alexametrics

Stafsus Milenial Bagai Bumerang Politik Bagi Presiden Jokowi

Farras Fadhilsyah
Stafsus Milenial Bagai Bumerang Politik Bagi Presiden Jokowi
Presiden Jokowi mengumumkan tujuh staf khusus baru di Istana Merdeka, Jakarta. (Suara.com/Ummi Saleh)

Staf khusus (stafsus) adalah sebuah lembaga non struktural yang diperuntukan untuk memperlancar pelaksanaan tugas presiden, adapun tugas itu adalah tugas tertentu diluar tugas-tugas yang sudah ada didalam kementrian.

Jika dilihat berdasarkan Pasal 1 dan 2 Peraturan Presiden Nomor 17 tahun 2012 tentang Utusan Khusus Presiden, Staf Khusus Presiden dan Staf Khusus Wakil Presiden dan Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 17 tahun 2012 tentang Utusan Khusus Presiden, Staf Khusus Presiden dan Staf Khusus Wakil Presiden menyatakan bahwa staf khusus tugasnya dikoordinasikan dan diberikan dukungan administrasi oleh, dan bertanggungjawab kepada Sekretaris Kabinet.

Di dalam masa jabatan Presiden Jokowi khususnya dalam periode 2019-2024 ada yang berbeda dari line-up staff khusus kepresidenan, di mana Presiden Jokowi memperkenalkan 7 stafsus yang khusus diduduki oleh kalangan milenial. Setelahnya lahirlah istilah stafsus milenial. 
Politik Itu Harapan 
Politik adalah sebuah bisnis harapan dan masyarakat adalah target harapan. Ketika Presiden memperkenalkan mereka, maka masyarakat berharap stafsus itu dapat membantu Presiden.
Dalam konteks ini lebih tepatnya stafsus milenial mendapatkan citra harapan (wish image) dari masyarakat. Frank Jekfins (2003) menyebutkan bahwa Wish Image (Citra Yang Diharapkan) adalah suatu citra yang diinginkan oleh pihak manajemen atau suatu organisasi. Citra yang diharapkan biasanya dirumuskan dan diterapkan untuk sesuatu yang relatif baru, ketika khalayak belum memiliki informasi yang memadai mengenainya. 
Tetapi harapan itu saat ini pupus sudah bagi stafsus milenial, mereka mencederai kepercayaan dan harapan yang tinggi dari masyarakat. Dari kasus pertama yaitu dari stafsus Andi Taufan yang diduga melakukan penyalahgunaan kekuasaan untuk menguntungkan diri sendiri dengan membuat surat perintah kepada pihak kecamatan.
Selain itu ada stafsus Belva Devara yang juga sebagai CEO RuangGuru.com yang masyarkat mempertanyakan mengapa ada salah satu perusahaan yang dipimpin oleh Belva Devara yang menjadi mitra proyek besar negara yaitu Kartu Prakerja.
Stafsus milenial lainnya yang juga menjadi sorotan yaitu Billy Mambrasar di mana bio profil akun LinkedIn nya mengatakan bahwa jabatan yang ia duduki adalah jabatan setingkat dengan menteri. Padahal secara administrasi dan Undang-Undang jelas bahwa staf khusus presiden di bawah dan bertanggung jawab kepada Sekertaris Kabinet. 
Jika kita lihat mayoritas kesalahan stafsus milenial ini adalah kesalahan sebuah etika politik yang di mana seharusnya memiliki moral yang tinggi untuk kepentingan masyarakat bukan untuk kepentingannya diri sendiri.
Menurut Telchman bahwa standar etika baik dalam konteks politik adalah bagaimana politik diarahkan untuk memajukan kepentingan umum. Ada dasar yang fundamental dalam memfungsikan sistem politik yang memadai.
Tetapi saat ini stafsus milenial ini mulai mencederai kepercayaan masyarakat. Bahkan tidak sedikit juga ada lapisan masyarakat yang ingin stafsus milenial ini mengundurkan diri dari jabatannya. 
 
Namun dalam konteks politik maka efek ini tidak bisa dilihat hanya dari konteks individu mereka sendiri, tetapi juga dapat berefek kepada afiliasi politik dari mereka yaitu Presiden Jokowi dan bahkan juga ke perusahaan yang mereka pimpin.
Bahasa kasarnya mereka yang membuat kesalahan, Pak Jokowi juga mendapat malapetakanya. Padahal jika dilihat dari tugas mereka adalah membantu memperlancar pelaksanaan tugas Presiden, tetapi saat ini mereka malah menambah beban politik Presiden Jokowi. Inilah mengapa penulis mengatakan bumerang politik Presiden Jokowi. 
Memperbaiki Situasi
Namun kini nasi sudah menjadi bubur. Secara politik Presiden harus memperbaiki citranya sendiri khususnya dalam lingkup organisasi kepresidenan maupun para stafsus milenial ini untuk memperbaiki citranya sendiri.
Penulis berpendapat ada 2 kemungkinan langkah yang bisa diambil yaitu yang pertama Presiden memecat staf yang bermasalah dan menggantikannya dengan sosok yang lain. Terlebih lagi jabatan ini adaalah jabatan hak proregatif Presiden.
Apabila presiden mengganti staf yang bermasalah tersebut dengan tokoh milenial lain kemungkinan citra Presiden Jokowi secara politik bisa kembali dipulihkan dalam konteks Presiden Jokowi tetap konsisten melibatkan anak muda dalam memajukan negara ini.
Pilihan kedua adalah dengan staf yang bermasalah mundur dari jabatan tersebut dengan alasan karena mereka juga menaungi perusahaan mereka masing-masing yang di mana ketika ia mundur dengan jiwa kesatria maka akan menjadi nilai lebih dan positif dari masyarakat dan juga kepada perusahaan yang mereka duduki. 
 
Pada akhir tulisan ini penulis ingin mengatakan bahwa anak muda adalah generasi harapan dan anak muda akan menjadi pemimpin di masa yang akan datang. Semangat anak muda adalah semangat yang selalu membawa aura yang positif maka jika aura positif itu hadir dalam perpolitikan di Indonesia diharapkan juga akan membuat politik di Indonesia menjadi lebih baik. Stafsus milenial adalah resepresentatif anak muda seluruh Indonesia, maka jangan ciderai semangat anak muda Indonesia. 
 
Penulis: Muhammad Farras Fadhilsyah (Mahasiswa Universitas Al-Azhar Indonesia & Anggota Kelompok Kajian Mahasiswa Kopi Malam)

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak