Psikologi di Balik Hadirnya Do Ra-mi dalam 'Can This Love Be Translated?'

Hayuning Ratri Hapsari | Davina Aulia
Psikologi di Balik Hadirnya Do Ra-mi dalam 'Can This Love Be Translated?'
Can This Love be Translated (Netflix.com)

Drama 'Can This Love Be Translated?' adalah serial drama Korea terbaru yang dirilis di Netflix pada 16 Januari 2026. Drama ini ditulis oleh Hong Sisters dan disutradarai oleh Yoo Young-eun. Diperankan oleh Kim Seon-ho sebagai Joo Ho-jin, seorang penerjemah multibahasa yang tenang dan logis, serta Go Youn-jung sebagai Cha Mu-hee, seorang aktris yang tiba-tiba menjadi fenomena global setelah perannya sebagai Do Ra-mi dalam sebuah film zombie menjadi sangat populer.

Cerita mengikuti hubungan profesional yang berkembang menjadi romantis antara Ho-jin dan Mu-hee, penuh dengan perjalanan lintas negara dari Korea, Jepang, Kanada, hingga Italia, serta kesalahpahaman emosional yang terus muncul sepanjang seri.

Di balik beragam lanskap romantis, muncul dinamika batin Mu-hee yang sangat kompleks, terutama ketika alter ego Do Ra-mi mulai mengambil alih perilakunya dalam situasi emosional tertentu. Kemunculan Do Ra-mi bukan sekadar gimmick naratif, tetapi representasi psikologis dari luka masa kecil Mu-hee. Bagaimana trauma masa kecil dapat memengaruhi bahasa batin dan ekspresi cinta seseorang?

Do Ra-mi: Manifestasi Trauma dalam Diri Mu-hee

Dalam 'Can This Love Be Translated?', Do Ra-mi awalnya dikenal sebagai peran yang diperankan Mu-hee dalam film zombie yang melambungkan namanya sebagai aktris internasional. Namun seiring berjalannya cerita, Do Ra-mi berubah menjadi alter ego psikologis yang muncul dalam kesadaran Mu-hee, sering kali tanpa konteks eksplisit yang jelas. Representasi ini bukan hanya soal perubahan gaya bicara atau kostum, tetapi mencerminkan bagian diri Mu-hee yang lebih bebas dalam mengekspresikan emosi yang ia tekan.

Perbedaan karakter terlihat jelas di layar. Dalam beberapa scene, Mu-hee berbicara sopan, formal, dan terkendali. Namun begitu Do Ra-mi mengambil alih, gaya bahasa dan perilakunya berubah drastis. Lebih santai, ekspresif, bahkan impulsif, seolah mewakili bagian Mu-hee yang selama ini tersimpan. Perbedaan ini tidak hanya estetis, tetapi psikologis, di mana Do Ra-mi menjadi simbol dari konflik batin Mu-hee yang belum terselesaikan.

Trauma Kompleks Masa Kecil yang Mengakar

Salah satu aspek psikologis paling kuat dalam karakter Mu-hee adalah latar trauma masa kecilnya. Seperti diungkap dalam beberapa ulasan dan penjelasan ending drama, Do Ra-mi terhubung langsung dengan pengalaman Mu-hee di masa lalu, termasuk hubungan traumatis dengan ibunya yang pernah mencoba membunuh ayahnya dan Mu-hee. Kejadian ini menjadi titik awal luka batin yang terus memengaruhi cara Mu-hee berinteraksi dengan dunia.

Adegan ketika Mu-hee mengalami panik intens atau rasa takut ditinggalkan oleh seseorang yang dicintainya sering kali diikuti oleh kemunculan Do Ra-mi. Dalam konteks psikologi, fenomena ini bisa dipahami sebagai mekanisme bertahan (coping mechanism) , yaitu cara seseorang untuk melindungi diri dari rasa sakit emosional yang tidak mampu dihadapi secara sadar. Do Ra-mi berbicara dan bertindak seolah-olah ia tahu apa yang seharusnya dilakukan untuk menjauhkan Mu-hee dari rasa sakit, bahkan jika itu berarti mendorong orang yang dicintainya pergi.

Mengomunikasikan Emosi yang Tidak Tersampaikan

Ho-jin, sebagai interpreter, terbiasa menerjemahkan kata dan makna literal antar bahasa. Namun ia justru mengalami kesulitan ketika harus menerjemahkan bahasa Mu-hee yang sering hadir dalam bentuk Do Ra-mi.

Ketika Do Ra-mi muncul di depan Ho-jin dalam beberapa adegan, Ho-jin menjadi saksi perubahan drastis dalam sikap Mu-hee. Do Ra-mi tampak lebih gampang memanggil Ho-jin dengan sapaan intim dan menunjukkan perasaan secara eksplisit, sementara Mu-hee seringkali merunduk dalam ketakutannya sendiri.

Hal ini mencerminkan realitas psikologis bahwa trauma dapat menghambat kemampuan seseorang untuk mengartikulasikan perasaan terdalamnya secara konsisten. Do Ra-mi, sebagai manifestasi batin, menjadi semacam bahasa alternatif Mu-hee, meskipun sering kali justru menimbulkan salah tafsir dalam relasinya dengan Ho-jin.

Antara Ketakutan dan Keberanian: Proses Integrasi Diri

Salah satu perjalanan psikologis utama Mu-hee adalah proses mengenali dan menghadapi ketakutannya sendiri. Do Ra-mi pada akhirnya bukan hanya sekadar penghalang hubungan, tetapi juga cerminan internal dari bagian diri Mu-hee yang belum diterima. Do Ra-mi merupakan representasi trauma terinternalisasi, bagian dari self yang muncul ketika Mu-hee berada di titik emosional yang penuh tekanan.

Dalam adegan akhir saat Mu-hee mulai memahami asal muasal kekhawatirannya, ia tidak lagi melawan Do Ra-mi sebagai musuh, tetapi mulai memahami bagaimana bagian itu terbentuk sebagai bagian dari strategi bertahan hidupnya. Proses ini menunjukkan bahwa penyembuhan batin bukanlah menghapus bagian diri yang terluka, tetapi memahami dan mengintegrasikannya ke dalam keseluruhan identitas yang utuh.

Drama ‘Can This Love Be Translated?’ tidak hanya menawarkan kisah cinta lintas bahasa dan budaya, tetapi juga narasi mendalam tentang bahasa batin, trauma masa kecil, dan integrasi identitas diri. Lewat Mu-hee dan alter egonya, Do Ra-mi, drama ini memvisualisasikan bagaimana luka masa lalu tetap hidup dalam bentuk yang tidak selalu kita sadari, bahkan ketika kita berbicara tentang cinta.

Seperti kutipan dalam drama tersebut: “Every emotion has its own language, and sometimes the hardest language to understand is our own.” Perjalanan Mu-hee bukan hanya soal menemukan cinta, tetapi belajar berbicara dalam bahasa luka dan cinta itu sendiri.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak