Belajar Menerima Kenyataan Pahit di Novel Sadajiwa karya Erlita Scorpio

Bimo Aria Fundrika | Oktavia Ningrum
Belajar Menerima Kenyataan Pahit di Novel Sadajiwa karya Erlita Scorpio
Sadajiwa (Dok.Pribadi/Oktavia)

Sadajiwa adalah novel fiksi populer karya Erlita Scorpio. Penulis yang dikenal luas melalui platform menulis daring seperti Wattpad sebelum akhirnya karya-karyanya dibukukan secara resmi.

Seperti banyak penulis generasi digital, Erlita membawa gaya penceritaan yang dekat dengan pembaca muda. Emosional, cepat, namun tetap menyimpan lapisan konflik yang kompleks. Sadajiwa menjadi salah satu bukti bagaimana cerita yang lahir dari ruang daring dapat berkembang menjadi novel yang matang dan berkesan.

Sinopsis Novel Sadajiwa

Novel ini mengajak pembaca masuk ke ruang gelap batin tokoh utamanya. Sebuah kutipan yang kuat menjadi pintu masuk cerita. “Aku masuk ke ruang gelap, agar aku tidak bisa lagi melihatmu. Agar aku juga tidak bisa lagi mengingatmu. Karena yang aku pikirkan sekarang, bagaimana cara bisa keluar dari sana dan hidup tanpa dirimu?”.

Kalimat ini merangkum tema utama Sadajiwa. Pelarian dari masa lalu, luka yang belum sembuh, dan usaha bertahan hidup setelah kehilangan.

Tokoh utama, Sadajiwa, digambarkan sebagai sosok laki-laki yang terjebak dalam bayang-bayang masa lalunya. Ia bukan tipe tokoh yang heroik atau penuh keyakinan. Justru sebaliknya, Sadajiwa hidup dalam keraguan, kesulitan mengambil keputusan, dan dibebani konflik besar yang memaksanya menyimpan banyak rahasia.

Beban psikologis inilah yang membuat ceritanya terasa berat namun relevan. Terutama bagi pembaca remaja dan dewasa muda yang akrab dengan rasa bimbang terhadap masa depan.

Kehidupan Sadajiwa mulai berubah ketika Noura Elrin hadir. Noura digambarkan sebagai perempuan cantik, cerdas, dan sedikit “barbar” dalam artian berani, spontan, dan tak mudah mundur.

Karakter Noura menjadi kontras yang menarik bagi Sadajiwa yang tertutup dan penuh perhitungan. Ia bukan tipe tokoh perempuan pasif yang hanya mengikuti alur hidup tokoh utama laki-laki. Justru kehadirannya sering kali menjadi pemicu konflik baru.

Relasi Sadajiwa dan Noura diibaratkan seperti pecahan kaca. Hancur, tajam, dan berbahaya. Tetapi justru dari kehancuran itulah mereka saling menemukan. Kisah cinta yang disajikan bukan romansa manis penuh adegan klise, melainkan hubungan yang tumbuh dari luka, kesalahpahaman, dan kondisi psikologis yang tidak ideal. Inilah yang membuat cerita terasa menyedihkan sekaligus manusiawi.

Kelebihan dan Kekurangan Novel

Dari segi alur, Sadajiwa dikenal tidak mudah ditebak. Konflik berkembang perlahan namun konsisten, membuat pembaca terus hanyut hingga akhir. Meski temanya berat, gaya bahasa Erlita tetap ringan dan mengalir, sehingga novel ini cocok dibaca sebagai bacaan populer untuk remaja. Sederhananya novel satu ini bisa dibilang “ringan tapi menusuk”, karena emosi yang disajikan terasa dekat dengan pengalaman nyata.

Pertanyaan besar yang menggantung sepanjang cerita adalah apa yang sebenarnya terjadi pada Noura Elrin, dan mengapa kehadirannya seolah merusak semua rencana Sadajiwa? Jawaban atas pertanyaan ini membawa pembaca pada kesadaran pahit bahwa tidak semua harapan berakhir nyata. Ketika Sadajiwa dan Noura menyadari bahwa mereka hanya menggenggam mimpi indah, mereka juga menyadari bahwa sosok yang mereka harapkan mungkin tidak pernah benar-benar ada.

Pada akhirnya, Sadajiwa bukan sekadar kisah cinta, melainkan refleksi tentang kehilangan, ilusi, dan proses menerima kenyataan. Novel ini menunjukkan bahwa kadang, yang paling menyakitkan bukanlah perpisahan, melainkan kesadaran bahwa apa yang kita perjuangkan sejak awal mungkin hanyalah bayangan.

Identitas Buku

  • Judul: Sadajiwa
  • Penulis: Erlita Scorpio
  • Penerbit: Kata Depan
  • Kategori: Novel
  • ISBN: 978-623-7567-38-7
  • Tebal : 364 Halaman
  • Tahun Terbit: 2021
  • Genre: Fiksi Remaja

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak