Dunia perkuliahan tentu jauh berbeda dengan saat kita berada di bangku sekolah. Hal itu terlihat jelas, misalnya, mulai dari sistem peringkat. Ketika sekolah, setiap kenaikan kelas, semua murid akan mendapatkan peringkat sesuai dengan apa yang diusahakannya. Jika usahanya maksimal dalam belajar dan aktif di kelas, ia akan mendapat peringkat terbaik.
Namun, jika telah menjadi mahasiswa, kita akan mendapatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di setiap akhir semesternya. Nilai mata kuliah dari sebuah IPK hanya sebatas huruf, seperti A, B, C, D, dan E.
Dalam menempuh suatu pendidikan, seseorang akan mendapatkan tugas setiap hari dari pengajar yang tujuannya untuk melatih memori ingatan terhadap materi yang telah disampaikan di dalam kelas. Bagi sebagian orang, mendapatkan tugas mata pelajaran atau kuliah akan membuatnya stres karena menganggap belajar hanya berlaku di sekolah, bukan di rumah. Padahal, rumah merupakan tempat untuk beristirahat dan berkumpul bersama keluarga. Namun, ada juga sebagian orang yang menganggap tugas tersebut sebagai titik awal untuk menjadi orang sukses di masa depan.
Usaha memang tidak akan mengkhianati hasil. Jika usaha yang kita keluarkan minim, maka bersiaplah mendapatkan hasil yang kurang maksimal. Namun, ada kalanya kita telah berusaha semaksimal mungkin, tetapi hasilnya tidak seperti yang dibayangkan. Mungkin memang jalan keberhasilannya bukan di situ.
Bisa jadi seseorang tidak diberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang sesuai ekspektasi agar ia tetap mencobanya kembali tanpa putus asa. Kegagalan tersebut bukanlah hal yang membuat kita harus malu. Justru dari kegagalan, kita harus belajar agar menjadi lebih baik lagi.
Jika tugas di sekolah membuat siswa mendapatkan nilai secara langsung, berbeda dengan saat kuliah. Dosen sering kali tidak memberi tahu besaran nilai dari sebuah tugas yang telah dikerjakan; mereka akan memberikan nilai di akhir saja. Maka dari itu, tidak jarang kita melihat banyak mahasiswa yang mengerjakan tugas kuliah seadanya.
"Yang penting mengerjakan daripada tidak sama sekali. Baik itu sempurna atau tidak, setidaknya sebelum tenggat (deadline) sudah dikumpulkan."
Tugas dari dosen kemungkinan besar berupa pembuatan makalah atau presentasi terkait topik materi yang diangkat. Mahasiswalah yang mencari materinya di setiap jurnal, artikel, atau buku, lalu mereka juga yang memaparkan materi tersebut kepada teman sekelasnya. Di akhir pemaparan materi, dosen akan memberikan pembahasan singkat serta sesi tanya jawab bagi mahasiswa yang ingin bertanya. Begitulah siklus belajar di dunia perkuliahan.
Namun, ada juga mata kuliah yang mengharuskan mahasiswa membuat sebuah proyek. Misalnya, bagi yang berkuliah di jurusan jurnalistik, mereka dilatih untuk membuat sebuah program TV atau radio bersama teman sekelompoknya. Nah, proyek mata kuliah tersebut bisa menjadi pertimbangan dalam dunia kerja nanti. Sebut saja proyek yang berbasis mata kuliah ini adalah fake project. Fake project tersebut dapat kita cantumkan di dalam portofolio ketika akan melamar magang, sukarelawan (volunteer), atau bahkan kerja nanti.
Jadi, bagi yang beranggapan bahwa tugas mata kuliah dari dosen itu tidak penting, hal itu salah besar. Sebenarnya, pembuatan makalah dan presentasi di kelas juga bisa melatih Anda untuk berpikir kritis dan cekatan dalam mengetik.
Untuk Anda yang saat ini masih menjadi mahasiswa, manfaatkanlah waktu belajar ini dengan sebaik mungkin. Mengerjakan tugas dari dosen artinya kita sudah menghormati orang yang telah berjasa memberikan ilmu yang bermanfaat. Berperilaku baik tentu tidak akan membuat seseorang merugi. Satu hal yang perlu diingat: otak seseorang itu ibarat sebuah pisau, semakin diasah akan semakin tajam. Begitu pula dengan otak; jika sering digunakan untuk berpikir, maka akan memperluas wawasan dan membentuk pola pikir kritis (critical thinking).