Apa Itu DARVO? Memahami Cara Pelaku Pelecehan Memutarbalikkan Fakta

M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
Apa Itu DARVO? Memahami Cara Pelaku Pelecehan Memutarbalikkan Fakta
Mohan Hazian (Instagram/mohanhazian)

Kasus dugaan isu kekerasan seksual yang viral dan menyeret nama Mohan Hazian, pemilik brand lokal Thanksinsomnia, menimbulkan banyak diskusi di media sosial. Terlebih setelah Mohan menyampaikan klarifikasi, sikapnya tersebut mulai dianalisis oleh publik.

Isu ini awalnya mencuat melalui unggahan seorang perempuan di platform X yang mengaku mengalami tindakan tidak pantas usai menjadi talent dalam sesi pemotretan untuk brand fashion lokal. Mohan dituding sebagai pelaku yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Kasus ini pun viral dan terus menjadi pembahasan hangat hingga netizen mulai menyoroti adanya indikasi pola respons pelaku yang mengarah pada strategi psikologis DARVO, yaitu penyangkalan, penolakan, dan penyerangan balik.

Pola ini bukan pembenaran perbuatan, tetapi penting dipahami sebagai bagian mekanisme psikologis yang sering muncul dalam kasus kekerasan seksual. Lalu, apa itu DARVO? Mari kita bahas lebih lanjut.

Apa Itu DARVO?

DARVO merupakan kerangka analisis untuk memahami respons atas tuduhan kekerasan seksual yang diperkenalkan oleh psikolog Jennifer Joy Freyd pada tahun 1997. Konsep ini menyoroti respons pelaku atas tuduhan kekerasan.

Dalam konsep DARVO, ada unsur Deny, Attack, dan Reverse Victim and Offender yang menjadi dasar pemahaman untuk menilai perilaku manipulatif dari pelaku kekerasan atau pelecehan.

Deny mengarah pada penyangkalan saat pelaku membantah semua tuduhan, seolah-olah kejadian tidak pernah terjadi. Unsur Attack diindikasikan pada sikap pelaku yang kemudian menyerang kredibilitas, integritas, atau motivasi korban.

Sementara itu, Reverse Victim and Offender merupakan usaha pelaku untuk membalikkan posisi dengan mencoba menempatkan dirinya sebagai korban dari tuduhan yang sebenarnya diarahkan kepada dirinya.

Strategi ini sering muncul dalam dinamika kekerasan, pelecehan, atau manipulasi psikologis lainnya, terutama ketika pelaku merasa terancam oleh pengungkapan atau konsekuensi sosial.

Bukan sekadar trik komunikasi, DARVO juga diteliti sebagai pola defensif tentang cara pelaku sering kali mengelak dari tanggung jawab sambil mengalihkan rasa simpati publik, yang justru memperburuk situasi korban.

Kasus Dugaan Pelecehan Seksual yang Menyeret Mohan Hazian

Dalam kasus yang muncul pada awal Februari 2026, nama Mohan Hazian tiba-tiba menjadi trending setelah utas tentang dugaan pelecehan seksual beredar di media sosial melalui unggahan pengguna platform X dengan akun @aarummanis.

Ia menceritakan pengalamannya tentang kejadian yang terjadi saat sesi foto pada Mei 2025 untuk Thanksinsomnia milik Mohan. Hanya dalam hitungan hari, unggahan tersebut viral dan muncul reaksi berantai dari sejumlah orang yang menyampaikan pengalaman serupa.

Salah satu respons yang muncul dari pihak terduga pelaku ikut menjadi sorotan. Mohan, yang sempat membuat video klarifikasi yang sekarang sudah dihapus, menyampaikan bantahan yang menegaskan bahwa tuduhan itu tidak berdasar serta merugikan nama baik, brand, dan keluarga.

Namun, kasus yang semakin memanas dan hujatan netizen tampaknya mendorong pihak brand mengambil langkah administratif dengan mengeluarkan Mohan dari brand miliknya sendiri, sambil menekankan bahwa persoalan ini merupakan isu pribadi.

Bagaimana DARVO Bisa Terlihat di Respons Publik?

Dalam banyak kasus kekerasan seksual yang dibahas di ruang publik, respons pelaku yang langsung membantah, kemudian menyatakan bahwa tuduhan itu salah atau merugikan dirinya, bisa dilihat sebagai salah satu wujud DARVO.

Terutama jika disertai serangan terhadap kredibilitas korban atau upaya membalikkan opini publik, respons semacam ini pada akhirnya akan memicu kritik dari netizen karena berpotensi memperburuk rasa trauma korban.

Pada akhirnya, DARVO bisa membuat korban merasa tidak dipercaya, mengintimidasi orang lain yang ingin bersuara, serta mengalihkan perhatian dari isu utama dan mengaburkan fokus dari langkah penanganan yang tepat.

Mengapa Penting Memahami Pola DARVO?

Memahami DARVO akan membantu kita sebagai bagian dari masyarakat untuk membedakan respons defensif pelaku dari proses hukum yang objektif, serta memberi ruang aman bagi korban untuk bersuara tanpa dikucilkan.

Di sisi lain, pemahaman pola ini juga mampu mengurangi efek manipulasi emosional yang menyudutkan korban hingga mendorong diskusi publik yang sehat dan berpihak pada perlindungan hak asasi manusia.

Ini bukan soal "siapa menang di media sosial", melainkan tentang memastikan proses keadilan tetap berjalan dengan transparan dan sensitif terhadap dampak psikologis pada korban.

Terlebih saat cerita menyebar dengan masif di media sosial, respons publik akan sangat beragam. Namun, penting untuk diingat bahwa isu yang ada masih memerlukan penanganan hukum sebab viralitas tidak bisa menggantikan proses hukum yang sah.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak