Hati Suhita, Cinta Segitiga Berlatar Pewayangan dan Pesantren yang Unik

Hikmawan Firdaus | Hafsah Azzahra
Hati Suhita, Cinta Segitiga Berlatar Pewayangan dan Pesantren yang Unik
Novel Hati Suhita (Instagram/bacahan_)

Kalau kamu ingin menyelami dunia pesantren dan mitologi pewayangan dengan cara pandang yang berbeda, mungkin Novel Hati Suhita adalah pilihan yang tepat untuk menjadi bacaan.

Novel Hati Suhita berkisah tentang perjodohan dengan orang asing dan berakhir dengan pernikahan. Karangan Khilma Anis ini mengambil berlatar sejarah islam di tanah jawa dan memadukannya dengan kearifan lokal jawa dengan berbagai filosofinya.

Sehingga novel ini menggunakan Bahasa Jawa yang cukup banyak dalam beberapa adegannya. Sehingga bagi pembaca yang tidak akrab dengan bahasa daerah yang satu ini akan dibuat kebingungan.

Namun menurut saya, plot novel ini terbilang unik karena menggunakan latar Jawa yang kental dipadukan dengan pesantren dan pewayangan. Ditambah dengan konflik cinta segitiga yang merupakan thrope romansa favorit saya, novel terbitan Telaga Aksa ft Mazaya Media tahun 2019 ini menggunakan 3 POV (Point of View).

Pertama yaitu POV Alina Suhita. Ia adalah tokoh utama, cantik, ramah, pintar, tapi kesepian.  Lalu ada Abu Raihan Albirruni, yang tampan, anak tunggal kyai besar, entrepreneur sukses, aktivis pergerakan, selalu memprioritaskan ibunya, dan sudah dijodohkan dengan Alina sejak di bangku sekolah.

Terakhir ada Ratna Rengganis. Wanita cantik, pintar, mandiri, berprestasi terutama di bidang jurnalistiknya, dan cinta Gus Birru.

Sehingga novel ini didominasi oleh tokoh protagonis dan tidak ada peran antagonis. Meski begitu, ketiga tokoh utama dalam novel ini terbilang unik karena memiliki jalan hidup yang tidak biasa.

Alurnya juga mudah dipahami dan membuat penasaran hingga lembar terakhir. Membaca kutipannya saja sudah membuat saya tersentuh sehingga saya memutuskan untuk membaca keseluruhan kisah Alina, Gus Biru, dan Ratna ini.

Novel ini berhasil mengaduk emosi saya selama membaca. Sampai-sampai saya lupa kalau “Hati Suhita” juga bukan bacaan yang sempurna. Karena saya larut dalam kisah para tokohnya.

Terakhir, kutipan favorit saya di novel ini adalah, “Cinta itu seakan akan tidak ada habisnya untuk dibicarakan, bahkan instansi dari kesempurnaan iman adalah cinta."

Sehingga saya merekomendasikan novel ini untuk kamu yang suka genre romanca untuk menyelami makna ketulusan cinta dalam ketaatan dan pengabdian seorang wanita.

Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak