Merawat Luka Keluarga dalam Novel 7 Our Family Karya Kusdina Ain

Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Merawat Luka Keluarga dalam Novel 7 Our Family Karya Kusdina Ain
7 Our Family (Dok.Pribadi/Oktavia)

Selalu ada penulis yang suka menyiksa karakter utama di novel karyanya sendiri. Salah satunya mungkin penulis novel satu ini. Novel 7 Our Family karya Kusdina Ain menghadirkan kisah keluarga yang jauh dari kata hangat. Alih-alih menjadi ruang aman, keluarga justru tampil sebagai sumber luka paling dalam bagi tokoh utamanya, Razi.

Ia adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara yang sejak lahir tak pernah benar-benar diterima keberadaannya. Novel ini menyoroti realitas pahit tentang kehilangan, pengabaian, dan bagaimana trauma yang tidak diolah berubah menjadi kekerasan emosional antar saudara.

Sinopsis Novel 7 Our Family 

Kisah dimulai dengan peristiwa pilu: ibu Razi meninggal dunia saat melahirkannya. Sejak saat itu, Razi kerap dianggap sebagai pembawa sial. Luka keluarga semakin menganga ketika sang ayah memilih pergi dan memulai kehidupan baru. Meninggalkan tujuh anak yang masih sangat muda tanpa pendampingan emosional.

Harta memang ditinggalkan, tetapi kehadiran, kasih sayang, dan tanggung jawab justru absen. Di sinilah novel ini menegaskan satu pesan penting: materi tidak pernah bisa menggantikan peran orang tua.

Tujuh anak itu(Heksa, Jacki, Juan, Jayan, Shaka, Sean, dan Razi) dipaksa tumbuh sebelum waktunya. Mereka belajar bertahan hidup, bekerja, dan menahan keluh kesah sejak usia dini. Namun, tidak semua luka bisa ditahan dengan diam.

Trauma kehilangan yang menumpuk menjelma menjadi kemarahan, dan sayangnya, Razi menjadi sasaran paling empuk. Tiga abang tertuanya (Heksa, Juan, dan Jacki) kerap memperlakukan Razi dengan kasar, seolah seluruh musibah keluarga berakar dari kelahirannya.

Kelebihan dan Kekurangan Novel 7 Our Family 

Di tengah kerasnya konflik, Kusdina Ain menghadirkan Razi sebagai sosok yang justru penuh cahaya. Karakter ini ditulis dengan empati yang kuat. Razi memilih untuk tidak membenci, tidak menyalahkan, dan tetap menyayangi saudara-saudaranya meski terus disakiti.

Ia melihat hidup dari sisi yang lebih lapang, memaknai penderitaan sebagai bagian dari takdir yang harus diterima dengan syukur. Sikap ini membuat pembaca gemas sekaligus pilu. Seolah ingin masuk ke dalam cerita hanya untuk memeluk Razi dan berkata bahwa ia tidak salah apa-apa.

Keseimbangan cerita hadir melalui karakter Jayan dan Shaka. Dua abang ini digambarkan sebagai garda terdepan pelindung Razi. Kehadiran mereka penting, bukan hanya sebagai penetral konflik, tetapi juga sebagai bukti bahwa empati masih mungkin tumbuh di tengah keluarga yang retak.

Dinamika antar tokoh terasa hidup dan tidak hitam-putih; pembaca diajak memahami bahwa kebencian para abang pun lahir dari luka masa kecil yang tak pernah sembuh.

Konflik demi konflik terus menekan Razi. Kecelakaan yang melibatkan Razi dan Sean yang berujung pada kelumpuhan Sean, kembali menempatkan Razi sebagai kambing hitam.

Belum selesai duka itu, rumah mereka hangus terbakar. Lagi-lagi, Razi menjadi pusat amarah. Novel ini seolah tak memberi jeda bagi pembacanya untuk bernapas, sebagaimana hidup para tokohnya yang terus diuji tanpa ampun.

7 Our Family adalah novel yang melelahkan secara emosional, namun justru di situlah kekuatannya. Ia memaksa pembaca berkaca: tentang bagaimana keluarga bisa menjadi tempat paling menyakitkan, dan tentang betapa beratnya memaafkan ketika luka terus dipelihara. Melalui Razi, novel ini mengajarkan makna ketulusan, daya tahan, dan keikhlasan yang tidak naif. Sebuah bacaan yang tidak menawarkan kebahagiaan instan, tetapi meninggalkan bekas lama di hati.

Identitas Buku

  • Judul: 7 Our Family
  • Penulis: Kusdina Ain
  • Penerbit: Rainbook Publishing
  • Sequel: After 7 Our Family (Surat Terakhir dari Ayah)
  • Tahun terbit: 2024
  • Tebal buku: 306 Halaman
  • Genre: Angst, family, slice of life.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak