Dalam menyambut Prapaskah, kita diajak tidak saja merenungkan kematian dan kebangkitan Kristus, tetapi juga kekudusan hidup kita sebagai umat Kristen. Banyak orang Kristen saat ini merasa dekat dengan anugerah keselamatan dan kasih Allah, namun saat bicara tentang kekudusan pribadi — hidup yang terpisah dari dosa dan semakin serupa dengan Kristus — seringkali terasa jauh atau masih kompromi dengan dosa.
Hal inilah yang menjadi inti dari The Hole in Our Holiness karya Kevin DeYoung, yang berupaya menjawab tiga pertanyaan mendasar:
- Apa artinya menjadi kudus?
- Mengapa kita harus peduli akan kekudusan?
- Bagaimana cara kita berubah menjadi lebih kudus?
Inti Pokok yang Dibahas di Buku
Secara garis besar, Kevin DeYoung mengajak pembaca untuk kembali memahami kekudusan secara alkitabiah, bukan sekadar moralitas umum atau daftar aturan, tetapi sebagai buah nyata dari keselamatan dan kehidupan di dalam Kristus.
1. Definisi Kekudusan yang Alkitabiah
Kevin menegaskan bahwa sering orang Kristen tidak benarbenar memahami apa itu kekudusan. Kekudusan bukan sekadar pantangan moral atau memilih-milih, kadang patuh, kadang kompromi, namun perubahan batin yang ditandai oleh pembaruan citra Allah di dalam kita, hasil pertumbuhan kita dalam hidup bersama Kristus.
2. Kekudusan Bukan Hanya Moralistik Tapi Transformatif
Ia membedakan apa kekudusan itu bukan dan apa itu: bukan sekadar mematuhi aturan moral, bukan sekadar peniruan tradisi generasi sebelumnya, atau sekedar spiritualitas umum; melainkan transformasi hidup dari duniawi menuju kehidupan yang memancarkan karakter Allah.
3. Kekudusan dan Injil: Keduanya Tak Terpisahkan
Kevin juga menekankan bahwa kekudusan adalah buah dari Injil, bukan prestasi diri semata. Kita tidak hanya diselamatkan dari dosa, tetapi juga diselamatkan untuk hidup kudus. Kekudusan sejati muncul ketika orang Kristen dipenuhi dengan kasih karunia Allah yang memampukan kita untuk hidup dalam ketaatan.
4. Peran Praktik Rohani
Buku ini juga menyentuh praktikpraktik rohani penting seperti doa, firman Tuhan, persekutuan, dan perjamuan suci sebagai sarana yang membantu kita “tinggal di dalam Kristus” dan memungkinkan pertumbuhan dalam kekudusan.
Kelebihan Buku
Buku ini ringkas, padat, dan mudah dicerna. Kevin DeYoung berhasil mengembalikan fokus kekudusan pada Injil, bukan sekadar moralitas belaka. Tulisan yang jelas dan langsung membuat pembaca bisa mencermati lubang-lubang dalam kehidupan kekudusan mereka dan termotivasi untuk berubah.
Kekurangan Buku
Beberapa kritik menyoroti bahwa buku ini kadang kurang memberi contoh konkret atau kasus nyata, sehingga pembaca mungkin sulit membayangkan penerapan praktisnya. Selain itu, asumsi teologis tertentu dapat membuat pembaca yang belum matang secara teologis merasa kurang mendapat konteks penuh.
Penutup
The Hole in Our Holiness mengajak kita merenungkan kembali hidup kudus dalam menghadapi Prapaskah. Kekudusan bukan sekadar formalitas, tapi buah nyata dari iman yang hidup. Kevin DeYoung menantang setiap orang Kristen untuk memeriksa diri, memperbaiki kekurangan, dan hidup seturut Kristus. Buku ini relevan untuk siapa pun yang ingin menghidupi iman secara mendalam dan transformatif.
Kesimpulan
Buku ini menekankan bahwa kekudusan adalah panggilan alkitabiah yang nyata, bukan teori atau moral semata. Dengan memahami apa itu kekudusan, mengapa penting, dan bagaimana mencapainya, pembaca mendapat panduan praktis untuk hidup lebih dekat dengan Kristus.