"Margareth, satu peluru saja cukup untuk mengakhiri semuanya malam ini."
Suara itu datang dari sudut gelap ruang tamu apartemen lantai ke-27, tempat cahaya neon dari papan reklame di seberang jalan menyelinap masuk melalui celah tirai setipis kertas. Margareth tidak menoleh. Ia tetap duduk di sofa kulit yang sudah usang, memegang secangkir teh chamomile yang sudah dingin sejak dua jam lalu.
"Kalau kau benar-benar ingin mengakhiri, kenapa tidak langsung menarik pelatuknya?" tanyanya tanpa nada takut, hanya lelah.
Pria itu—karena ia tak pernah punya nama yang tetap—melangkah keluar dari kegelapan. Mantel panjang hitamnya masih basah oleh hujan deras di luar. Di tangan kanannya, sebuah revolver tua, model yang sudah jarang terlihat di kota ini sejak larangan senjata api tahun 2031.
"Bukan aku yang akan menembak," katanya pelan. "Kau yang akan melakukannya. Satu peluru. Untuk dirimu sendiri."
Margareth akhirnya menoleh. Matanya yang biru pucat bertemu dengan mata Si Bayang yang selalu berubah warna—kadang abu-abu seperti asap, kadang hitam pekat seperti minyak tumpah di genangan air hujan.
"Kenapa aku harus melakukan itu?" tanyanya. "Aku sudah mati tiga tahun lalu. Kau tahu itu."
Si Bayang tersenyum tipis, hampir tak terlihat. "Justru karena kau sudah mati, kau bisa mati lagi. Dan kali ini permanen."
Cerita Margareth dimulai pada malam ketika jam menunjukkan pukul 03.17, tanggal 17 Maret 2023. Ia melompat dari balkon apartemen yang sama, lantai ke-27, setelah membaca pesan terakhir dari pacarnya: foto cincin kawin di jari sahabatnya sendiri. Tubuhnya menghantam trotoar dengan kekuatan yang seharusnya memastikan kematian instan. Namun, petugas forensik hanya menemukan genangan darah aneh—darah itu menguap dalam hitungan menit, meninggalkan bau logam dan ozon yang menusuk.
Sejak saat itu, Margareth kembali. Bukan hantu, bukan zombi. Ia tetap bisa disentuh, bisa berdarah (meski darahnya selalu menguap), bisa makan, bisa merasakan dingin hujan. Namun, ia tidak menua. Rambut pirangnya tetap sepanjang bahu, kulitnya tetap pucat sempurna seperti porselen yang tak pernah retak. Dan yang paling membingungkan: setiap kali ia mencoba mengakhiri hidup lagi—mati, overdosis, melompat lagi, memotong nadi—ia selalu terbangun keesokan paginya di tempat tidur yang sama, luka sudah lenyap tanpa bekas.
Ia menyebutnya "kutukan reset".
Dan Si Bayang adalah satu-satunya saksi.
"Kau ingat aturan yang kukatakan tiga tahun lalu?" tanya Si Bayang sambil duduk di kursi berlawanan.
"Bahwa aku hanya boleh mati dengan satu peluru. Bukan dengan cara lain."
"Benar. Dan malam ini adalah malam ke-1.095 sejak kematian pertamamu. Hitungan mundur selesai."
Margareth menatap revolver di tangan Si Bayang. Logamnya terlalu gelap, hampir menyerap cahaya neon yang masuk. Pelurunya, satu-satunya isian di magasin, berkilau keperakan dengan ukiran halus yang tak bisa dibaca mata manusia biasa.
"Apa yang akan terjadi kalau aku menolak?" tanyanya.
"Kau akan terus hidup seperti ini. Selamanya. Melihat gedung-gedung runtuh dan dibangun ulang, teman-temanmu menua dan mati, kota ini berubah wajah berkali-kali, tetapi kau tetap sama. Margareth yang mati, tetapi tidak pernah benar-benar pergi."
Margareth menatap ke luar jendela. Hujan masih deras. Di bawah sana, lampu-lampu mobil bergerak seperti sel darah di nadi kota yang tak pernah tidur. Tiba-tiba ia teringat sesuatu yang belum pernah ia ceritakan.
"Aku pernah mencoba mencintai lagi," katanya pelan. "Dua tahun lalu. Namanya Lukas. Programmer yang tinggal di lantai ke-19. Dia tidak tahu aku... seperti ini. Aku hampir memberitahunya semuanya. Namun, malam sebelum aku akan mengaku, dia tertabrak truk sampah di depan gedung. Sopirnya mabuk. Lukas mati di tempat."
Si Bayang diam.
"Aku sempat berpikir itu kebetulan," lanjut Margareth. "Namun, kemudian aku sadar... setiap kali aku mulai merasa hidup lagi, sesuatu selalu mengambilnya dariku. Seperti ada kuota kebahagiaan yang boleh kumiliki. Dan kuota itu sudah habis sejak malam aku melompat."
Si Bayang mengangguk pelan. "Itu bukan kebetulan. Itu bagian dari aturan."
"Siapa yang membuat aturan itu?"
"Aku."
Margareth tertawa kecil, suara yang kering seperti daun musim gugur. "Kau? Siapa sebenarnya kau?"
Si Bayang meletakkan revolver di meja kopi di antara mereka. "Aku adalah penutup. Aku ada untuk memastikan cerita berakhir dengan benar. Namun, ceritamu rusak. Kau seharusnya mati malam itu. Namun, sesuatu—entitas yang lebih tua dari aku—menolak melepasmu. Ia bosan dengan kematian biasa. Ia ingin melihat apa yang terjadi kalau seseorang dibiarkan terjebak di antara hidup dan mati terlalu lama."
Margareth menatap pistol itu lama sekali.
"Satu peluru," gumamnya. "Dan semuanya selesai?"
"Ya. Tidak ada reset lagi. Tidak ada kebangkitan. Hanya kegelapan yang sebenarnya."
Margareth mengulurkan tangan. Jari-jarinya dingin ketika menyentuh gagang revolver. Ia mengangkatnya, merasakan berat yang aneh—seperti memegang lubang hitam kecil yang berdenyut.
"Apa yang akan kau lakukan setelah aku mati?" tanyanya.
"Aku akan pergi ke cerita berikutnya. Ada seorang anak di Buenos Aires yang seharusnya mati kemarin, tetapi masih bernapas. Dia menungguku."
Margareth tersenyum tipis. "Kau seperti petugas kebersihan alam semesta."
"Mungkin."
Ia membuka mulut, menempelkan moncong revolver di langit-langit mulutnya. Bau logam dan ozon semakin kuat, menusuk hidung.
"Margareth," kata Si Bayang pelan. "Apakah kau yakin?"
Margareth menutup mata.
"Bukan soal yakin," jawabnya. "Ini soal akhirnya bisa berhenti bernapas."
Jari telunjuknya menekan pelatuk.
Dentuman itu menggema di seluruh apartemen, tetapi anehnya tidak ada yang mendengar dari luar. Darah menyembur, tetapi seperti biasa, ia mulai menguap hampir seketika. Tubuh Margareth ambruk ke belakang, mata terbuka lebar menatap langit-langit.
Si Bayang berdiri. Ia mengambil revolver kosong itu, memasukkannya ke dalam mantel.
Namun, sesuatu berbeda kali ini.
Darah yang menguap tidak lenyap sepenuhnya. Ia membentuk pola di udara—huruf-huruf samar yang hanya terbaca oleh mata tertentu.
TERIMA KASIH.
Si Bayang membeku sejenak. Ia belum pernah melihat itu sebelumnya.
Kemudian ia berbalik dan berjalan menuju pintu. Di luar, hujan masih turun. Kota tetap berdenyut, tidak peduli satu jiwa telah benar-benar pergi.
Di sofa, tubuh Margareth tetap tergeletak. Namun, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia tidak bangun keesokan harinya.
Dan di suatu tempat yang tak terlihat, sebuah entitas yang lebih tua dari Si Bayang tersenyum tipis.
Karena akhirnya, setelah 1.095 hari, cerita itu selesai.
Bukan dengan ledakan besar, bukan dengan drama kosmik.
Hanya dengan satu peluru.
Dan sebuah terima kasih yang terlambat.