Menyelinap ke Pikiran Ayah

M. Reza Sulaiman | Ryan Farizzal
Menyelinap ke Pikiran Ayah
Ilustrasi gambar cerpen Menyelinap ke Tubuh Ayah (Gemini AI/ Nano Banana)

Ayah, kenapa kamu selalu pulang larut malam?" tanya Lovi sambil menatap ayahnya yang baru saja masuk ke apartemen kecil mereka di pusat kota Surabaya.

Ayahnya, Pak Budi, melempar tas kerjanya ke sofa dan menghela napas panjang. "Kerja, Vi. Kota ini tidak pernah tidur. Kamu harus belajar mandiri."

Dia berjalan ke dapur, membuka kulkas yang hampir kosong, dan menuang air ke gelas. Lovi, gadis berusia 17 tahun dengan rambut pendek hitam dan mata cokelat tajam, mengikuti dari belakang. Mereka tinggal di gedung apartemen tua di kawasan Darmo, tempat suara klakson mobil dan hiruk-pikuk pedagang kaki lima selalu menyusup melalui jendela tipisnya.

Lovi bukan anak biasa. Di sekolahnya, SMA elit di tengah kota, dia dikenal sebagai jenius teknologi. Namun, rahasianya lebih dalam: dia punya akses ke perangkat eksperimental yang dicuri dari laboratorium ayahnya. Pak Budi adalah insinyur di perusahaan bioteknologi raksasa yang mengembangkan implan neural untuk mengobati penyakit mental. Implan itu, disebut NeuroLink, bisa menghubungkan pikiran manusia dengan mesin. Namun, Lovi melihat potensi lain. Dia ingin tahu kenapa ayahnya berubah, dari ayah penyayang menjadi pria dingin yang jarang bicara sejak ibunya meninggal dua tahun lalu.

Malam itu, setelah ayahnya tidur, Lovi duduk di kamarnya yang penuh kabel dan layar komputer. Kota di luar jendela berkilauan dengan lampu neon dari gedung-gedung pencakar langit. Dia mengenakan headset VR yang dimodifikasi, terhubung ke NeuroLink ayahnya melalui sinyal Bluetooth rahasia.

"Ini gila," gumamnya pada diri sendiri. "Tapi aku harus tahu apa yang ada di kepalanya."

Dengan satu klik, dunia Lovi berputar. Tubuhnya tetap di kursi, tetapi kesadarannya menyelinap ke tubuh ayahnya. Sensasinya aneh: napas berat, otot pegal dari kerja seharian, dan pikiran yang berlapis-lapis seperti kabut tebal. Dia, atau ayahnya, bangun dari tempat tidur, melihat ke cermin. Wajah ayahnya menatap balik, tetapi mata itu milik Lovi.

"Ini berhasil," bisiknya dalam hati.

Pagi berikutnya, Lovi mengendalikan tubuh ayahnya pergi ke kantor. Kota Surabaya terasa berbeda dari perspektif ini. Jalanan macet di Jalan Basuki Rahmat, bau asap knalpot bercampur aroma kopi dari warung pinggir jalan. Di kantor, rekan ayahnya menyapa.

"Budi, kamu kelihatan segar hari ini."

Lovi tersenyum melalui bibir ayahnya, sesuatu yang jarang dilakukan Pak Budi. Dia mengakses file rahasia di komputer kantor: proyek NeuroLink sebenarnya untuk mengontrol karyawan, bukan menyembuhkan. Ayahnya terlibat karena terjebak utang setelah kematian ibu.

Namun, ada hal yang lebih dalam. Di pikiran ayahnya, Lovi menemukan memori tersembunyi. Gambar ibu tersenyum di Pantai Anyer, tetapi bukan dengan ayah, melainkan dengan pria lain.

"Ayah tahu?" Lovi terkejut.

Rasa sakit hati ayahnya membanjiri: pengkhianatan dan kesedihan yang disembunyikan demi Lovi. Itulah sebabnya ayahnya menjauh dan bekerja keras untuk melupakan.

Saat istirahat makan siang, Lovi membawa tubuh ayahnya ke taman kota di Taman Bungkul. Duduk di bangku kayu, di bawah pohon trembesi yang rindang, dia merasakan angin sepoi menyentuh kulit. Anak-anak bermain bola, pasangan berjalan bergandengan.

"Ayah, aku mengerti sekarang," gumam Lovi lewat suara ayahnya.

Tiba-tiba, alarm berbunyi di pikirannya. Sistem keamanan NeuroLink mendeteksi intrusi.

Kembali ke apartemen, tubuh Lovi yang asli mulai gemetar. Dia harus keluar. Namun sebelum itu, dia meninggalkan pesan di pikiran ayahnya: "Aku tahu semuanya. Maafkan aku, Ayah, tapi kita bisa mulai lagi."

Dengan susah payah, kesadarannya kembali ke tubuh sendiri. Ayahnya bangun, terengah-engah, menyentuh kepalanya.

"Vi? Apa yang terjadi?"

Mereka bertatapan di ruang tamu. Kota malam di luar mulai hujan deras, air mengguyur jendela.

"Aku... menyelinap ke tubuhmu, Yah," aku Lovi, suaranya gemetar.

Pak Budi terdiam, lalu tertawa pelan. Tawa pertama sejak lama. "Kamu seperti ibumu, nekat dan pintar."

Dia menceritakan semuanya: pengkhianatan ibu, utang perusahaan, dan ketakutannya kehilangan Lovi.

Bersama, mereka merencanakan sesuatu. Lovi meretas sistem perusahaan dari rumah, sementara ayahnya dari dalam. Malam itu, di kafe dekat Stasiun Gubeng, mereka bertemu informan, seorang hacker lain yang tahu rahasia NeuroLink.

"Ini bisa mengubah dunia," kata informan itu. Namun, bahaya mengintai: agen perusahaan mengejar.

Puncaknya terjadi di atap gedung tinggi di kawasan Tunjungan. Hujan deras, lampu kota berkedip di bawah. Ayah dan Lovi dikejar. Dalam tubuh ayahnya lagi, Lovi melompat dari satu gedung ke gedung lain, adrenalin memuncak.

"Keluar sekarang!" teriak Ayah di pikiran.

Lovi kembali ke tubuhnya yang aman di apartemen, sementara ayahnya melawan.

Akhirnya, mereka berhasil. Data bocor ke publik. Perusahaannya runtuh, ayahnya pun bebas. Ia kembali ke apartemen, mereka duduk bersama.

"Terima kasih, Vi. Kamu menyelamatkan Ayah."

Lovi memeluk ayahnya. Kota Surabaya, dengan segala kekacauannya, terasa seperti rumah lagi. Namun, rahasia tetap ada: Lovi bisa menyelinap lagi kapan saja. Dan kota ini penuh dengan misteri baru.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak