facebook

Tidak Seramai Dulu, Jalan Legian Bali Sekarang Terlihat Sepi dan Lengang

Yudi Rahmatullah
Tidak Seramai Dulu, Jalan Legian Bali Sekarang Terlihat Sepi dan Lengang
Jalan Legian Bali Tahun 2018 (Dok. Pribadi/Yudi Rahmatullah)

Ketika backpacker-an ke Bali tahun 2018, Jalan Legian adalah tempat pertama yang saya datangi. Memasuki Jalan Legian, ojek yang saya tumpangi, terpaksa harus mengerem beberapa kali karena banyak wisatawan domestik dan mancanegara menyeberang jalan. Beberapa kali ojek harus berhenti cukup lama karena lalu lintas yang sangat ramai, bahkan macet parah.

Pertanyaan-pertanyaan saya kepada tukang ojek juga harus disampaikan dengan nada yang tinggi. Kalau tidak, suara saya akan hilang ditelan kerasnya suara musik yang saling bersahutan antara satu kafe dengan kafe yang lainnya. 

Saat itu, saya kebingungan mencari penginapan. Di sepanjang Jalan Legian, hanya terlihat kafe dan restoran yang disesaki oleh para wisatawan, baik sedang makan, minum, dan nongkrong. Ada juga wisatawan yang sedang berjoget-joget menikmati alunan lagu di bawah kelap-kelip lampu disko. 

1. Tugu Peringatan Bom Bali

Tugu Peringatan Bom Bali Tahun 2018 (Dok. Pribadi/Yudi Rahmatullah)
Tugu Peringatan Bom Bali Tahun 2018 (Dok. Pribadi/Yudi Rahmatullah)

Ketika akhir tahun 2020, saya traveling lagi ke Bali. Saya sangat kaget melihat keadaan Jalan Legian yang berubah 180 derajat. Suasana yang saya rasakan waktu pertama kali ke Bali sangat berbeda. Saat itu memang sedang PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Tapi, saya tidak menyangka suasananya akan seperti ini. 

Saya berhenti di Tugu Peringatan Bom Bali. Berdiri di sini seperti berada di sebuah kota mati. Tidak ada satupun orang yang lewat. Dulu, suasana di sekitar tugu cukup ramai, beberapa orang mengantri untuk berfoto dengan tugu sebagai background-nya. 

2. Kafe dan restoran tutup

Kafe di Jalan Legian Bali (Dok. Pribadi/Yudi Rahmatullah)
Kafe di Jalan Legian Bali (Dok. Pribadi/Yudi Rahmatullah)

Pemandangan kafe dan restoran yang penuh sesak, dengan musik yang memekakkan telinga sudah tidak terdengar lagi. Parahnya, tempat-tempat makan ini benar-benar tutup total. Tidak ada pegawai yang berdiri di depan pintu untuk menyambut pengunjung dan menawarkan menu.

Saat itu adalah jam makan siang, tapi tidak ada satupun tempat yang buka. Bahkan, gerobak pinggir jalan pun tidak ada. Sebelumnya, saya berpikir, mungkin ada kafe atau restoran yang hanya membuka sedikit tempatnya, atau mengurangi jumlah pengunjung dengan protokol kesehatan yang ketat. Tapi, ternyata saya tidak menemukannya sama sekali.

3. Jalan Legian terlihat Sepi dan lengang

Jalan Legian Bali (Dok. Pribadi/Yudi Rahmatullah)
Jalan Legian Bali (Dok. Pribadi/Yudi Rahmatullah)

Kendaraan yang saya tumpangi, melaju dengan lancar di Jalan Legian tanpa ada hambatan sedikit pun. Saat itu, tidak ada mobil yang melintas atau menghalangi jalan. Juga, tidak ada satupun orang yang menyeberang atau berjalan-jalan di trotoar.

Sewaktu kendaraan saya berhenti di Tugu Peringatan Bom Bali, saya bahkan bisa berlarian dengan bebas. Saya juga jadi bisa melihat bentuk dan ukuran kafe dan restoran dengan jelas. Di mana saat tahun 2018, saya bahkan tidak bisa membedakan jarak kafe yang satu dengan lainnya. 

4. Penerbangan internasional ke Bali

Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali (Dok. Pribadi/Yudi Rahmatullah)
Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali (Dok. Pribadi/Yudi Rahmatullah)

Tahun ini, penerbangan internasional ke Bali telah dibuka kembali sejak tanggal 14 Oktober 2021. Wisatawan mancanegara dari 19 negara sudah diijinkan masuk kembali ke Bali. Pembukaan penerbangan internasional ke Bali ini diambil berdasarkan angka penyebaran positivity rate (jumlah total kasus positif) Covid-19 di Indonesia yang terendah se-Asia, yaitu sebesar 1,50 persen. Sudah jauh di bawah standar World Health Organization (WHO), yaitu 5 persen.

Sekarang, syarat penerbangan internasional adalah dengan membawa kartu atau sertifikat telah menerima vaksinasi Covid-19 dosis lengkap. Menggunakan Aplikasi PeduliLindungi dan mengisi E-Hac Internasional secara manual di bandar udara keberangkatan (negara asal). Harus menunjukkan hasil negatif melalui tes RT-PCR dalam kurun waktu maksimal 3x24. Dan, syarat terakhir adalah wisatawan asing wajib menunjukkan bukti kepemilikan asuransi kesehatan atau asuransi perjalanan yang mencakup pembiayaan kesehatan dalam melakukan karantina. 

Semoga sektor pariwisata di Bali segera pulih dan kembali seperti sedia kala. Bisa menjamu para wisatawan domestik maupun mancanegara dengan keramahan orang-orang Bali-nya, dengan keindahan alam yang luar biasa, dan bisa memanjakan para wisatawannya dengan makanan khasnya yang lezat-lezat. 

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak