Tas Siaga Bencana: Kunci Kesiapsiagaan Inklusif untuk Disabilitas dan Keluarga

M. Reza Sulaiman | Vicka Rumanti
Tas Siaga Bencana: Kunci Kesiapsiagaan Inklusif untuk Disabilitas dan Keluarga
Ilustrasi orang membawa tas siaga (Freepik/freepik)

Di tengah kondisi alam yang terus berubah, kesiapsiagaan menjadi kebutuhan yang perlu diperhatikan. Salah satu pesan penting yang sering terlupakan adalah untuk melakukan persiapan matang dan upaya simulasi evakuasi, terutama bagi teman-teman disabilitas Apa itu?

Kasihan, Unit Layanan Inklusi Disabilitas (LIDi) menjelaskan urgensi memiliki Tas Siaga Bencana. Tas ini tidak harus mewah atau bermerek karena fungsinya bukan sekadar wadah pakaian, melainkan sebagai sistem pendukung kehidupan ketika tiba-tiba terjadi bencana.

"Tas siaga itu adalah, sebenarnya ada sebuah tempat yang bisa membawa barang-barang kebutuhan urgent, kebutuhan penting kita setiap hari untuk mendukung keselamatan. Kita kalau berbicara tas siaga itu, sebenarnya tidak harus berupa tas betulan. Misalnya, oh punya kita karung. Ya sudah, tidak apa-apa. Kita punyanya kantong, tapi kuat. Ya sudah, itu dipakai saja. Tetapi memang referensinya adalah wadah atau tempat yang lebih aman, terutama dari air," terangnya dalam diskusi daring Lunch Talk yang digelar oleh Gelitik pada Rabu (4/2/2026).

Komponen Penyelamat Nyawa

Ia menjelaskan ada beberapa komponen krusial wajib masuk dalam daftar, yakni:

  • Kesehatan: Prioritas utama yang harus dimasukkan dalam tas adalah obat-obatan pribadi.
  • Kebutuhan dasar: Air minum, makanan tahan lama, dan pakaian secukupnya.
  • Alat penanda keberadaan: Peluit untuk memberi penanda suara dan senter sebagai penanda cahaya. Ini sangat diperlukan bagi teman-teman disabilitas yang membutuhkan sinyal berupa suara atau cahaya.
  • Dokumen: Surat-surat berharga yang telah dilindungi plastik kedap air.

Komponen-komponen itu saja belum cukup, karena kesiapan fisik tanpa rencana komunikasi juga akan berujung kepanikan ketika terjadi bencana.

Langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah melakukan diskusi untuk kesepakatan keluarga ketika secara tiba-tiba terjadi situasi darurat. Di saat seperti itu, setiap anggota keluarga harus tahu tugasnya, mulai dari yang membawa tas, yang membantu anggota keluarga dengan kebutuhan tertentu, hingga mengetahui jalur evakuasi yang harus ditempuh.

Tas Siaga yang sudah disiapkan tadi juga harus dicek secara berkala. Kasihan mengingatkan setiap tiga bulan sekali, isinya harus diperiksa. Makanan dan obat-obatan pasti memiliki masa kedaluwarsa. Oleh karena itu, kita tidak boleh lupa.

Sementara itu, dokumen fisik juga bisa saja rusak karena tas terlalu lembap atau terdapat gangguan hama. Pastikan isi tas tetap bisa dimanfaatkan apabila terjadi bencana secara tiba-tiba.

Rencana Evakuasi Inklusif

Bagi keluarga dengan anggota disabilitas, pembagian tugas harus jelas dan jalur evakuasi harus sudah disepakati. Bila perlu, lakukan simulasi untuk menanggulangi bencana yang mungkin rawan terjadi.

Terakhir, Kasihan mengingatkan penyandang disabilitas untuk memahami sistem peringatan dini dan berani merespons tanda-tanda alam secara mandiri sebelum bantuan datang. Simulasi evakuasi bukan sekadar latihan formalitas, melainkan sebuah cara tubuh mengingat apa yang harus dilakukan ketika benar-benar terjadi bencana.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak