facebook

Ulasan Buku Amungme, Pemenang 3 Sayembara Menulis Novel Remaja Islami

Rozi Rista Aga Zidna
Ulasan Buku Amungme, Pemenang 3 Sayembara Menulis Novel Remaja Islami
Buku Amungme karya Peringga Ancala (Dok. Pribadi/Fathorrozi)

Novel Amungme ditulis oleh Peringga Ancala, nama pena dari Indri K. Hobi membacanya membawa Peringga pada dunia tulis-menulis. Saking maniaknya, koran bekas bungkus gorengan pun dibacanya. Peringga mulai menulis cerpen dan puisi secara otodidak saat kelas satu SMA pada 1994. Di tahun yang sama, cerpennya Wanita Tua Berjukung Hitam memenangkan Juara 1 Lomba Cerpen Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Sekarang Departemen Pendidikan Nasional), serta meraih beberapa penghargaan lainnya.

Dalam novel Amungme yang menjadi Pemenang 3 dalam Sayembara Menulis Novel Remaja Islami ini mengungkap tentang Omabak lelaki asal Opitawak Papua bersuku Amungme yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi di Yogyakarta. Saat Omabak pulang dari Jawa ke Opitawak, ia mendapati para lelaki Amungme menari dengan kaki telanjang. Perempuan dan laki-laki, tua, muda, bahkan anak-anak, berbaur bergembira. Mereka sedang Pesta Bakar Batu. Di tengah lapangan, bertumpuk sejumlah batu besar dan di balik bebatuan itu ada lubang besar tempat belasan ekor babi dan sayuran dimasak. 

Delapan tahun Omabak tidak pernah pulang ke Opitawak. Waktu yang panjang, membuat kerinduannya sering memuncak saat ia berada di Yogyakarta. Ia bersyukur bisa melanjutkan sekolah ke sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Ia merasa beruntung memiliki seorang ibu yang rela bolak-balik setiap hari, berjalan kaki hingga tiga jam untuk berjualan sayuran di Pasar Tembagapura demi bisa menyekolahkannya.

Saat pulang ke kampung halaman, Omabak berubah total. Ia tak lagi mau diajak makan babi hutan yang dulu menjadi makanan kesukaannya, dan ia juga tidak ikut berdoa ketika Ondoafi Teknay, kepala suku Amungme, memimpin untuk menyembah Dewa Mam On. Banyak sekali teman-teman dan keluarganya merasa banyak keanehan pada diri Omabak sepulangnya dari Jawa. Pada suatu kesempatan, Omabak berkisah kepada ibu tercintanya.

Demikian kutipannya:

"Omabak ingin memberi tahu Ibu tentang sesuatu yang penting."

"Katakanlah, Nak."

"Ibu jangan marah dulu. Begini, Bu. Selama Omabak berada di Yogya, Omabak pelajari banyak hal yang baru. Termasuk, tentang dewa kita, Mam On."

"Lanjutkanlah! Ibu mendengarkan..."

"Ternyata, ada yang lebih berkuasa dari Dewa Mam On, Bu. Lebih dari segalanya. Adalah Allah yang menciptakan semuanya. Alam ini, bahkan diri kita sekalipun."

Kesempatan pun hadir bagi Omabak untuk secara perlahan mengubah kebiasaan menyembah Dewa Mam On yang sering dilakukan orang-orang Amungme, saat ia diangkat menjadi menantu oleh kepala suku Amungme.

Novel ini merupakan salah satu novel yang mengangkat latar etnik secara memikat. Kita digiring untuk memasuki ke sebuah pedalaman Papua, mengikuti berbagai ritual, mitos, dan dunia supranatural. Sungguh mengasyikkan!

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak