News

Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd

Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
Petugas menyiapkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola Jimmy Hantu di SPPG Mutiara Keraton Solo, Tamansari, Bogor, Selasa (16/12/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]

Sebagian warganet saat ini sedang memperdebatkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai dari efektivitas anggaran, tata kelola, hingga meminta evaluasi total secara internal. Polemik ini makin panas ketika adanya aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa untuk menuntut MBG dihentikan sementara. Lalu, hal ini memunculkan pertanyaan ke muka publik yaitu apakah program tersebut perlu dihentikan atau tetap dilanjutkan? 

Saat polemik masih berlanjut, beberapa video telah beredar di media sosial yang secara tidak langsung memengaruhi pola pikir warganet untuk menyetujui bahwa program MBG penting untuk dilanjutkan. Tanggapan dari siswa yang masih duduk di bangku sekolah dasar menjadi bahan utama unggahan akun Instagram @sppg_karyapadarincangbersinar.

“MBG teh gak boleh berhenti, kita masih butuh MBG.” 

“Pak Presiden, MBG-nya jangan diberhentiin, lanjutkan!”

“Enak gak MBG-nya? Enak!”

“Aku akan selalu menyayangi Pak Presiden selama-lamanya, lopyu.

Video yang dibuat oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ini memang sebenarnya tidak bisa serta-merta disalahkan hanya karena memengaruhi opini publik. Tujuan video tersebut dibuat bisa saja sebagai alat legitimasi program untuk menampilkan testimoni yang sulit dibantah oleh publik. Namun, hal ini justru membuat warganet bersikap kritis dan menuntut transparansi karena berbeda dengan realita secara nyata akibat banyak masalah secara teknis.

Dunia Anak SD Baru Tahu Sebatas Bermain dan Makan

Jika program MBG itu sudah ada ketika saya duduk di bangku sekolah dasar, saya juga akan mengatakan hal yang sama untuk meminta program tersebut tidak dihentikan. Sebab dengan adanya MBG, saya dan teman-teman bisa makan siang bersama, orang tua tidak perlu repot untuk menyiapkan bekal, dan menu yang disajikan setiap hari berbeda-beda. Lantas, mengapa saya harus mendukung program MBG dihentikan? Sementara saya merasakan manfaatnya.

Pola pikir saya ini mungkin terlihat dungu, tetapi sebenarnya sah-sah saja perkataan itu keluar karena perkembangan kognitif memang belum sampai pada tahap memahami konsep abstrak dan sistematis. Misalnya, ketika ada makanan di depan mata, siswa SD hanya akan melihat realitas yang langsung memberikan kepuasan seperti rasa kenyang dan enak.

Mereka belum memahami konsep makro seperti anggaran negara, tender vendor, logistik, dan tata kelola karena berada di luar jangkauan pemikiran logis. Terlebih lagi, tanggung jawab finansial sepenuhnya disediakan oleh orang tua. Saya bukan merendahkan dunia anak SD hanya tahu main dan makan saja, melainkan karena otak dan fase perkembangan di usianya memang didesain untuk menerima, belajar, dan tumbuh tanpa harus memikul beban pemikiran. 

Oleh sebab itu, kita seharusnya tidak bisa mengatakan bahwa program MBG harus dilanjutkan hanya karena berlandaskan suara anak SD yang juga menjadi penerima manfaat. Mereka tidak memahami sepenuhnya bagaimana program tersebut dirancang, dibiayai, dan dijalankan. Testimoni anak SD hanya bisa dijadikan untuk evaluasi dari segi rasa makanan dan bukan menjadi penentu apakah sebuah program layak dipertahankan atau tidak.

MBG Dinikmati Bocah tapi Digugat Mahasiswa

Saya mendapati sebuah unggahan dari akun Instagram @infombg yang menampilkan cuplikan siaran langsung kanal YouTube Niceguymo. Pada menit 02:06:55, terlihat sekelompok anak-anak menghampiri untuk meminta foto. Namun, alih-alih langsung melayani permintaan tersebut, Muhammad Jannah selaku pemilik kanal YouTube itu terlebih dahulu bertanya kepada mereka mengenai apa yang sedang mereka perjuangkan di lokasi demonstrasi tersebut.

Salah seorang anak kemudian menjawab bahwa mereka datang hanya sebatas menonton demonstrasi agar program MBG tidak dihentikan. Di sisi lain, perwakilan mahasiswa dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang turut hadir dalam demonstrasi tersebut justru menyuarakan tuntutan yang berbeda. Selisih pendapat ini wajar saja terjadi karena terbentuknya pola pikir yang berbeda.

Perbedaan ini terjadi karena bagi anak-anak kehadiran program MBG adalah wujud dari pemenuhan kebutuhan dasar yang langsung mendatangkan kebahagiaan fisik dan sosial di ruang kelas. Di sisi lain, mahasiswa melihat program ini melalui lensa kebijakan publik, mulai dari mengkhawatirkan implikasi jangka panjang seperti beban anggaran negara, efektivitas rantai pasok komoditas pangan, hingga tata kelola yang buruk. 

Kontras respons antara anak sekolah dasar dan mahasiswa dalam menyikapi program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan konsekuensi logis dari perbedaan fase perkembangan kognitif. Anak-anak SD merespons secara emosional dan konkret karena mereka merasakan langsung manfaat nyata berupa makanan dan kegembiraan sosial tanpa memiliki beban pemikiran birokrasi. 

Sebaliknya, mahasiswa bergerak menggunakan nalar kritis untuk mempertanyakan aspek makro seperti anggaran, transparansi, dan tata kelola jangka panjang. Perbedaan ini membuktikan bahwa sebuah kebijakan publik akan selalu dinilai dari dua sisi yang berbeda yaitu kenyamanan bagi penerima manfaat langsung di lapangan dan ketepatan sistem bagi mereka yang mengawal keberlanjutan negara.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda