facebook

Menyoroti Hedonisme Masyarakat Prancis dalam Novel La Barka

Thomas Utomo
Menyoroti Hedonisme Masyarakat Prancis dalam Novel La Barka
Buku La Barka (DocPribadi/ Thomas Utomo)

La Barka merupakan novel yang disajikan dalam bentuk catatan harian atau diari. Novel ini, kali pertama terbit tahun 1975 oleh Penerbit Dunia Pustaka Jaya. Waktu itu, Nh. Dini masih tinggal di luar negeri.

Berdasarkan cerita Nh. Dini, tidak berselang lama setelah diterbitkan, La Barka sempat dikucilkan di sejumlah sekolah menengah atas (SMA). Penyebabnya tidak lain karena isinya. Dikhawatirkan para remaja teracuni muatan novel yang memang di sejumlah bagian memaparkan perilaku hidup hedonisme dan seks bebas.

La Barka sendiri menceritakan kehidupan Rina (lengkapnya Sugiharino), seorang perempuan Jawa ketika tinggal sementara waktu di Prancis Selatan. Rina sendiri menyeberang dari Indonesia ke Prancis setelah menikah dengan Bonin, arsitek berkewarganegaaran Prancis.

Sebagai yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan Katolik, Rina berharap, perkawinannya dengan Bonin, bakal membuatnya mendapatkan kebahagiaan berkeluarga yang sebelumnya tidak pernah dia dapatkan. Untung tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak. Kelahiran anak di usia tiga tahun perkawinan, yang biasanya menjadi perekat hubungan suami-istri, justru menjadi neraka bagi Rina. Sebab Bonin tidak menyukai anak kecil.

Merasa rumah tangganya gagal, Rina pergi ke La Barka, rumah peternakan milik Monique, sahabatnya, di Prancis Selatan. Di sana, Rina bertemu banyak orang, baik kerabat maupun kawan-kawan Monique. Masing-masing dengan perangai berlainan, baik menyenangkan maupun merugikan.

Novel La Barka sendiri memuat lima bab. Masing-masing mengambil nama perempuan sebagai judul bab, yakni Monique, Francine, Sophie, Yvonne, dan Christine.

Dari keempat perempuan tersebut, empat di antaranya memiliki rumah tangga tak bahagia. Monique bercerai dengan suaminya karena dia mandul dan keluarga suami terlalu mencampuri urusan rumah tangga mereka.

Francine, karena kesibukan mengurusi toko pakaian, suaminya menjauh dan berselingkuh dengan banyak perempuan. Francine sama seperti Monique, ialah tidak punya anak setelah belasan tahun menikah.

Yvonne, beberapa kali berganti pasangan, terakhir dia hidup tanpa menikah dengan seorang laki-laki pemilik penerbitan. Tapi karena keserakahan yang mendorongnya menggelapkan uang perusahaan, Yvonne dicampakkan pasangan yang dia sebut-sebuat sebagai "suami."

Christine seorang guru berputra tiga laki-laki. Suaminya meninggalkan dia dan hidup tanpa menikah dengan perempuan amat muda.

Sedangkan Sophie, gadis yang memanfaatkan tubuh moleknya untuk menggaet laki-laki. Mula-mula dia bertunangan dengan kawan Monique. Namun dia bermain api dengan Jacques dan Francois, kawan Monique lainnya.

Kekasih Rina sendiri akhirnya direbut Sophie. Sementara Rina tengah diburu-buru pemuda beda sepuluh tahun lebih muda, anak Christine, yang tergila-gila kepadanya.

Mengutip Subagio Sastrowardoyo, novel La Barka ditulis dengan kepiawaian bergunjing. Tiap-tiap bagian memang berisi pergunjingan berkepanjangan mengenai hubungan rumah tangga, perselingkuhan, tipu daya, dan serba keburukan lain.

Bagi yang tidak nyaman dengan cara bercerita semacam ini, tentu tidak akan suka dengan novel La Barka. Kebalikannya, banyak juga mahasiswa yang berhasil disarjakan lantaran mengangkat La Barka dalam topik skripsi mereka. 

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak