Ketika kita memilih untuk menikahi seseorang, kita tidak sekedar memilih orangnya. Tapi juga luka batin, trauma, leluhur, genetika, hingga masa lalunya.
Hal ini yang seringkali dilupakan oleh banyak pasangan. Tak heran, mereka sering terlambat menyadari bahwa ternyata ada banyak konflik yang bisa terjadi ketika tidak bisa berdamai dengan segala hal yang melekat pada diri pasangan. Termasuk luka batin yang ia peroleh dari warisan keluarga secara turun temurun.
Hal itulah yang dibahas dalam buku berjudul I Do: Family Constellation Guide to Next Level Relationship karya Meilinda Sutanto. Buku ini menjelaskan tentang kiat menjalin sebuah hubungan yang bebas dari trauma dan luka batin yang diwariskan oleh leluhur. Adapun pendekatan yang dilakukan adalah dengan metode konstelasi keluarga.
Metode konstelasi keluarga sendiri telah dijelaskan lebih lanjut dalam buku Meilinda Sutanto sebelumnya berjudul Family Constellation. Adapun buku kedua ini lebih mengerucut pada bagaimana penerapan metode tersebut dalam sebuah pernikahan.
Ada beberapa hal menarik yang saya dapatkan selama membaca buku ini. Khususnya bagaimana cara memutus mata rantai dari beberapa konflik yang terjadi dalam pernikahan. Pada beberapa kasus seperti KDRT, perselingkuhan, hingga pasangan yang punya banyak red flags, ternyata diawali oleh adanya trauma turun-temurun yang belum sembuh.
Fakta menariknya, ketika mencari pasangan, ternyata kita cenderung mencari yang sefrekuensi. Dalam artian, kita menarik orang-orang yang dengan getaran serupa untuk saling menyembuhkan.
Inilah yang menjadi alasan, mengapa seorang anak yang tumbuh dalam keluarga yang disfungsional cenderung akan mengulang hal tersebut pada keluarga barunya kelak. Pasangan yang bercerai akan besar peluangnya untuk mengulang angka perceraian pada anak cucunya dengan konflik yang sama persis.
Trauma yang belum pulih cenderung akan menarik calon yang tepat untuk mengulangi kejadian tersebut guna memberi kesempatan dalam mengimbangi sisi yang terluka di dalam sistem keluarga. Jadi, mesti ada satu generasi yang menjadi cyclebreaker atau pemutusan rantai trauma.
Oleh karena itu, penting adanya untuk mempersiapkan dan memperbaiki diri masing-masing sebelum menikah. Jangan menikah hanya karena ikut-ikutan atau karena bucin sesaat dengan pasangan.
Serius nikah dan siap nikah itu dua hal yang berbeda. Kita sebaiknya tidak hanya mengidentifikasi kesiapan menikah dari calon pasangan dan keluarganya, tetapi juga berkaca pada diri sendiri tentang siap atau tidak.
Jangan mengharapkan kesiapan calon jika diri sendiri saja tidak siap. Sebab, riset membuktikan bahwa kasus perceraian paling banyak terjadi bukan karena perselingkuhan dan masalah keuangan, melainkan kurangnya dukungan dari pihak keluarga. Utamanya pihak mertua atau orang tua itu sendiri.
Hal yang tak kalah penting diperhatikan adalah urutan prioritas keluarga. Dalam sebuah keluarga inti, yang menempati urutan pertama adalah pasangan, anak pertama, anak kedua, dan seterusnya. Pasangan adalah prioritas utama yang harus diisi tangki cintanya. Setelah itu baru ke anak pertama, lalu anak kedua. Dan ketika seluruh anggota keluarga intinya terpenuhi kebutuhannya, barulah ia bisa memberi perhatian pada orang tuanya ataupun saudaranya.
Jika seorang anak suatu hari nanti menikah, maka ia telah keluar dari keluarga intinya yang lama dan membangun keluarga inti yang baru bersama pasangannya. Dan skala prioritas sebaiknya tetap diberlakukan.
Ketika kita bisa menerapkan skala prioritas ini dengan tepat, konflik antar pasangan, orang tua dan anak, hingga mertua dan menantu dapat diminimalkan.
Bagi saya pribadi, buku ini bukan sekedar bacaan yang yang tepat untuk menjadi referensi pranikah, tetapi juga bekal untuk membangun keluarga hingga kelak akan menjadi orang tua yang mampu berdamai dan melepas anak-anak untuk membangun keluarganya sendiri.
Jadi, bagi Sobat Yoursay butuh bacaan yang insightful tentang pernikahan, keluarga, dan cara mengatasi trauma yang sudah terjadi secara turun temurun, buku yang satu ini jangan sampai dilewatkan!
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS