Mamoru Hosoda Kembali dengan Scarlet: Adaptasi Hamlet yang Memukau

M. Reza Sulaiman | Ryan Farizzal
Mamoru Hosoda Kembali dengan Scarlet: Adaptasi Hamlet yang Memukau
Poster film Scarlet (IMDb)

Dalam dunia animasi Jepang yang kian matang, Mamoru Hosoda kembali hadir dengan karya ambisius berjudul Scarlet. Disutradarai oleh Hosoda yang terkenal lewat Wolf Children (2012), The Boy and the Beast (2015), dan Belle (2021), film ini tayang perdana di Festival Film Venesia 2025 sebelum dirilis secara luas.

Scarlet bukan sekadar anime fantasi biasa, melainkan adaptasi gender-swapped dari tragedi Shakespeare, Hamlet, dengan protagonis utama seorang putri pemberani bernama Scarlet. Dengan durasi 111 menit, genre fantasi-aksi-drama ini memadukan elemen supernatural, balas dendam, dan refleksi filosofis tentang duka, pengampunan, serta kehidupan setelah kematian.

Visualnya yang memukau dan narasi yang mendalam menjadikannya salah satu rilisan anime terbaik 2025 meski tidak luput dari kritik atas kedalaman emosionalnya.

Perjalanan Balas Dendam Scarlet di Alam Kematian

Salah satu adegan di film Scarlet (instagram.com/sonypicturesid)
Salah satu adegan di film Scarlet (instagram.com/sonypicturesid)

Cerita dimulai di abad pertengahan Eropa yang gelap dan misterius, saat Scarlet (disuarakan oleh Yui Ishikawa dalam versi Jepang) adalah putri seorang raja yang tewas dibunuh oleh pamannya sendiri yang haus kekuasaan. Mirip dengan perjuangan Hamlet, Scarlet menyaksikan pembunuhan itu secara langsung. Namun, sebagai seorang wanita muda yang terikat norma patriarkal, ia gagal membalas dendam saat itu.

Kegagalan ini memicu keputusasaan mendalam yang secara tak terduga melemparnya ke Dunia Kematian, sebuah alam fantasi lintas waktu tempat roh-roh penasaran, makhluk mitos, dan bayangan masa lalu bercampur aduk. Di sini, Scarlet bertemu Hijiri (disuarakan oleh Kento Yamazaki), seorang pemuda misterius yang menjadi sekutu sekaligus cermin dirinya, serta karakter pendukung seperti peri pembalas dendam dan hantu ayahnya yang haus keadilan.

Tanpa spoiler, ya, untuk plotnya sendiri Scarlet bergerak dinamis melalui tiga babak utama: duka awal, eksplorasi dunia lain, dan klimaks konfrontasi. Hosoda dengan cerdik menggabungkan elemen Shakespeare, seperti monolog batin tentang "to be or not to be", dengan mitologi Jepang tentang yurei (hantu) dan perjalanan roh.

Balas dendam bukan hanya aksi pedang dan sihir, melainkan perjalanan introspeksi: apakah amarah bisa menyembuhkan luka atau justru memperpanjang siklus kekerasan? Scarlet berevolusi dari gadis rapuh menjadi pejuang tangguh, tetapi Hosoda tidak membuatnya sempurna; keraguannya terasa autentik, mencerminkan trauma korban kekerasan keluarga.

Review Film Scarlet

Salah satu adegan di film Scarlet (instagram.com/sonypicturesid)
Salah satu adegan di film Scarlet (instagram.com/sonypicturesid)

Secara visual, Scarlet adalah pesta mata. Studio Chizu, kolaborator Hosoda, menghadirkan animasi 2D yang halus bercampur CGI minimalis untuk adegan aksi. Latar belakang abad pertengahan yang kelam kontras dengan dunia kematian yang penuh warna neon, seperti kastil hantu bercahaya biru atau hutan roh berbunga sakura hitam.

Setiap frame terasa hidup, terutama dalam sekuens pertarungan saat pedang Scarlet berubah menjadi ekstensi emosinya, memotong bukan hanya musuh, melainkan juga ilusi masa lalu. Penggunaan cahaya dinamis, dari bayangan panjang senja hingga kilauan roh, menambah lapisan emosional. Meski ada kritik atas CGI yang kadang wonky di bagian transisi dunia, secara keseluruhan ini adalah karya seni yang menyaingi Spirited Away dalam keindahannya.

Musik oleh Masakatsu Takagi, yang juga terlibat di Belle, menjadi tulang punggung emosi. Skor orkestra campur elektronik menciptakan ketegangan yang mencekam, terutama di monolog Scarlet yang disertai biola sendu. Lagu tema "Echoes of Scarlet" oleh Aimer menambah nuansa melankolis, membuat penonton ikut merenung. Pengisi suara pun prima: Ishikawa membawa kedalaman vokal pada Scarlet, dari bisikan duka hingga teriakan amarah, sementara Yamazaki sebagai Hijiri menawarkan keseimbangan romantis yang subtil. Karakter pendukung, seperti paman penjahat (disuarakan oleh Ken Watanabe), tidak sekadar antagonis; ia punya lapisan kompleksitas, membuat penonton mempertanyakan siklus dendam.

Tema utama Scarlet adalah pengampunan di tengah trauma. Hosoda, yang sering mengeksplorasi keluarga dan kehilangan, kali ini menantang narasi balas dendam konvensional. Film ini bilang: revenge mungkin memuaskan sementara, tetapi compassion—bukan pedang—yang menyembuhkan. Ini relevan di era pascapandemi, di mana banyak orang bergulat dengan grief. Namun, beberapa reviewer menilai arc ini terlalu idealis, kurang gelap seperti Hamlet asli, dan cerita tidak menawarkan insight baru soal gender atau supernatural.

Aku memuji ambisinya sebagai pacifist revenge parable dan Hosoda sendiri yang meredam potensi perasaan dendam demi fokus pada healing. Secara keseluruhan, Scarlet adalah karya Hosoda yang paling berani meski bukan sempurna. Ia mengajak penonton ke perjalanan visual dan emosional yang tak terlupakan, cocok untuk penggemar anime dewasa. Rating dariku 8.5/10. Untuk kamu yang suka Your Name atau Princess Mononoke, ini wajib banget ditonton.

Untuk jadwal di Indonesia sendiri, Scarlet tayang pada bulan Desember 2025 di bioskop seluruh Indonesia. Kalau kamu sudah menonton, bagikan pendapatmu di kolom komentar.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak