Novel "Saman" karya Ayu Utami, yang pertama kali terbit pada tahun 1998, bukan sekadar karya fiksi biasa. Ia adalah sebuah monumen dalam kesusastraan Indonesia yang menandai lahirnya era "Sastra Wangi" sekaligus mendobrak tabu-tabu sosial, politik, dan seksualitas yang selama puluhan tahun terkungkung di bawah rezim Orde Baru.
Melalui struktur narasi yang kompleks dan bahasa yang puitis namun lugas, Ayu Utami menyajikan sebuah potret kelam tentang kemanusiaan, penindasan, dan pencarian jati diri.
"Saman" tidak mengikuti alur linear konvensional. Ceritanya dijalin melalui perspektif beberapa tokoh utamanya, Wisanggeni (yang kemudian berganti nama menjadi Saman), serta empat sahabat perempuan, Laila, Shakuntala, Cok, dan Yasmin.
Pusat gravitasi cerita ini terletak pada sosok Wisanggeni, seorang mantan pastor yang mendedikasikan hidupnya untuk membela hak-hak petani karet di Prabumulih, Sumatra Selatan.
Perlawanannya terhadap perusahaan besar yang didukung militer membuatnya menjadi buronan politik. Ia disiksa, dipenjara, hingga akhirnya melarikan diri ke luar negeri dengan identitas baru sebagai Saman.
Di sisi lain, pembaca disuguhi dinamika kehidupan empat perempuan perkotaan yang bergulat dengan seksualitas, cinta terlarang, dan standar ganda moralitas masyarakat.
Salah satu kekuatan utama Saman adalah keberaniannya memotret kekejaman aparat negara. Ayu Utami dengan sangat detail menggambarkan bagaimana perlawanan rakyat kecil dihancurkan oleh keserakahan korporasi dan kekerasan militer.
Tokoh Saman merepresentasikan nurani yang menolak diam. Transformasinya dari seorang pemuda religius menjadi aktivis radikal menunjukkan pergulatan batin yang hebat antara ketaatan pada institusi agama dan panggilan untuk menegakkan keadilan sosial. Novel ini dengan tajam mengkritik bagaimana agama terkadang menjadi mandul ketika berhadapan dengan struktur kekuasaan yang opresif.
Ayu Utami mengeksplorasi sisi spiritualitas dengan cara yang sangat personal dan seringkali provokatif. Melalui latar belakang Wisanggeni sebagai pastor, pembaca diajak merenungkan makna selibat, pengabdian, dan keraguan terhadap Tuhan. Dialog-dialog batin Wisanggeni mencerminkan krisis iman yang jujur bahwa mencintai Tuhan tidak bisa dipisahkan dari mencintai sesama manusia yang menderita.
Penggunaan elemen mitologi, seperti kisah tentang Susi dan fenomena supranatural di masa kecil Wis memberikan warna realisme magis yang memperkaya dimensi spiritual dalam novel ini. Hal ini menunjukkan bahwa realitas manusia tidak hanya dibentuk oleh hal-hal fisik, tetapi juga oleh memori dan trauma masa lalu.
Saman dianggap revolusioner karena cara pandangnya terhadap tubuh dan seksualitas perempuan. Melalui tokoh Laila, Shakuntala, Cok, dan Yasmin, Ayu Utami membedah hasrat perempuan yang selama ini dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka di Indonesia.
Laila mewakili dilema moral perempuan yang mencintai pria beristri. Shakuntala mewakili pemberontakan terhadap konsep patriarki melalui seni tari. Cok merepresentasikan kebebasan seksual tanpa beban moral tradisional. Yasmin menunjukkan kompleksitas antara intelektualitas, persahabatan, dan pengkhianatan cinta.
Penulisan adegan seksual dalam novel ini tidak bersifat pornografis, melainkan sebagai bentuk otonomi atas tubuh sendiri. Seks dipandang sebagai bagian integral dari kemanusiaan yang setara dengan pencarian keadilan politik.
Ayu Utami memiliki gaya bahasa yang sangat khas, intelek, puitis, namun memiliki ritme yang cepat. Ia mampu berpindah dari deskripsi teknis tentang alat-alat pengeboran minyak ke refleksi filosofis yang mendalam tanpa terasa janggal. Penggunaan sudut pandang orang pertama dan ketiga yang berganti-ganti memberikan kedalaman psikologis pada setiap karakter.
Novel "Saman" adalah sebuah karya yang berani menantang arus. Ia adalah kesaksian atas sebuah zaman di mana suara-suara dibungkam dan tubuh-tubuh dijajah. Ayu Utami berhasil menyatukan isu-isu besar seperti hak asasi manusia dan korupsi politik dengan isu-isu privat yang sangat intim.
Membaca "Saman" hari ini tetap terasa relevan karena tema-tema mengenai ketidakadilan sosial, hipokrisi agama, dan perjuangan hak perempuan masih terus berdenyut di masyarakat kita.
Novel ini bukan hanya sebuah cerita tentang pelarian seorang lelaki bernama Saman, melainkan sebuah undangan bagi pembaca untuk mempertanyakan kembali batas-batas moralitas dan kebebasan dalam hidup mereka sendiri.
Meskipun bagi sebagian pembaca struktur alurnya mungkin terasa membingungkan atau kontennya terlalu berani, tidak dapat dipungkiri bahwa "Saman" telah mengubah lanskap sastra Indonesia selamanya.
Identitas Buku
Judul: Saman
Penulis: Ayu Utami
Penerbit: KPG
Tanggal Terbit: 1 Januari 2001
Tebal: 197 Halaman
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS