Membantu persoalan yang tengah dihadapi oleh orang lain termasuk ke dalam perbuatan yang mulia. Ada kebahagiaan yang akan kita rasakan bila kita mampu membantu dan membahagiakan orang-orang yang tengah butuh bantuan kita.
Perihal pentingnya berbuat baik dengan sesama, kita bisa membaca kisah Ely Susanti dalam buku berjudul "Move On" (Kisah-kisah tentang Bagaimana Orang Memilih dan Mengubah Jalan Hidup melalui Life Coaching) yang diterbitkan oleh Gramedia (2015). Sebagai orang yang berprofesi “Life Coach”, Ely berupaya untuk membantu orang-orang yang tengah mengalami beragam persoalan.
Dalam kata pengantar buku ini, Sapta Dwikardana, Ph.D., menjelaskan, sebagai sebuah profesi, coaching sama sekali tidak sama dengan konsultasi, mentoring, konseling, maupun terapi. “Coaching atau pendampingan adalah kegiatan kemitraan dengan klien melalui proses memprovokasi pikiran secara kreatif sehingga menginspirasi mereka untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional mereka,” demikian definisi coaching dari International Coach Federation.
Dalam buku dengan cover warna putih ini, Ely Susanti ingin berbagi pengalaman tentang kasus-kasus sederhana yang dialami oleh para klien-nya. Tentu saja, nama, kota, serta situasi personal yang ditulisnya telah diganti untuk menjaga kerahasiaan klien. Harapannya, pengalaman yang sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari ini dapat dijadikan pembelajaran dan inspirasi bagi kita semua.
Salah satu persoalan yang dialami oleh klien dalam buku ini misalnya tentang perselingkuhan yang dialami orangtuanya. Dikisahkan, seorang gadis muda tengah merasakan kekesalan pada ayahnya. Bahkan si gadis ingin lari dari rumah dan tak ingin bertemu ayahnya lagi.
Sebenarnya sang ayah adalah orang yang bertanggung jawab terhadap keluarganya. Dia juga perhatian dan menyayangi anak gadisnya tersebut. Dan, yang menyebabkannya ingin lari dari rumah karena ada dugaan sang ayah memiliki wanita lain. Semula dia menganggap itu hanya gosip tapi ternyata itu benar adanya. Si gadis semakin marah karena baru saja mendapatkan teguran dan kemarahan dari ayahnya karena wanita lain tersebut.
Salah satu cara yang dilakukan oleh Ely Susanti dalam menangani kasus gadis muda tersebut adalah memintanya membuat daftar apa saja yang membuat dia bangga pada ayahnya. Dari daftar tersebut bisa disimpulkan bahwa semua menunjukkan betapa ayahnya begitu menyayangi anak-anaknya. Ayahnya juga bekerja keras untuk memberikan fasilitas terbaik buat keluarganya.
Salah satu pesan atau jalan keluar yang diberikan oleh Ely Susanti kepada gadis muda tersebut adalah dengan memberikan pemahaman bahwa sehebat apa pun seseorang, ada saatnya dia terjatuh. “Mungkin, saat ini ayah kamu sedang terjatuh. Namun, dia terjatuh pada hal yang tidak bisa kamu masuki. Sebab, itu memang bukan urusan ayah dan anak. Kalau kamu mau membantu, caranya bukan dengan menghakimi ayahmu. Bantulah dengan tetap menjadi anak yang baik atau bahkan yang terbaik. Bantulah agar dia tetap bisa menjadi ayah terbaik untuk anak-anaknya. Mungkin dengan begitu, ayahmu akan kembali pada jalan yang seharusnya. Mungkin dengan itu, kamu juga dapat membawanya kembali setiap kepada ibumu. Sebab sesungguhnya, tidak ada gunanya menghakimi seseorang. Apalagi memintanya berubah tanpa memberikan bantuan kepadanya”.
Orang-orang yang mengalami beragam persoalan yang dikisahkan dalam buku ini masih banyak. Misalnya seorang ibu yang begitu sedih karena hanya bisa bertemu buah hatinya saat weekend atau dua hari dalam seminggu. Ada juga kisah seorang lelaki yang tengah mengalami dilema karena menjalin hubungan asmara dengan seorang wanita yang adalah relasinya. Persoalan muncul karena orangtuanya sudah pasti tak akan menyetujui hubungan mereka.
Beragam persoalan dan solusi yang diberikan oleh Ely Susanti dalam buku ini dapat membantu para pembaca untuk membuka pikiran lebih luas tentang pentingnya memahami beragam persoalan yang dialami oleh orang lain dengan. Tak hanya memahami, tapi juga ada serangkaian jalan keluar yang bisa kita jadikan sebagai tambahan wawasan yang sangat berharga. Selamat membaca.