Hujan bersemi menanti kedatangan sahabat membawa lonceng kerinduan yang selalu berdentang. Hujan turun deras melukis raga berbaur keheningan menanti sosok sahabat. Kerinduan yang membekas selalu pada sosok sahabat. Sahabat yang selalu membersamai sepanjang hidup yang terlampaui.
Kedatangan sahabat yang dinanti menjadi penawar kerinduan yang memuncak tak terbendung lagi. Misteri raga yang tak tahu berada pada persimpangan takdir. Sahabat itu bernama kematian. Kiasan kehidupan menjawab hentakan lepasnya ruh yang amat lembut dari raga.
Hujan membawa saujana malam yang terparut sambaran petir semakin bagus. Raga dalam genggaman kesakitan kian mendera. Seolah raga penuh kesia-siaan terlukis pada hentakan nyawa yang berdetak. Menanti kedatangan sahabat kematian bersiaplah dalam kepasrahan.
Sebuah cerminan akhir kehidupan setiap nyawa yang berdetak. Tiada nyawa yang tak terbatas. Manusia meninggalkan nama dalam kehidupan. Bagai gajah mati meninggalkan gading.
Panggilan yang membuat langkah terhenti seketika terdiam dalam tidur amat panjang. Yang tak terbangun kembali. Berharap kembali pada alam keabadian meliputi gerakan menuju kehendak-Nya. Ceruk kematian dalam hunian liang lahat yang menimbun raga manusia.
Cerminan nyata semua yang bernyawa akan kembali menuju liang lahat. Terpisah dari dunia yang lekas lenyap segala untaian kehidupan. Datangnya kematian yang tak terduga. Manusia hanya menggenggam amal yang telah dilampaui. Amal hanya membersamai nyawa yang terbenam selamanya dalam tanah yang pengap.