Jika kamu seorang perempuan yang telah menikah dan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga saja, berbagai macam stigma kadang dilekatkan pada statusmu.
Ada yang menilai bahwa menjadi ibu rumah tangga itu enak, tidak perlu bersusah payah bekerja karena dipenuhi seluruh kebutuhannya oleh suami. Tetapi tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa menjadi ibu rumah tangga itu justru adalah peran sangat melelahkan untuk dijalani karena 24 jam harus mengurus semuanya tanpa imbalan dan hari libur. Jarang diapresiasi, tidak pula memiliki gaji.
Kalau kamu termasuk golongan kedua, buku berjudul 'Zona Produktif Ibu Rumah Tangga' karya Andi Ria Burhan bisa menjadi bacaan yang barangkali menghibur keresahan tersebut. Selain itu, topik ini dikemas dalam sudut pandang Islam sehingga bisa menjadi bacaan yang sarat dengan nuansa spiritual.
Adapun isinya membahas tentang bagaimana peran sebagai ibu rumah tangga itu adalah sesuatu yang tetap layak dijalani meski tanpa apresiasi. Justru kehadiran seorang perempuan yang memilih untuk mendedikasikan waktunya untuk keluarga dan rumah adalah sebuah hal yang sangat berharga.
Sayangnya, seringkali seorang perempuan dicibir atas pilihannya untuk berada di rumah saja. Entah dianggap tidak produktif, pengangguran, hingga status yang dianggap sebagai beban suami.
Padahal beban pekerjaan rumah tangga sudah cukup membuktikan bahwa seorang ibu rumah tangga tak kalah sibuk dengan seorang ibu yang memilih untuk bekerja.
Lewat buku ini, penulis memberikan gambaran bahwa meskipun hanya berada di rumah, seorang ibu pun tidak kalah produktif. Khususnya peran ibu sebagai subjek utama yang menemani tumbuh kembang anak-anaknya.
Selain urusan pekerjaan domestik dan membesarkan anak-anak, seorang ibu pun bisa memilih untuk memberdayakan dirinya dengan memanfaatkan waktu luang di sela-sela kesibukannya di rumah. Bisa dengan menambah skill, menekuni hobi, atau pun mengikuti kajian online yang bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan rumah dan anak-anaknya.
Meskipun kadang realitanya seorang ibu kerap merasa burnout dengan kesibukan yang tidak ada habisnya dan kegiatan yang itu-itu saja. Terkadang anak-anak tantrum dan sulit diatur. Belum lagi pada beberapa perempuan yang harus menghadapi tipe suami patriarki yang enggan membantu pekerjaan rumah.
Terkadang perasaan lelah menghampiri karena kita terlalu perfeksionis. Ingin segalanya serba sempurna dan ideal. Hingga pada akhirnya terlalu memaksakan diri. Oleh karena itu, kita perlu menetapkan batasan untuk diri sendiri.
Penulis menekankan bahwa mengerjakan pekerjaan rumah hendaknya sewajarnya saja agar kita punya waktu untuk melakukan hal lain seperti belajar, me time, dan istirahat.
Pembaca juga diingatkan bahwa menghadapi persoalan dalam rumah tangga memang membutuhkan keikhlasan.
Kelebihan dari buku ini adalah isinya yang mencerminkan kasus nyata yang dihadapi oleh seorang ibu rumah tangga. Penulis memadukan dalil agama, nasihat, dan pengalaman pribadinya menjadi sebuah narasi yang menyentuh.
Hanya saja, saya pribadi agak tidak nyaman dengan pemilihan diksi yang digunakan penulis. Beberapa kalimat terasa terlalu menggurui dan minim riset dari sumber yang lebih kredibel.
Pengalaman pribadi yang diangkat oleh penulis di buku ini juga kurang relate bagi banyak orang. Terlalu menggenaralisir dan meromantisasi peran ibu rumah tangga. Pada realitanya, ada banyak konflik yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga yang penyelesaiannya tidak sesederhana mengharapkan pahala dan selalu bersabar.
Tapi terlepas dari hal tersebut, buku ini cukup inspiratif. Bagi pembaca yang lebih suka bacaan Islami yang ringan, sederhana, dan penuh nilai moral tentang peran sebagai ibu rumah tangga, buku ini bisa menjadi bacaan yang menarik untuk disimak!