lalu ada yang berkata, 'Aku juga pernah mengalami hal yang sama'," ujar Tentry.
Kesehatan Mental dan Pola Makan
Cerita-cerita yang muncul di ruang berbagi Dermaga Diri menunjukkan bahwa kesehatan mental tidak hanya memengaruhi pikiran, tetapi juga kebiasaan sehari-hari, termasuk pola makan. Bagi sebagian orang, tekanan emosional, kecemasan, atau stres yang berkepanjangan dapat memicu keinginan makan berlebihan, terutama pada malam hari.
"Stres, kecemasan yang ditekan, atau ada masalah yang belum selesai, yang merespons biasanya bukan perasaan kita, tetapi tubuh. Akhirnya, supaya bisa tidur, tubuh merasa harus makan banyak dulu," ujar psikolog Tosina Sagala.
Kondisi tersebut dikenal sebagai Night Eating Syndrome (NES), yakni gangguan makan yang ditandai dengan konsumsi makanan dalam jumlah besar pada malam hari atau terbangun dari tidur untuk makan sebelum bisa kembali terlelap. Menurut National Center for Biotechnology Information (NCBI), penderita NES umumnya mengonsumsi sedikitnya 25 persen kebutuhan kalori harian setelah makan malam.
Penelitian di sejumlah negara menunjukkan prevalensi NES pada mahasiswa berkisar antara 4,2 persen hingga 23,4 persen. Sementara itu, penelitian terhadap dewasa muda di Pulau Jawa menemukan angkanya mencapai 46,2 persen.
NES juga kerap berkaitan dengan eating disorder yang dapat memunculkan rasa malu, bersalah, hingga rendah diri, terutama ketika seseorang merasa gagal memenuhi standar bentuk tubuh yang diinginkan.
"Habis makan banyak, mereka merasa bersalah. Bahkan ada yang memuntahkannya kembali. Kondisi itu sangat menumbuhkan rasa malu," kata psikolog Dian Junita.
Persoalannya Bukan Sekadar Makanan
Menurut Dian, perilaku makan berlebihan umumnya bukan akar persoalan, melainkan gejala dari tekanan psikologis yang lebih dalam, seperti kecemasan, pengalaman traumatis, atau kesulitan menerima diri sendiri.
"Yang dihadapi sebenarnya bukan hanya soal makanan, tetapi bagaimana seseorang memandang dirinya. Bisa berkaitan dengan perfeksionisme atau standar yang ingin mereka capai," ujarnya.
Senada dengan itu, Tosina mengatakan penanganan perlu dimulai dengan mengenali pemicu yang melatarbelakangi perilaku tersebut. Setelah pemicunya dipahami, individu diajak mengenali pola pikir dan emosi yang muncul agar dapat meresponsnya dengan cara yang lebih sehat.
"Kita perlu memahami dulu apa yang memicu pola pikir itu. Setelah tahu penyebabnya, baru kita bisa membantu mengubah respons ketika dorongan untuk makan muncul," katanya.
Pendekatan Pemulihan
Salah satu pendekatan yang umum digunakan adalah Cognitive Behavioural Therapy (CBT), terapi yang membantu individu mengenali serta mengubah pola pikir dan perilaku yang memicu kebiasaan makan tidak sehat.
"Dalam CBT, kami mengidentifikasi pikiran yang muncul ketika dorongan makan datang, melihat polanya, lalu membantu individu memilih respons yang lebih tepat saat pemicunya muncul," ujar Tosina.
Dian menambahkan, Acceptance and Commitment Therapy (ACT) juga dapat membantu individu menerima emosi yang tidak nyaman tanpa terus menghindarinya.
"ACT membantu seseorang menerima bahwa pengalaman yang menyakitkan memang ada, lalu belajar tetap melangkah sesuai nilai-nilai yang mereka yakini," katanya.
Pendekatan serupa juga diterapkan Dermaga Diri melalui kegiatan refleksi, salah satunya sesi "Melepas Topeng". Dalam kegiatan ini, peserta diajak mengenali berbagai peran dan identitas yang selama ini mereka tampilkan di lingkungan sosial maupun pekerjaan.
"Kami mengurai lapisan-lapisan topeng yang biasa dipakai saat bekerja atau bersosialisasi supaya peserta bisa lebih mengenali dirinya sendiri," ujar Tentry.
Membangun Kesadaran Sejak Dini
Ke depan, Dermaga Diri ingin mendorong semakin banyak anak muda memiliki kesadaran terhadap kesehatan mental, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga agar mampu menjadi sistem pendukung bagi orang-orang di sekitarnya.
"Kami ingin anak muda lebih sadar dengan dirinya sendiri sehingga bisa menjadi support system yang sehat. Orang yang pulih akan lebih mampu membantu orang lain," kata Tentry.