Penerbangan Terakhir merupakan film garapan sutradara Benni Setiawan yang sudah tayang sejak 15 Januari 2026. Ya, saya baru sempat menontonnya kemarin. Awalnya, saat saya melihat sinopsisnya di situs bioskop, saya membayangkan filmnya akan membahas "penyelesaian kasus pemerkosaan di dalam bandara".
Rupanya, bukan itu tema utama filmnya. Tema utama film ini adalah "manipulasi dan main perempuan". Satu pilot bermasalah, seorang wanita maniak drama, dan pramugari-pramugari yang kacau dan dikacaukan adalah tokoh-tokoh dari film ini.
Tokoh dan temanya mungkin sederhana, isiannya sangat... rumit. Perlu diperingatkan bahwa film ini adalah film untuk usia 17 tahun ke atas dan memiliki bahasan bunuh diri serta adegan yang sedikit tidak senonoh. Tidak mengandung pornografi, memang. Namun, ada implikasi adegan tak senonoh yang bisa mengganggu para penonton.
Tanpa bermaksud membocorkan isi filmnya, izinkan saya menceritakan isu-isu apa saja yang diangkat film ini.
Pilot Main Perempuan dan Judol

Filmnya dimulai dari Kapten Deva, sang pilot, berbuat mesum dengan salah satu pramugari dalam penerbangannya (Sebuah kejutan yang tak pernah saya duga dan sedikit mengganggu saya). Lalu, kita diperkenalkan dengan Tiara, seorang pramugari yang nantinya bertemu Kapten Deva. Ternyata, Deva adalah asisten pelatih basket Tiara pada masa sekolahnya dulu dan dikenal baik oleh keluarga Tiara yang terdiri dari ibu dan adiknya, Indah.
Dari sini, Deva mulai mengirimi Tiara hadiah. Dari sesederhana bunga dan makanan hingga rumah tinggal. Pahitnya, Deva ternyata menelepon temannya untuk "segera deposit" kebutuhan judol.
Lalu, Deva rupanya menikahi Nadia, wanita yang bekerja sebagai pembuat konten, dan mengingkari janjinya akan menikahi Tiara. Dari acara pernikahan Deva dan Nadia, ternyata ada wanita lain yang sempat jadi korban perselingkuhan Deva.
Sebenarnya, ada lebih banyak lagi detail yang membuktikan bahwa Deva ini orang yang kurang bertanggung jawab dan suka main perempuan serta gila judi daring dalam filmnya.
Sekarang, mari kita bahas Nadia yang menjadi "istri pilihan" Deva. Mengapa dia penting? Karena ia adalah wanita yang "agak lain" dalam film ini.
Seorang Istri Maniak Drama

Setelah Deva menikahi Nadia (sambil berusaha meyakinkan Tiara bahwa ia 'sangat mencintainya' dan akan 'berusaha menceraikan Nadia si Gila Bermental Korban'), kita akan menyadari bahwa Nadia bekerja sebagai pembuat konten dan sengaja dinikahi Deva untuk membantunya membayar hutang judol yang berjumlah miliaran rupiah.
Bagaimana kita bisa tahu Nadia ini "agak lain"? Jawabannya ada pada satu adegan: Deva pulang bekerja, Nadia langsung memaki marah dan mengatakan bahwa ia "memiliki bukti" entah apa maksudnya (mungkin wajar jika penonton berpikir ini tentang Deva berselingkuh begitu Nadia menunjukkan sebuah kotak). Nadia memberikan Deva sebuah kotak berisi puntung rokok dan Deva berkilah bahwa menghentikan kebiasaannya merokok itu sulit.
Lalu, dari beragam peristiwa, Nadia akhirnya tahu bahwa Deva juga memiliki hubungan dengan Tiara. Dengan beragam cara, ia "berperang melawan Tiara". Di sini pulalah, kita tahu sedahsyat apa kekuatan media sosial.
Marah dengan Tiara yang dikira menggoda suaminya, Deva, Nadia menggunakan medsosnya untuk menggiring masyarakat berpikir bahwa Tiara membuat Deva "bermain serong". Gegara itu, seluruh indekos Tiara merekam Tiara sambil bergosip mengenai "main dengan suami orang" tanpa tahu bahwa Tiara tidak mau lagi berhubungan dengannya.
Tiara pun akhirnya dipecat dari tempat kerjanya. Sebuah tragedi, memang. Anak gadis, hidup harmonis dengan ibu dan adiknya, ditipu lelaki main perempuan dan diserang pembuat konten yang "gila", berakhir kehilangan kerja dan tersenyum getir atas kehancuran hidupnya sendiri (walau ia optimis akan berjuang lagi dalam hidup).
Dari tragedi Tiara, kita bisa lanjut membahas perspektif Tiara sebagai korban manipulasi.
Manipulasi dan Medsos, dari Sudut Pandang Korban Asli

Sejauh ini, kita tahu Tiara memiliki keluarga harmonis, keluarganya sempat kenal Deva, ia sakit hati dan tak mau berurusan lagi dengan Deva, namun berakhir hancur karena faktor gabungan dari ketiadaan tanggung jawab Deva dan serangan medsos Nadia.
Tetapi, kita juga perlu membahas bagaimana Tiara agak putus asa dengan kenyataan hidupnya sebelum bisa bangkit dengan senyum yang sedikit dipaksakan, terutama di bagian akhir.
Setelah melihat Deva ternyata menikah dengan Nadia, Tiara membanting semua foto Deva dan bahkan menusuk bola basket pemberiannya. Lalu, Deva terus bersimpuh dan "berusaha" meyakinkan Tiara untuk kembali mencintainya dengan argumen "Ya, aku salah. Tapi aku punya alasan" ditambah menanam rasa bersalah padanya (Ya, dia berusaha bunuh diri. Untung saja jatuh ke kolam).
Tidak hanya berurusan dengan Deva yang memaksanya mencintainya lagi, Tiara harus menghadapi drama medsos Nadia. Sudah dibilang tak ada hubungan, Nadia tetap yakin sekali Tiara ingin merebut suaminya dan tak mau tahu.
Jadilah Tiara nyaris putus asa, terutama saat Nadia menyebar narasi palsu mengenai hubungan Tiara dan Deva. Tiara sempat protes ingin menyuarakan "apa yang menurutnya benar" pada warganet saat bertengkar dengan temannya.
Pada akhirnya, Tiara tidak melawan dan kembali pada ibunya yang sempat khawatir dan sakit setelah ditelepon oleh Indah. Ini memang satu kenyataan pahit dalam hidup: Kadang, orang yang ditipu tidak dapat melawan balik karena beragam faktor.
Kesimpulan akhirnya sederhana dan menusuk. Media sosial adalah tempat yang terkadang menghakimi dengan keras, hampir sama dengan film Budi Pekerti. Lalu, masih ada ketimpangan antara lelaki dan wanita dalam kehidupan sosial (tonton saja filmnya untuk paham buktinya), dan bermain judol bisa membuat mental ambyar (mungkin, Deva suka main perempuan dan kurang bertanggung jawab karena ikut pusing memikirkan hutang judolnya).