Film Penunggu Rumah: Buto Ijo, Horor Janji Lama yang Menagih Harga

Lintang Siltya Utami | Khoirul Umar
Film Penunggu Rumah: Buto Ijo, Horor Janji Lama yang Menagih Harga
Penunggu Rumah: Buto ijo (instagram/filmbutoijo)

Film Penunggu Rumah: Buto Ijo yang tayang di bioskop ini menghadirkan horor yang tidak hanya bertumpu pada sosok makhluk gaib, tetapi juga pada konflik manusia dan kesalahan masa lalu yang belum terselesaikan. Film ini memanfaatkan mitos Buto Ijo sebagai fondasi cerita, lalu mengembangkannya menjadi kisah teror yang berakar pada janji, hutang, dan konsekuensi.

Cerita berpusat pada sebuah keluarga yang pindah ke rumah tua peninggalan leluhur dengan harapan memulai kehidupan yang lebih baik. Namun, ketenangan yang mereka cari justru berubah menjadi mimpi buruk. Rumah tersebut ternyata memiliki penunggu yang terikat pada perjanjian lama.

Teror muncul secara perlahan, dimulai dari gangguan kecil hingga ancaman nyata yang membahayakan anggota keluarga, terutama sang anak. Dari sinilah konflik berkembang dan membuka lapisan rahasia masa lalu yang selama ini ditutupi.

Secara naratif, Penunggu Rumah: Buto Ijo memilih pendekatan bertahap. Film ini tidak terburu-buru memperlihatkan sumber teror, melainkan membangun rasa tidak nyaman sejak awal melalui suasana rumah, keheningan yang berkepanjangan, serta detail-detail visual yang menimbulkan kecurigaan. Pendekatan ini sejalan dengan tren horor atmosferik yang lebih mengandalkan tensi psikologis dibanding kejutan instan.

Sosok Buto Ijo dalam film ini tidak digambarkan sekadar sebagai makhluk penakut. Ia hadir sebagai simbol dari kesepakatan gelap dan keserakahan manusia. Teror yang ditimbulkan bukan tanpa alasan, melainkan reaksi atas janji yang dilanggar. Dengan pendekatan tersebut, film ini mencoba menawarkan horor yang memiliki makna, bukan hanya menampilkan adegan menegangkan tanpa konteks.

Dari sisi penyutradaraan, film ini cukup konsisten menjaga nuansa mencekam. Tata suara berperan penting dalam membangun atmosfer, terutama melalui suara-suara samar yang muncul di saat sunyi.

Sinematografi cenderung gelap dengan komposisi yang menekan, memperkuat kesan bahwa rumah tersebut bukan lagi ruang aman. Namun, di beberapa bagian, ritme cerita terasa melambat dan berpotensi menguji kesabaran penonton yang mengharapkan perkembangan konflik lebih cepat.

Akting para pemain, khususnya pemeran tokoh ibu, menjadi salah satu kekuatan film ini. Emosi ketakutan dan kebingungan ditampilkan dengan cukup meyakinkan, sehingga konflik terasa lebih manusiawi. Meski demikian, beberapa karakter pendukung masih terasa kurang tergarap secara mendalam dan lebih berfungsi sebagai penggerak cerita dibanding individu dengan latar yang kuat.

Secara visual, penampilan Buto Ijo dibuat cukup menahan diri. Makhluk tersebut tidak sering diperlihatkan secara penuh, sebuah keputusan yang efektif untuk menjaga aura misteri. Ketika kemunculannya terjadi, dampaknya terasa lebih kuat karena telah didahului oleh pembangunan suasana yang panjang. Walau efek visual di beberapa adegan terlihat sederhana, kekuatan atmosfer membantu menutup keterbatasan tersebut.

Dari segi pesan, Penunggu Rumah: Buto Ijo menegaskan bahwa masa lalu tidak bisa dikubur begitu saja. Kesalahan dan janji yang diingkari akan selalu menemukan jalannya untuk kembali. Film ini menyampaikan kritik terhadap sikap manusia yang mengabaikan konsekuensi demi keuntungan sesaat, dengan horor sebagai medium penyampaiannya.

Secara keseluruhan, Penunggu Rumah: Buto Ijo merupakan film horor yang berupaya menghadirkan cerita berlapis dan atmosfer yang kuat. Meski belum sepenuhnya lepas dari kelemahan ritme dan pengembangan karakter, film ini tetap menawarkan pengalaman menonton yang cukup solid, terutama bagi penikmat horor yang menyukai cerita pelan, gelap, dan sarat makna. Film ini tidak hanya meninggalkan rasa takut, tetapi juga kegelisahan yang bertahan setelah layar bioskop gelap.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak