Menyelami Buku Empat Arketipe: Warisan Psikis Manusia Menurut Carl Gustav Jung

Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Menyelami Buku Empat Arketipe: Warisan Psikis Manusia Menurut Carl Gustav Jung
Empat Arketipe (Dok. Pribadi/Oktavia)

Dalam sejarah psikologi modern, nama Carl Gustav Jung menempati posisi unik. Ia bukan hanya murid Sigmund Freud, tetapi juga pemikir yang berani melangkah keluar dari psikoanalisis klasik untuk membangun gagasannya sendiri yaitu psikologi analitikal.

Salah satu konsep paling berpengaruh dari Jung adalah arketipe. Gagasan tentang pola-pola dasar kejiwaan yang diwariskan dan hidup di dalam ketidaksadaran manusia. Konsep inilah yang menjadi inti pembahasan dalam buku yang sering dirujuk sebagai Empat Arketipe. Buku ini banyak menjadi rujukan psikologi modern.

Isi Buku

Jung menolak pandangan tabula rasa, yaitu anggapan bahwa manusia lahir sebagai “kertas kosong” yang sepenuhnya dibentuk oleh pengalaman. Sebaliknya, ia percaya bahwa manusia membawa warisan psikis nenek moyangnya.

Warisan ini bersemayam dalam ketidaksadaran kolektif, sebuah lapisan terdalam jiwa yang tidak berisi pengalaman pribadi, melainkan simbol, pola, dan citra universal yang dimiliki semua manusia lintas budaya dan zaman. Jung mula-mula menyebutnya sebagai primordial images atau gambaran purba yang menjadi fondasi cara kita memahami dunia.

Arketipe tidak dipelajari, melainkan bawaan, universal, dan turun-temurun. Ia berfungsi mengatur bagaimana manusia mengalami hal-hal tertentu: mencintai, takut, berharap, beriman, atau menghadapi kematian. Meskipun bersifat universal, ekspresi arketipe selalu dipengaruhi budaya dan pengalaman pribadi. Karena itu, satu arketipe bisa muncul dalam wujud yang berbeda-beda pada setiap individu atau masyarakat.

Jung mengidentifikasi banyak arketipe, dan ia menegaskan bahwa jumlahnya tidak terbatas. Namun, dalam buku Empat Arketipe, pembahasan difokuskan pada empat tema besar yang merepresentasikan struktur mendalam kepribadian manusia.

Empat Bagian ala Carl G.Jung

Bagian pertama membahas arketipe ibu. Arketipe ini mencakup kualitas pemeliharaan, cinta kasih, perlindungan, dan penghiburan. Namun, Jung menekankan sifat ambivalennya: sosok ibu juga mengandung sisi gelap seperti misteri, kegelapan, dan daya menghancurkan.

Dari sinilah muncul konsep Mother Complex, gangguan psikologis akibat dominasi arketipe ibu. Dampaknya berbeda pada laki-laki dan perempuan. Dari pencarian figur ibu pada pasangan hingga kehilangan identitas diri karena terlalu melekat pada sosok ibu.

Bagian kedua membahas arketipe kelahiran kembali, yang erat kaitannya dengan pengalaman religius dan spiritual. Jung menguraikan lima bentuk kelahiran kembali: metempsikosis, reinkarnasi, kebangkitan, renovatio, dan transformasi. Semua proses ini terjadi di ranah psikis, bukan fisik. Melalui ritual, simbol, dan pengalaman religius, manusia mengalami perluasan kepribadian dan transformasi makna hidup.

Menariknya, Jung juga menganalisis simbol kelahiran kembali dalam Surah Al-Kahfi, termasuk kisah Ashabul Kahfi, Nabi Musa dan Nabi Khidir, serta Zulkarnain. Sebuah contoh dialog lintas budaya dan agama dalam psikologi.

Bagian ketiga mengulas fenomenologi roh dalam dongeng. Jung melihat dongeng sebagai ekspresi ketidaksadaran kolektif yang diwariskan turun-temurun. Roh sering muncul sebagai orang tua bijaksana, guru, atau kakek tua yang memberi petunjuk. Namun, roh juga bermuka dua. Dia bisa menuntun, tetapi juga menyesatkan. Melalui analisis dongeng dari berbagai budaya, Jung menunjukkan simbol-simbol penting seperti anima, animus, serta pola triad dan tetrad.

Kesimpulan

Bagian terakhir membahas arketipe penipu (trickster), figur licik, ambigu, dan penuh kontradiksi. Ia adalah perwujudan bayangan dalam diri manusia. Bagian yang munafik, bodoh, namun sering menyamar sebagai penyelamat. Arketipe ini tampak dalam praktik takhayul, ritual absurd, hingga fenomena keagamaan yang kehilangan makna substansial.

Pada akhirnya, buku Empat Arketipe menegaskan bahwa arketipe adalah “penghuni lama” kepribadian manusia. Ketika kesadaran ego tak mampu mengatasi konflik hidup, arketipe dapat muncul sebagai neurosis. Jung melihat agama, mitos, dan simbol sebagai sarana penting untuk menyalurkan dan menenangkan pemberontakan arketipe tersebut. Buku ini bukan sekadar kajian psikologi, melainkan undangan untuk memahami kembali kedalaman jiwa manusia sebagai makhluk simbolik dan spiritual.

Identitas Buku

  • Judul Buku: Empat Arketipe
  • Penulis: Carl Gustav Jung
  • Penerbit: IRCiSoD
  • Penerjemah: Aquarina Kharisma Sari
  • Tahun Terbit: 2020
  • ISBN: 978-623-7378-86-0
  • Tebal: 232 Halaman
  • Genre: Psikologi

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak