Ulasan Novel Pemberontakan: Kisah Seorang Penulis Sekaligus Demonstran

Budi Prathama
Ulasan Novel Pemberontakan: Kisah Seorang Penulis Sekaligus Demonstran
Buku Novel Pemberontakan. (DocPribadi/@budiprathama)

Dalam novel yang ditulis oleh Ana Nadhya Abrar (Abrar) dengan judul “Pemberontakan” mengisyaratkan kehidupan intelektual dan kondisi kampus. Abrar menulis perjuangan seorang mahasiswi yang gagah berani menantang ketidakadilan dan ingin berbuat untuk kebermanfaatan banyak orang, di sisi lain ia sangat ingin menjadi penulis yang profesional. 

Melalui novel tersebut, Wendy Vellandrie sebagai tokoh utama telah memainkan alur cerita novel yang menggugah. Wendy Vellandrie salah satu mahasiswi program studi D-3 jurusan Komunikasi Fisip di Universitas Yogyakarta (UY).

Dalam novel diceritakan bahwa Wendy tak ingin kuliah setelah lulus dari bangku SMA, ia ingin fokus menekuni hobinya untuk bisa menjadi penulis profesional. Menurut keyakinannya, ketika tidak menjadi mahasiswa maka ia bebas dan punya banyak waktu untuk mengasah kemampuan menulisnya, sehingga benar-benar dapat menjadi penulis dan di sisi lain dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. 

Keinginan Wendy tersebut tidak mendapatkan respon hangat dari kedua orang tuanya, sejak dari awal keinginan orang tua Wendy bisa melihat anak satu-satunya bisa berkuliah di Universitas ternama di Indonesia. Terlebih lagi, ayah Wendy salah satu dosen di UY dan ibunya juga lulusan sarjana hukum meskipun menjadi ibu rumah tangga saja. 

Setelah lama berdialog antara Wendy dan kedua orang tuanya, akhirnya Wendy pun menerima permintaan ayahnya untuk kuliah. Wendy beberapa kali ikut ujian masuk di Perguruan Tinggi, tetapi selalu saja gagal. Itu disebabkan karena Wendy sedari dari awal tidak ingin menjadi mahasiswa dan ketika menghadapi ujian pun kerjanya asal-asalan. Hingga dari ujian terakhir yang diikuti diterima sebagai mahasiswa di Universitas Yogyakarta jurusan Komunikasi D-3 Fisipol. 

Sejak pertama menginjakan kaki di Kampus, Wendy memang tampak berbeda dengan mahasiswa yang lain. Wendy sudah memperlihatkan sikap ketegasan dan kepeduliannya untuk kritis terhadap sesuatu yang menurutnya tidak sesuai dengan nalar berpikirnya. Termasuk saat mengikuti pengenalan kampus bagi mahasiswa baru, Wendy sudah mulai berani memprotes senior yang berbuat semena-mena kepada mahasiswa-mahasiswi baru. 

Saat menjalani perkuliahan, Wendy merasa tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan di ruang kelas, termasuk mata kuliah yang bisa mendukungnya bisa menjadi penulis profesional. Sehingga dari itu, ia kadang tak masuk kelas untuk mengikuti perkuliahan dan lebih memilih datang ke kantor Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UY. 

Dari sikap dan pendirian sosok mahasiswi Wendy ini, ia tidak suka cara mengajar dosen yang hanya mengandalkan metode mengajar ceramah dan menghafal. Wendy menginginkan metode pengajaran dengan cara berdialog dan menganalisis. Menurutnya, cara itu lebih intelektual diterapkan dalam tiap perguruan tinggi. 

Perjumpaan Wendy dengan beberapa pengurus BEM UY, membuat Wendy menemukan suasana dan lingkungan baru dalam kehidupannya. Ketidakinginan Wendy menjadi mahasiswa setidaknya bisa dilampiaskan di kantor BEM UY. Hingga akhirnya pun Wendy diangkat sebagai pengurus BEM UY. 

Melalui kehidupan dan problematika yang terjadi di kampus, membuat Wendy memiliki banyak inspirasi untuk menulis. Beberapa persoalan ditulis oleh Wendy dan diterbitkan oleh media koran bernama Daulat Rakyat, hal itu membuat simpati mahasiswa dan masyarakat luas. Wendy pun banyak berkenalan dengan penulis terkenal termasuk Hari Sumarjo. 

Kehadiran Wendy di BEM UY sungguh berarti, Wendy banyak berbuat dan bertanggungjawab untuk kemajuan BEM UY. Misalnya program BEM UY yang dulunya hanya aksi unjuk rasa sebagai satu-satunya bentuk perjuangan terhadap birokrat kampus dan pemerintah, justru kehadiran Wendy mampu memberikan suasana baru dengan memunculkan ide tentang pentingnya perjuangan yang lebih bermoral dan intelektual. Salah satunya advokasi dalam bentuk lobi dan melalui tulisan. 

Melalui tulisan, menurut Wendy ia bebas menumpahkan keresahannya terhadap problem yang terjadi. Ia bebas berargumentasi sesuai yang dirasakan dan dengan rasa yang intelektual pula. Hingga beberapa tulisannya pun terbit dan sempat ada perseteruan tulisannya dengan Rektor UY yang dimuat di Daulat Rakyat, keduanya saling membalas artikel yang ditulis terkait dengan dunia pendidikan.

Tidak lama Wendy menjadi mahasiswa hingga ia berhasil menulis beberapa artikel dan bisa menerbitkannya, tetapi kondisinya yang tidak pernah merubah ia tetap tidak bisa beradaptasi saat menerima pelajaran di ruangan kelas. 

Hal yang menarik sebenarnya dari kehidupan Wendy bahwa ia selalu mendapat dukungan dari orang tuanya, termasuk ayahnya. Wendy bahkan didukung untuk menjalani kehidupan menurut cara Wendy tersendiri. Keinginan Wendy sebenarnya tidak mau kuliah mampu diyakinkan oleh orang tuanya, bahwa dengan kuliah ia tetap bisa menjalani kehidupan sesuai dengan keinginan Wendy termasuk menjalani kehidupannya untuk bisa menjadi penulis. 

Poin terpenting sebenarnya, bagaimana cara anak bisa meyakinkan kedua orang tua. Keduanya mesti bisa saling memahami, orang tua tidak boleh terlalu memaksakan keinginannya untuk anaknya. Posisi orang tua mestinya hanya menjadi pendorong dan penyemangat, serta pemberi saran yang terbaik untuk kehidupan anak yang lebih. Ketika keduanya bisa saling memahami, maka kehidupan anak pun bisa lebih baik karena ia bisa menjalani kehidupan tanpa tekanan dari orang tua, justru kerena dukungan sehingga ia bisa menjalani hidup sesuai dengan cara tersendiri dan mampu merasakan kebahagian menurut versi sendiri. 

Di balik kehidupan Wendy sebagai mahasiswi membuatnya ia banyak berbeda dengan mahasiswi yang lain. Keaktifannya di BEM UY membuat dirinya bisa berbuat banyak untuk menulis dan memberi manfaat pada banyak orang. Hingga ia pun sering ikut berdialog dengan pengurus BEM UY, menyusun proyek-proyek BEM UY, dan yang tak kalah menggiurkan menjadi kordinator lapangan dalam aksi demonstrasi

Dalam novel tersebut, Wendy terhitung 3 kali memimpin aksi demonstrasi BEM UY. Terakhir aksi yang dipimpinnya saat ingin menyandera mobil Rektor UY. Pada aksi tersebut, Wendy menjadi korlap demonstrasi dengan menuntut penurunan SPP mahasiswa dan penjelasan terkait mobil mobil Toyota Camri yang diterima oleh Rektor UY dan beberapa birokrat yang lain. 

Tetapi sebuah peristiwa tak terduga bagi Wendy, rencananya ingin menghadang mobil Rektor UY, tetapi justru salah sasaran. Betapa mengagetkan bagi Wendy, keinginannya untuk menyandera mobil Rektor justru malah menghadang mobil yang dikendarai oleh ayahnya. Artinya Wendy salah sasaran, dan kondisi itulah membuat Wendy merasa sangat bersalah dan semangatnya kendor sebagai korlap demonstrasi. 

Wendy merasa sangat bersalah dan telah melanggar hak asasi ayahnya, di sisi lain diketahui bahwa Rektor telah berhasil lolos dari penyanderaan massa aksi melalui jalan rahasia. Dari peristiwa itu, dalam benak Wendy tak pernah hilang hingga akhirnya pun meminta maaf kepada ayahnya dan memutuskan untuk tidak lagi menjadi demonstran yang turun langsung melakukan unjuk rasa. 

Dalam pikiran Wendy diilhami bahwa dalam melakukan advokasi dan kebermanfaatan kepada banyak orang bisa dilakukan dengan tidak berdemonstrasi saja, tetapi bisa dengan menulis. Wendy pun memutuskan untuk tidak terlibat lagi dalam BEM UY dan aksi unjuk rasa seperti sediakala. Wendy ingin melakukan kebermanfaatan dengan fokus menulis untuk menjadi profesional.

Dengan melalui menulis, Wendy dapat menyalurkan ide yang menurutnya benar. Meskipun tidak bisa melakukan perubahan secara langsung, tetapi menulis bisa mempengaruhi pola pikir masyarakat meskipun itu prosesnya lama baru bisa dirasakan, walau efeknya akan dirasakan nanti. Itulah yang diyakini Wendy dan dilakukannya seperti yang diceritakan dalam novel ini. 

Nah untuk lebih jelasnya dan ingin merasakan nuansa ceritanya, sahabat kamu bisa membaca langsung novel “Pemberontakan.” ini. Membaca novel ini, saya merasa tersentuh melalui pikiran hingga ke hati saya. Ada nilai dan efek positif yang bisa saya rasakan, termasuk keinginan untuk menjadi penulis. 

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak