Gotong Royong Membangun Kembali Sumatra dan Aceh yang Diterjang Banjir

M. Reza Sulaiman | Nur Annisa Hamid
Gotong Royong Membangun Kembali Sumatra dan Aceh yang Diterjang Banjir
Membangun Jembatan terdampak Banjir Sumatra 2025. (Sumber : suara.com)

Akhir November lalu, saya membaca berita yang mengagetkan, yaitu terjadi bencana alam banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Berita ini mengingatkan saya akan peristiwa tsunami tahun 2004 yang terjadi di provinsi yang sama. Setelah membaca berita ini, tentu ada perasaan sedih dan prihatin akan nasib masyarakat di sana.

Setiap hari korban terus bertambah, apalagi aliran listrik, air bersih, dan telekomunikasi terputus sehingga masyarakat makin terisolasi. Mereka membutuhkan bantuan segera seperti pakaian, makanan, obat-obatan, selimut, perlengkapan bayi, dan lain-lain. Masyarakat pun segera menggalang donasi dengan berbagai cara dengan melibatkan berbagai kalangan. Donasi dengan cepat terkumpul hingga puluhan bahkan ratusan miliar rupiah yang segera didistribusikan melalui bantuan pemerintah lewat jalur udara.

Saya ikut berdonasi dengan mengumpulkan jersey lari hingga dua puluh potong untuk didonasikan kepada masyarakat yang membutuhkan pakaian bersih dan cepat kering. Kepedulian berbagai komunitas dan kalangan membuat saya kagum bahwa masyarakat Indonesia masih memiliki semangat gotong royong yang tinggi untuk membantu sesama yang membutuhkan.

Sebulan setelah berita bencana Sumatra, kondisi sudah berangsur membaik. Berita tidak lagi hanya menyedihkan, tetapi juga memperlihatkan semangat masyarakat, pemerintah, organisasi masyarakat, dan lembaga nonprofit untuk bekerja sama membangun kembali.

Untuk membangun infrastruktur, dibutuhkan kerja sama berbagai pihak dan proses yang tidak sebentar. Banyak fasilitas yang perlu dibangun untuk mempermudah distribusi bantuan, seperti jembatan, jalan raya, gardu listrik, sarana air bersih, menara telekomunikasi, dan lainnya. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memiliki komitmen untuk menyediakan air bersih dan sanitasi bagi masyarakat yang terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang.

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah memulai pekerjaan pengeboran air baku yang tersebar di 24 titik di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat layanan air bersih darurat pascabencana banjir bandang, sekaligus mendukung pemulihan kondisi sosial dan kesehatan masyarakat.

Salah satu infrastruktur penyediaan air bersih yang telah berfungsi kembali adalah Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) IKK Rantau. SPAM IKK Rantau merupakan salah satu SPAM prioritas di Kabupaten Aceh Tamiang dengan kapasitas existing 40 liter per detik dan berfungsi melayani masyarakat di Kecamatan Rantau dan sekitarnya. Pada saat bencana, sejumlah komponen SPAM Rantau terdampak, antara lain tanggul di sekitar kompleks Instalasi Pengolahan Air (IPA), bangunan intake, reservoir, hingga sistem pompa dan panel listrik.

Penanganan SPAM Rantau menjadi bagian dari rangkaian upaya Kementerian PU dalam memastikan pemulihan layanan dasar pascabencana di Aceh Tamiang, sejalan dengan dukungan penyediaan air bersih melalui IPA mobile, mobil tangki air, sumur bor, dan hidran umum selama masa tanggap darurat.

Selain air bersih, pemulihan infrastruktur nasional seperti jalan dan jembatan juga penting dilakukan. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Direktorat Jenderal Bina Marga terus mempercepat penanganan infrastruktur jalan nasional di Provinsi Aceh pascabanjir bandang. Salah satu ruas yang telah kembali fungsional adalah ruas Meureudu—Batas Kabupaten Pidie Jaya/Bireuen setelah oprit Jembatan Meureudu yang sempat runtuh selesai diperbaiki. Jembatan Meureudu telah kembali fungsional sejak 12 Desember 2025 setelah dilakukan penanganan penimbunan dan perbaikan pada oprit jembatan.

Kehadiran pemerintah yang diwakili oleh Kementerian PU membawa harapan untuk bangkit dan pulih setelah bencana alam. Hal ini diungkapkan oleh Muhammad Ichasm, Pembina Yayasan Darul Mukhlisin. Saat banjir terjadi, proses belajar sedang berlangsung. Para santri lalu naik ke tempat tinggal pemilik yayasan sehingga masih bisa terselamatkan. Kayu-kayu hanya berputar di depan masjid dan pesantren sehingga desa di belakangnya terhindar dari banjir yang lebih parah. Beliau berharap proses belajar-mengajar bisa kembali normal dengan bantuan Kementerian PU.

Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PU kemudian bekerja mempercepat pembersihan dengan menambah jam kerja hingga dua shift. Pihak lainnya juga turut membantu seperti BNPB, TNI/Polri, dan Kementerian Kehutanan. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat, pemerintah, dan aparat bisa bersinergi untuk membangun infrastruktur serta harapan untuk pulih kembali. Semoga ini bisa menjadi inspirasi untuk bangkit di daerah lainnya dan tahun depan semua kegiatan berjalan normal di tiga provinsi yang terdampak bencana.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak