Detik-Detik yang Menentukan adalah buku memoar politik karya Bacharuddin Jusuf Habibie yang terbit tahun 2006. Buku setebal 549 halaman ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan rekaman personal tentang salah satu fase paling genting dalam perjalanan bangsa Indonesia: transisi Reformasi Mei 1998.
Ditulis berdasarkan catatan harian pribadi Habibie dan arsip pemberitaan media nasional, buku ini menyajikan potret langsung realitas politik yang mencekam, penuh tekanan, dan sarat intrik kekuasaan.
Buku ini merinci detik-detik runtuhnya Orde Baru, termasuk momen krusial 21 Mei 1998, saat Soeharto resmi mengundurkan diri dan kekuasaan beralih kepada Habibie. Peristiwa ini bukan hanya pergantian presiden, tetapi perubahan struktur politik nasional yang menggeser arah sejarah Indonesia.
Pembaca tidak hanya melihat peristiwa, tetapi logika pengambilan keputusan di balik kebijakan-kebijakan besar negara.
Salah satu pesan penting buku ini adalah bahwa politik tidak selalu hitam-putih. Banyak kebijakan negara lahir dari situasi abu-abu: tekanan global, konflik internal, instabilitas ekonomi, dan keterbatasan pilihan.
Habibie berkali-kali menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan soal idealisme murni, tetapi tentang memilih risiko yang paling kecil di antara banyak kemungkinan buruk.
Timor Timur: Keputusan Paling Kontroversial
Salah satu bagian paling “eye-opening” adalah pembahasan soal Timor Timur. Selama ini, Habibie sering dicap sebagai presiden yang “kehilangan” Timtim. Namun buku ini memberi konteks politik, ekonomi, dan diplomatik yang jauh lebih kompleks.
Habibie memaparkan bahwa Timtim bukan wilayah yang secara historis masuk dalam wilayah proklamasi Indonesia, dan secara ekonomi justru menjadi beban besar APBN tanpa kontribusi signifikan bagi pembangunan nasional.
Dari perspektif kebijakan negara, pelepasan Timtim dipresentasikan sebagai keputusan strategis, bukan kelemahan politik. Bahkan, BJ Habibie melihatnya sebagai langkah untuk menghentikan aliran dana ke elite-elite yang selama ini memiliki kepentingan di wilayah tersebut.
Buku ini tidak menghapus kontroversi, tetapi membuka ruang berpikir rasional: bahwa kedaulatan negara juga harus dibaca dalam kerangka keberlanjutan ekonomi dan stabilitas nasional.
Reformasi Struktural Negara
Bagian penting lain adalah perubahan fundamental dalam sistem pemerintahan:
- Desentralisasi kekuasaan dari presiden ke MPR/DPR
- Pemisahan Bank Indonesia dari kendali presiden
- Reformasi ABRI dan pemisahan fungsi militer
- Perubahan fungsi lembaga negara pasca-Orde Baru
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Habibie bukan sekadar transisi simbolik, tetapi transisi struktural. Ia berani mengambil risiko besar demi menciptakan sistem yang lebih demokratis, meski harus menghadapi kritik keras dari berbagai pihak.
Relasi dengan Soeharto
Hubungan panjang Habibie dan Soeharto yang terjalin sejak 1950-an menjadi beban politik tersendiri. Banyak pihak menolak Habibie karena dianggap “murid utama” Soeharto.
Buku ini memperlihatkan sisi personal dari hubungan tersebut, termasuk kerenggangan yang terjadi setelah Habibie menjadi presiden. Relasi ini tidak hanya politis, tetapi emosional, dan justru memperlihatkan sisi manusiawi Habibie sebagai individu, bukan sekadar figur negara.
Buku Sejarah, Bukan Sekadar Memoar
Gaya penulisan buku ini menyerupai laporan akademik: penuh data, pengulangan analisis masalah, pemetaan alternatif solusi, serta penjelasan rasional atas setiap keputusan. Bagi sebagian pembaca, ini terasa berat dan repetitif. Namun justru di situlah kekuatannya: buku ini tidak menjual drama, tetapi proses berpikir kepemimpinan.
Meski terdapat sisi religius dalam bentuk doa-doa yang ditulis Habibie, itu justru memperlihatkan dimensi spiritual dalam pengambilan keputusan politik, bahwa kekuasaan juga dijalani sebagai beban moral, bukan sekadar jabatan struktural.
Detik-Detik yang Menentukan adalah buku pengantar yang sangat kuat bagi siapa pun yang ingin memahami politik Indonesia modern. Ia menghadirkan konflik kekuasaan, intrik elite, transisi sistem negara, serta dilema moral seorang pemimpin dalam krisis nasional.
Ini bukan buku propaganda, juga bukan buku netral mutlak. Ini adalah memoar kekuasaan dalam situasi darurat sejarah. Dan justru karena itu, ia penting dibaca terutama menjelang momen-momen politik besar seperti pemilu.
Buku ini mengajarkan satu hal penting: sejarah tidak dibentuk oleh orang sempurna, tetapi oleh manusia biasa yang dipaksa mengambil keputusan luar biasa dalam situasi yang nyaris mustahil.
Identitas Buku
- Judul: Detik-Detik yang Menentukan (Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi)
- Penulis: Bacharuddin Jusuf Habibie
- Penerbit: THC Mandiri
- Tahun Terbit: 2006
- Tebal Halaman: 549 Halaman
- ISBN: 979-99386-6-x
- Kategori: Non Fiksi, Sejarah, autobiografi