Ulasan Buku Setengah Jalan, Koleksi Esai Komedi untuk Para Calon Komika

Hayuning Ratri Hapsari | Sam Edy
Ulasan Buku Setengah Jalan, Koleksi Esai Komedi untuk Para Calon Komika
Buku 'Setengah Jalan' (Dok. pribadi/Sam)

Buku berjudul ‘Setengah Jalan’ ini berisi koleksi esai komedi karya Ernest Prakasa yang sebagian besar diadaptasi dari tur stand-up comedy dengan judul sama, yang digelar di dua belas kota dari April hingga Mei 2017 silam.

‘Setengah Jalan’ adalah salah satu judul esai yang menarik disimak dalam buku ini. Dalam esai ini, Ernest mengisahkan kisah singkat hidupnya sejak kecil hingga ia menikah dengan Meira. Ernest terbilang pria yang menikah di usia muda, 25 tahun, sementara istrinya 24, selisih satu tahun lebih muda darinya.

Pada usia 30-an, Ernest berhasil meraih sederet pencapaian yang cukup mengagumkan. Mulai dari menjadi komika pertama yang bikin tur nasional, menggelar tiga kali tur dan empat kali show tunggal, nulis tiga buku best seller, serta nulis dan menyutradarai beberapa film sendiri yang dapat sejumlah award bergengsi.

Bila direnungi, umur 30-an bisa disebut ‘setengah jalan’ dari kepala tiga ke kepala empat, juga bisa disebut ‘setengah jalan’ menuju usia 70 yang merupakan usia hidup rata-rata orang Indonesia. Yang terpenting bukanlah berapa lama kita hidup. Tapi, apa yang kita berikan bagi orang lain selama hidup. Makna hidup itu diukur dari kontribusi, bukan durasi (hlm. 8-10).

Esai menarik berikutnya yang menarik disimak dalam buku ini berjudul ‘Menggugat Jodoh’. Menurut Ernest, ada banyak cara untuk menentukan pasangan terbaik. Di Indonesia, salah satu konsep yang paling sering dijadikan acuan adalah “jodoh”. Menurut KBBI, definisi jodoh adalah ‘orang yang cocok menjadi suami atau istri atau pasangan hidup’.

Salah satu jargon paling awam berkaitan dengan urusan perjodohan adalah kalimat, “Yah, kalau jodoh nggak ke manalah.” Tapi untuk urusan percintaan, menurut Ernest malah bahaya.

Jangan sampai mindset “jodoh nggak ke mana” malah bikin kamu jadi malas. Nanti yang ada, calon pasangan di depan mata, orang yang mungkin akan jadi pedamping terbaikmu, malah diambil orang gara-gara kamunya terlalu santai atau merasa nggak perlu berusaha maksimal.

Hal yang penting dipahami, jangan terlalu terpaku dengan konsep jodoh. Yang terbaik adalah kita berusaha dengan segenap daya upaya. Wajar dong, berusaha keras untuk sesuatu yang kita idamkan. Ini bukan cuma berlaku untuk yang lagi mencari pasangan, melainkan terlebih untuk yang lagi mempertahankan hubungan. Karena, seperti hal-hal lain dalam hidup, cinta pun tunduk pada hukum sederhana: “Mencari tidaklah sesulit mempertahankan” (hlm. 15).

Esai komedi berikutnya yang terbilang unik dan menarik disimak berjudul ‘THR untuk Anakku’. Ada satu prinsip parenting dari Ernest dan istrinya yang diungkap dalam esai ini, yakni ‘Anak itu butuh THR’. Namun THR di sini bukan singkatan dari Tunjangan Hari Raya. Melainkan Teladan, Hormat, dan Ruang.

Pertama, Beri Teladan. Apa pun yang ingin diajarkan ke anak, harus terlebih dulu dipraktikkan supaya dia bisa melihat. Kedua, Beri Hormat. Artinya, kita memperlakukan anak dengan cara kita memperlakukan manusia seutuhnya. Manusia yang punya keinginan dan pendapat sendiri. Ketiga, Beri Ruang. Jangan jadi orang tua yang terlalu berambisi ingin menjadikan anak sesuai keinginan kita. Intinya, beri ruang gerak kepada anak untuk memilih sendiri hal yang disukainya (hlm. 20-26).

Masih banyak esai menarik lain karya Ernest Prakasa yang bisa disimak langsung dalam buku yang diterbitkan oleh penerbit B first (PT Bentang Pustaka, Yogyakarta). Buku ini sengaja dipersembahkan penulis untuk semua komika dan calon komika di Nusantara. “Tolong tetap melucu karena negeri ini butuh lebih banyak tawa” pesan Ernest dalam intro buku ini.

Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak