Gelandangan di Kampung Sendiri merupakan buah karya Emha Ainun Najib yang pertama kali terbit pada 1995 dan kini diterbitkan kembali dengan sampul baru yang sangat kuat secara visual. Sampul buku menampilkan lukisan orang-orang yang mengantre gas digambarkan dalam tabung gas berwarna seperti botol azul, sebuah metafora visual tentang derita rakyat kecil yang harus berhadapan dengan kebutuhan dasar yang terasa semakin mahal dan sulit dijangkau. Bahkan dari sampulnya saja, pembaca sudah diajak masuk ke realitas getir rakyat jelata.
Buku ini merupakan kumpulan esai yang membahas berbagai isu sosial, politik, budaya, hingga agama pada masa Orde Baru. Namun menariknya, hampir seluruh gagasan di dalamnya masih terasa relevan dengan kondisi hari ini. Hal tersebut seolah menegaskan bahwa persoalan bangsa ini tidak banyak berubah meskipun telah berlalu lebih dari dua puluh lima tahun.
Sinopsis
Pokok bahasan utama yang secara tegas ditekankan dalam buku ini adalah polaritas antara pemerintah dan rakyat. Keduanya berjalan di jalur masing-masing. Pemerintah hidup dengan status borjuis, sementara rakyat kembali pada kehidupan proletarnya. Rakyat kerap ditempatkan sebagai objek dari berbagai keputusan pemerintah. Akibatnya pun beragam: penggusuran, kesengsaraan, dan ketidakadilan yang berulang.
Cak Nun dengan lantang menyatakan bahwa sejatinya rakyat adalah juragan, sementara pejabat hanyalah jongos. Namun dalam realitas yang dikritiknya, justru banyak jongos yang memperbudak juragan. Pemerintah dan rakyat seolah hanya bertemu dalam perhelatan lima tahunan bernama pemilu. Setelah pemilu usai, masing-masing kembali pada posisi semula yang berkuasa tetap berkuasa, dan yang terpinggirkan kembali terpinggirkan.
Setiap bab dalam buku ini memiliki subbab tersendiri dengan fokus pembahasan yang berbeda-beda. Ditulis dengan gaya bahasa khas Emha Ainun Najib yang keras, pedas, namun diselingi humor. Humor tersebut kerap memancing tawa, tetapi juga menghadirkan rasa perih karena pembaca diajak menatap langsung lika-liku kehidupan rakyat yang benar-benar menjadi “gelandangan di kampungnya sendiri”.
Esai-esai ini berangkat dari kesadaran sosial dan berakhir sebagai tamparan kritik, salah satunya melalui pembahasan tentang pembangunan Waduk Kedung Ombo yang berujung pada penggusuran rakyat.
Pada bagian Pengaduan I, pembaca diperkenalkan pada isu sosial buruh dan pembangunan. Pengaduan II memperlihatkan persinggungan antara persoalan sosial-politik dengan agama. Di bagian Ekspresi, kritik menjadi semakin panas dan tajam, termasuk menyinggung tokoh-tokoh penting seperti Gus Dur serta persoalan demonstrasi. Sementara pada bagian Visi, cakupan pembahasan semakin luas.
Meski demikian, masyarakat bawah yang digambarkan dalam buku ini tidak sepenuhnya pasrah. Muncul tokoh Pak Guru Mataki, sosok yang berupaya membangkitkan kesadaran dan semangat warganya agar tidak terpecah saat pemilu. Ia juga mengangkat isu emansipasi perempuan, terutama tentang kehidupan “wanita karier” yang kerap diagung-agungkan di kota.
Menurutnya, perempuan desa sejatinya juga perempuan karier: mereka berdagang, ke sawah, mengurus anak, dan menjalankan berbagai peran sekaligus. Perbedaannya hanyalah mereka tidak memakai jas atau sepatu pantofel. Tokoh ini menjadi simbol masyarakat yang tetap aktif, kritis, dan sadar terhadap kebijakan serta persoalan di lingkungannya.
Kelebihan dan Kekurangan Buku
Buku ini berhasil membahas isu politik, sosial, dan budaya dengan bahasa yang sangat membumi dan mudah dipahami, bahkan oleh Gen Z maupun Gen Alpha sekalipun. Struktur esainya yang terpisah-pisah membuat pembaca bisa memulai dari bab mana pun tanpa kehilangan konteks besar. Gaya bahasa Cak Nun yang lugas, kritis, dan humoris membuat isu berat terasa lebih dekat dan manusiawi.
Kekurangan
Di sisi lain, karena buku ini merupakan kumpulan esai yang lahir dari konteks zaman tertentu, beberapa istilah, peristiwa, dan tokoh mungkin terasa asing bagi pembaca generasi sekarang yang tidak memiliki latar pengetahuan sejarah Orde Baru. Selain itu, gaya kritik Cak Nun yang sangat tajam dan emosional bisa terasa berulang di beberapa bagian, sehingga bagi sebagian pembaca mungkin menimbulkan kesan repetitif.