Pendidikan Tanpa Ketegasan: Dilema Jadi Guru di Zaman Mudah Tersinggung

M. Reza Sulaiman | Budi Prathama
Pendidikan Tanpa Ketegasan: Dilema Jadi Guru di Zaman Mudah Tersinggung
Ilustrasi seorang Guru. (Pixabay/@Pezibear)

Kalau kita buka Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, isinya terdengar sangat ideal. Pendidikan digadang-gadang sebagai jalan membentuk manusia Indonesia yang beriman, berakhlak, cerdas, kreatif, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab. Pendeknya, pendidikan diminta mencetak manusia seutuhnya, bukan sekadar lulusan bersertifikat.

Masalahnya, di lapangan, cita-cita itu sering berhenti di lembar undang-undang. Pendidikan seolah disederhanakan menjadi urusan sekolah, bahkan lebih sempit lagi: urusan guru. Begitu ada masalah pada anak, guru yang pertama kali dicari. Padahal, mendidik anak itu kerja kolektif. Orang tua, lingkungan, dan masyarakat ikut memegang peran penting. Anak tidak lahir di sekolah, ia tumbuh pertama kali di rumah.

Ironisnya, kolaborasi antara guru dan orang tua justru makin rapuh. Kepercayaan yang seharusnya menjadi fondasi pendidikan pelan-pelan terkikis. Guru diharapkan mendidik dengan sepenuh hati, tetapi ruang geraknya semakin sempit. Ketika ruang itu ditutup, pendidikan berubah jadi rutinitas formal: datang, mengajar, pulang, tanpa jiwa.

Hari ini, guru hidup di tengah masyarakat yang sensitifnya setipis tisu. Sedikit keras dianggap kasar. Sedikit tegas dibilang tidak ramah anak. Guru tidak boleh marah, tidak boleh menghukum, tidak boleh menaikkan suara. Padahal, mendidik tanpa ketegasan ibarat menanam pohon tanpa ajir: tumbuhnya miring, lalu disalahkan angin.

Tugas guru pun kini berlipat ganda. Selain mengajar, mereka diminta memastikan perilaku siswa baik, kesehatan mental terjaga, administrasi rapi, dan komunikasi dengan orang tua berjalan mulus. Semua itu dilakukan sambil terus diawasi. Setiap kata harus ditimbang, setiap gestur rawan ditafsirkan. Salah sedikit, bisa viral. Salah paham sedikit, bisa panjang urusannya.

Ketegasan yang dulu dianggap bagian wajar dari pendidikan karakter kini sering dicurigai sebagai bentuk kekerasan. Kepedulian yang tulus pun tak luput dari prasangka. Guru seperti berjalan di atas tali tipis: maju salah, mundur salah, diam pun tetap berisiko. Tak heran jika banyak guru akhirnya memilih aman, yakni diam, tidak menegur, dan tidak terlibat terlalu jauh.

Padahal, di satu sisi, guru juga dituntut peduli. Diminta memahami kondisi anak, mendekat secara emosional, dan hadir sebagai pendamping. Namun, lucunya, kepedulian itu sendiri kini menjadi ladang ranjau. Sentuhan kecil untuk menenangkan bisa dipersoalkan. Percakapan pribadi bisa disalahartikan. Niat baik rawan berubah jadi masalah besar.

Lebih berat lagi, guru seolah dituntut menjadi manusia tanpa cela. Tidak boleh salah, tidak boleh lelah, tidak boleh emosi. Padahal, guru juga manusia. Mereka bisa khilaf, bisa salah ucap, bisa salah membaca situasi. Ironisnya, di kelas guru mengajarkan bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Namun, di luar kelas, guru justru tidak diberi ruang untuk salah.

Dulu, guru bekerja dengan rasa aman. Masyarakat percaya bahwa guru mendidik dengan niat baik. Sekarang, rasa aman itu menyusut. Yang tersisa justru kecemasan: takut disalahpahami orang tua, takut dipotong videonya tanpa konteks, takut niat baik dianggap pelanggaran. Ketakutan ini nyata dan pelan-pelan membunuh keberanian guru untuk terlibat lebih jauh dalam pembentukan karakter siswa.

Kalau pendidikan ingin benar-benar maju, ada satu hal yang harus dikembalikan: kepercayaan. Pendidikan tidak tumbuh dari rasa takut. Ia tumbuh dari kolaborasi antara guru, orang tua, dan siswa. Tanpa kepercayaan, pendidikan hanya jadi rutinitas kosong yang sibuk, tetapi dangkal.

Orang tua perlu berhenti memosisikan guru sebagai pihak yang selalu patut dicurigai. Pemerintah juga perlu berhenti membebani guru dengan tuntutan tanpa perlindungan. Guru tidak meminta dipuja, mereka hanya ingin dipercaya. Diberi ruang untuk tegas, untuk peduli, dan untuk belajar dari kesalahan.

Di tengah zaman yang mudah tersinggung ini, mungkin kita perlu berhenti menuding dan mulai memahami. Sebab, pendidikan tidak akan pernah sehat jika para gurunya hidup dalam ketakutan. Dan di balik segala keterbatasannya, guru tetaplah mereka yang dengan sabar menanam karakter, sambil berharap hasilnya tumbuh jauh setelah mereka lelah.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak