alexametrics

Rasuah yang Takkan Usai

Rico Andreano Fahreza
Rasuah yang Takkan Usai
Ilustrasi Korupsi. (pixabay.com)

Rasuah yang menjadi sebuah tingkah lazim. Dengan segala kepongahan perilaku rasuah memakan segala kekayaan pundi-pundi negeri sebagai pemuas nafsu perut mereka.

Mereka dengan sadis merampok segala pundi-pundi uang negara sementara rakyat masih tercekik dalam kemelaratan. Tanpa malu-malu mereka bertingkah seperti itu. Bak pembunuh berdarah dingin. Tanpa puas dan merasa takut akan tingkah yang mereka lakukan.

Seakan mereka mulai melakukan makar atas perintah Illahi dengan tega memakan yang bukan haknya. Hak-hak rakyat yang masih terbelenggu kesusahan direnggut paksa oleh maling-maling kerah putih. Dengan bangganya perangai mereka tanpa tergores rasa ketakutan atas tingkahnya mereka.

Sebuah racun yang sangat mematikan seantero negeri yang bernama rasuah. Tingkah rasuah tanpa sadar juga banyak yang bertingkah seperti itu. Tak usah bercuap-cuap perihal perilaku rasuah. Padahal dirinya pun masih saja bertingkah rasuah dengan apa yang dilakukan oleh para maling-maling kelas kakap.

Sebuah kesia-siaan semata kala orang-orang berteriak selantang petir tentang rasuah. Namun setiap pagi masih saja terlambat datang menghadiri acara. Tingkah lakunya yang tak ada ubahnya sama sekali dengan koruptor.

Budaya rasuah yang terus mencengkeram seluruh negeri. Seakan tak ada usainya. Terus dan terus mencengkeram dalam keabadian yang sejati.

Tak akan pernah habis melilit sendi-sendi kehidupan negeri. Karena rasuah menjadi sebuah kelaziman demi pemuas perut yang tak kenal rasa puas.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak