Mengenal Legenda Putri Mandalika di Balik Tradisi Bau Nyale 2026 di Lombok Tengah

M. Reza Sulaiman | Dave David
Mengenal Legenda Putri Mandalika di Balik Tradisi Bau Nyale 2026 di Lombok Tengah
Mencari nyale (cacing berwarna) di Pantai Seger, Lombok. (foto/valsatravel.com)

Semangat pesta rakyat kembali menyelimuti kawasan selatan Pulau Lombok. Setelah melalui penantian panjang dan perhitungan adat yang cermat, puncak perayaan Festival Bau Nyale 2026 akhirnya dipastikan akan berlangsung pada akhir pekan ini, tepatnya tanggal 7 dan 8 Februari 2026.

Kepastian jadwal ini didapatkan setelah para tokoh adat Sasak menggelar ritual Sangkep Warige untuk membaca tanda-tanda alam. Keputusan tanggal tersebut diambil berdasarkan perhitungan siklus bulan dan kemunculan bintang yang menjadi penanda keluarnya cacing laut (nyale). Ribuan masyarakat dan wisatawan diprediksi akan tumpah ruah memadati kawasan Pantai Seger, yang menjadi pusat utama ritual ini, serta menyebar ke titik penyangga seperti Pantai Tanjung Aan dan Selong Belanak.

Menjemput Jelmaan Putri Mandalika

Antusiasme masyarakat tidak lepas dari akar budaya yang mendalam. Mengutip ulasan budaya dari The Lombok Guide, tradisi ini bukan sekadar pesta menangkap cacing, melainkan sebuah penghormatan sakral terhadap Legenda Putri Mandalika. Masyarakat Sasak meyakini bahwa nyale yang muncul setahun sekali ini adalah jelmaan tubuh sang putri yang mengorbankan dirinya ke laut demi mencegah perang saudara antarpangeran yang memperebutkannya.

Fenomena ini menjadi magnet luar biasa. Sebagaimana dilaporkan oleh Authentic Indonesia, warga lokal memercayai bahwa cacing-cacing berwarna-warni ini membawa kesuburan dan keberkahan bagi sawah ladang mereka sehingga prosesi penangkapan yang dilakukan dini hari nanti akan terasa sangat emosional dan penuh semangat kebersamaan.

Akses Jembatan Tuntas, Konektivitas Lancar

Kabar baik bagi wisatawan yang hendak berkunjung datang dari sektor infrastruktur. Akses menuju lokasi acara tahun ini dipastikan jauh lebih lancar dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Lombok Tengah, Sadimin, dalam keterangannya menegaskan bahwa perbaikan Jembatan Desa Mekarsari yang sempat putus akibat banjir pada awal 2025 telah dikebut pengerjaannya.

Jembatan vital yang menghubungkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika dengan Pantai Selong Belanak ini ditargetkan rampung total pada akhir 2025 lalu. "Jembatan ini merupakan jalur cukup padat dan vital, apalagi menjadi akses utama ke Sirkuit Mandalika," ujar Sadimin, memastikan bahwa mobilitas pengunjung pada malam puncak Bau Nyale 2026 tidak akan terhambat oleh kendala infrastruktur.

Hiburan Meriah dan Fokus Kebersihan

Untuk memeriahkan suasana sebelum ritual inti dimulai, pemerintah daerah telah menyiapkan panggung hiburan rakyat. Melansir pemberitaan Suara NTB, grup band papan atas, Geisha, dijadwalkan akan tampil menghibur pengunjung di Pantai Seger, menambah semarak suasana malam panjang di pesisir selatan.

Namun, di tengah kemeriahan tersebut, aspek kebersihan menjadi sorotan utama. Tidak ingin mengulang tumpukan sampah pascaacara tahun-tahun sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Tengah telah bergerak cepat. Kepala DLH Lombok Tengah, Lalu Sarkin Junaidi, menjelaskan bahwa pihaknya menyiapkan skema "Satgas Kebersihan" khusus.

"Kami menyiapkan satu kontainer bak sampah atau TPS di dekat area panggung utama perayaan," tegas Lalu Sarkin. Selain itu, sebanyak 50 personel kebersihan dan dua armada truk disiagakan untuk melakukan pembersihan cepat (rapid cleanup) segera setelah massa bubar demi menjaga citra pariwisata Mandalika tetap prima.

Pengamanan Diperketat

Demi menjamin keamanan ribuan pengunjung, aparat gabungan juga telah disiagakan. Berdasarkan data yang dihimpun dari Antara News, sebanyak 477 personel gabungan TNI-Polri akan diterjunkan untuk mengamankan jalannya festival, mulai dari pengaturan lalu lintas di pintu masuk Mandalika hingga pengawasan di bibir pantai saat masyarakat berebut nyale.

Bagi Anda yang berencana hadir, pastikan untuk datang lebih awal guna menghindari kemacetan, membawa peralatan jaring (sorok), dan tentu saja, turut menjaga kebersihan pantai agar legenda Putri Mandalika tetap lestari dalam keindahan alam yang terjaga.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak