Menahan Amarah Saat Main Game: Ujian Kesabaran Ramadan

M. Reza Sulaiman | Irhaz Braga
Menahan Amarah Saat Main Game: Ujian Kesabaran Ramadan
Ilustrasi Discord di PC dan smartphone. (Discord/Suara.com)

Ramadan selalu datang dengan semangat pembaruan. Ia bukan sekadar perubahan jam makan dan tidur, melainkan pergeseran cara kita memandang diri sendiri. Dalam hening sahur dan lengang menjelang berbuka, manusia diajak menengok ke dalam. Namun, di tengah suasana spiritual itu, ada ruang baru yang tidak kalah riuh dari pasar menjelang lebaran, yakni arena game online.

Di sana, ribuan orang bertemu tanpa wajah. Mereka beradu strategi, kecepatan, dan ego. Kata-kata meluncur deras melalui mikrofon dan kolom percakapan. Tidak jarang, umpatan dan ejekan menjadi bahasa sehari-hari. Ironisnya, kebiasaan ini terbawa hingga bulan suci. Kita berpuasa dari lapar dan dahaga, tetapi belum tentu berpuasa dari amarah.

Game online pada dasarnya netral. Ia sekadar medium hiburan, bahkan sarana membangun kerja sama dan melatih fokus. Masalah muncul ketika kekalahan dianggap penghinaan, ketika kesalahan rekan setim dipandang sebagai serangan pribadi. Dalam hitungan detik, emosi naik ke ubun-ubun. Ucapan kasar pun meluncur tanpa jeda.

Ramadan seharusnya menjadi rem. Ia mengingatkan bahwa inti puasa bukan hanya menahan perut, tetapi juga menahan lidah dan hati. Ada pesan yang pernah mengingatkan bahwa jika seseorang diajak bertengkar, hendaknya ia berkata, "Aku sedang berpuasa." Dalam konteks hari ini, mungkin kalimat itu bisa diterjemahkan menjadi kesadaran sunyi sebelum menekan tombol kirim.

Puasa dan Disiplin Diri

Puasa adalah latihan disiplin paling konkret. Ia mengajarkan bahwa tidak semua dorongan harus dituruti. Lapar datang, tetapi kita menunggu azan. Haus menyerang, tetapi kita bersabar. Maka, logikanya sederhana. Jika terhadap kebutuhan biologis saja kita mampu menahan diri, mengapa terhadap dorongan emosional kita begitu mudah menyerah?

Dalam game online, emosi sering muncul karena ekspektasi. Kita ingin menang. Kita ingin diakui. Kita ingin terlihat hebat. Ketika kenyataan tidak sejalan dengan harapan, amarah mencari jalan keluar. Kata-kata kasar menjadi pelampiasan instan. Padahal, setiap kalimat yang meluncur adalah cermin kedewasaan.

Ramadan menghadirkan jeda untuk mengevaluasi refleks itu. Setiap kali tangan hendak mengetik umpatan, ada kesempatan untuk berhenti sejenak. Tarik napas. Ingat bahwa pahala puasa bisa tergerus oleh hal yang kita anggap remeh. Bukankah ironi jika seharian menahan haus, tetapi pahala bocor melalui satu kalimat tidak berfaedah?

Disiplin diri dalam game justru bisa menjadi latihan spiritual. Mengatur strategi dengan kepala dingin, menerima kekalahan dengan lapang, memberi semangat kepada rekan setim yang keliru, semuanya adalah bentuk pengendalian diri. Di situlah puasa menemukan relevansinya di ruang digital.

Arena Virtual, Cermin Karakter

Anonimitas di dunia maya sering membuat orang merasa kebal dari konsekuensi moral. Identitas disamarkan, wajah tidak terlihat. Namun, karakter sejati justru muncul ketika tidak ada yang mengenali kita. Apa yang kita ucapkan saat marah dalam gim mungkin lebih jujur daripada pidato panjang tentang kesabaran.

Ramadan mengajak kita membersihkan hati dari kesombongan dan kebencian. Jika dalam permainan kita mudah merendahkan pemain lain, mungkin itu tanda bahwa ego masih bercokol kuat. Jika kita sulit menerima kritik dari rekan satu tim, mungkin ada luka harga diri yang belum sembuh.

Game online dapat menjadi cermin. Ia menunjukkan seberapa jauh kita mampu bekerja sama, seberapa sabar kita menghadapi kesalahan, dan seberapa dewasa kita menerima kekalahan. Dalam konteks ini, game bukan musuh spiritualitas. Ia justru ruang ujian yang nyata.

Mungkin kita perlu mengubah niat sebelum bermain. Bukan semata mencari kemenangan, melainkan melatih kesabaran. Bukan sekadar mengejar peringkat, melainkan mengasah kemampuan mengelola emosi. Dengan niat itu, setiap pertandingan menjadi ladang latihan akhlak.

Menahan Kata, Menjaga Makna

Kata-kata memiliki daya rusak yang sering diremehkan. Umpatan yang dianggap biasa bisa meninggalkan luka pada orang lain. Dalam gim, kita mungkin tidak melihat wajah yang tersinggung. Namun, di balik layar ada manusia dengan perasaan.

Ramadan mengajarkan empati. Kita merasakan lapar agar peka terhadap yang kekurangan. Dalam konteks digital, empati berarti menyadari bahwa setiap pemain adalah pribadi dengan cerita masing-masing. Mereka mungkin lelah setelah bekerja. Mereka mungkin sedang mencari hiburan. Apakah pantas kita menambah beban dengan caci maki?

Menjaga emosi bukan berarti menekan semua rasa. Ia berarti mengelola reaksi. Ketika kalah, kita boleh kecewa. Namun, kekecewaan tidak harus berubah menjadi penghinaan. Ketika rekan setim keliru, kita boleh menegur. Namun, teguran bisa disampaikan dengan hormat.

Pada akhirnya, Ramadan bukan tentang menjadi suci selama sebulan penuh, lalu kembali pada kebiasaan lama. Ia adalah momentum membangun kebiasaan baru. Jika kita mampu melewati satu bulan bermain gim tanpa berkata kasar, mungkin setelahnya kita lebih terbiasa menahan diri.

Kesabaran memang tidak lahir dalam semalam. Ia dibentuk oleh latihan berulang. Setiap pertandingan adalah kesempatan. Setiap godaan untuk marah adalah panggilan untuk menguatkan diri. Dan setiap kata yang berhasil kita tahan adalah kemenangan kecil yang nilainya mungkin lebih besar daripada skor di layar.

Ramadan memberi kita panggung sunyi untuk menang melawan diri sendiri. Di arena virtual yang gaduh, kemenangan itu terasa lebih bermakna.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak