Film Waru yang dirilis pada 12 Februari 2026 di seluruh bioskop Indonesia adalah salah satu entri horor lokal paling dinanti di awal tahun ini.
Disutradarai oleh Chiska Doppert—sutradara yang telah membuktikan kemampuannya dalam genre horor melalui karya-karya sebelumnya seperti Pulung Gantung: Pati Ngendat dan Maju Seram Mundur Horor—film ini mengusung durasi 88 menit dengan rating D17.
Diproduksi oleh kolaborasi Adglow Pictures, Suraya Filem, dan Film Q, Waru mengangkat mitos urban legend Indonesia tentang pohon waru sebagai sarang energi gelap dan perjanjian pesugihan berdarah.
Tayang perdana tepat di tengah bulan Februari, film ini langsung menjadi pembicaraan di kalangan pencinta horor, terutama karena premisnya yang berakar kuat pada kearifan lokal Jawa.
Sinopsis: Tragedi Keluarga dan Permohonan Terakhir

Sinopsis Waru dimulai dari tragedi keluarga yang tragis. Lydia (Dewi Amanda), seorang ibu yang terpasung di rumah karena sering mengalami kerasukan dan mengancam nyawa orang-orang terdekatnya, memohon kepada keponakannya, Nadine (Bella Graceva), untuk memusnahkan sebuah pohon waru terkutuk di kampung halaman orang tuanya. Pohon itu diyakini sebagai tempat bersemayam Iblis Waru, jin jahat yang haus tumbal.
Permintaan Lydia semula dianggap sebagai delusi orang sakit jiwa. Akan tetapi, setelah kematiannya, teror mistis mulai menghantui Nadine, Adrian (Zikri Daulay), Anya (Jinan Safa), dan Haqi (Sean Mikhail). Rasa bersalah dan gangguan gaib yang semakin nyata mendorong mereka untuk pergi ke rumah tua di tengah hutan. Di sana, akar-akar pohon yang hidup dan mampu memenggal kepala korban menjadi ancaman mematikan.
Penemuan surat perjanjian beraksara Jawa kuno mengungkap rahasia kelam: Lydia pernah membuat kesepakatan dengan Iblis Waru demi kemakmuran keluarga pasca-perceraian, dengan bayaran tumbal kepala manusia setiap tahun.
Kedatangan Reza (Josiah Hogan) dan Sarah (Syarifah Husna) semakin memperumit konflik, sementara sosok nenek gaib yang diperankan Yati Surachman—perwujudan Iblis Waru—menjadi momok yang tak terlupakan.
Secara produksi, Waru menonjol karena lokasi syuting yang autentik. Pengambilan gambar dilakukan di Bogor, Sukabumi, Solo, dan lereng Gunung Lawu, menciptakan atmosfer hutan yang gelap dan mencekam.
Sinematografi oleh C.K. Boon dari Malaysia memberikan nuansa gelap yang intens, dengan pencahayaan rendah yang membuat setiap bayangan terasa hidup.
Sound design-nya juga patut diacungi jempol; suara angin menderu, bisikan aneh, dan gemuruh akar pohon yang merayap berhasil membangun ketegangan psikologis tanpa bergantung sepenuhnya pada jumpscare murahan.
Chiska Doppert, sebagai sutradara, berhasil menyatukan elemen horor supernatural dengan drama keluarga yang dalam. Naskah karya Ery Sofid tidak hanya menyajikan teror, tapi juga kritik halus terhadap ambisi manusia yang rela berkorban segalanya demi kekayaan.
Ulasan Film Waru

Pemeran utama memberikan penampilan solid. Bella Graceva sebagai Nadine adalah jangkar emosional film ini; ia menyampaikan campuran rasa bersalah, ketakutan, dan tekad dengan meyakinkan.
Zikri Daulay sebagai Adrian—suami Nadine yang karirnya sedang naik daun—menghadirkan konflik batin antara ambisi duniawi dan tanggung jawab keluarga.
Dewi Amanda sebagai Lydia mencuri perhatian di adegan pembuka dengan ekspresi kesurupan yang mengerikan, sementara Yati Surachman sebagai Iblis Waru memberikan kehadiran yang ikonik, mirip dengan sosok-sosok hantu legendaris dalam horor Indonesia klasik.
Chemistry antarpemain muda seperti Jinan Safa dan Sean Mikhail menambah dinamika grup yang realistis, meski kadang terasa sedikit klise dalam dialog mereka.
Tema utama Waru adalah kutukan warisan keluarga dan bahaya pesugihan. Film ini mengingatkan penonton pada mitos pohon waru yang memang hidup di masyarakat Jawa—pohon yang konon tak boleh ditebang sembarangan karena menjadi pintu gerbang makhluk halus.
Lebih dari sekadar horor, Waru mengeksplorasi bagaimana ambisi materi bisa menghancurkan ikatan keluarga. Perjanjian gaib yang dibuat demi kesejahteraan pasca-perceraian menjadi metafor kuat tentang korban yang tak terlihat dalam pencarian kekayaan.
Elemen akar pohon yang pemenggal kepala bukan hanya efek visual mengejutkan, tapi juga simbol dari tumbal yang terus menuntut. Film ini juga menyentuh isu trauma generasi, di mana rahasia masa lalu orang tua menjadi beban bagi anak-anaknya.
Kelebihan Waru terletak pada autentisitas budayanya. Berbeda dengan horor Indonesia yang sering mengandalkan hantu urban modern, film ini kembali ke akar mitologi lokal dengan cara yang segar. Terornya bertahap, membangun dari ketakutan psikologis hingga klimaks yang mencekam.
Akan tetapi, ada kekurangannya menurutku, beberapa plot twist terasa predictable bagi kamu yang udah sering lihat film horor, dan karakter pendukung kadang kurang mendalam, membuat mereka terlihat ngang-ngong. Alur juga agak terburu-buru di akhir, seolah ingin menyelesaikan segalanya dalam waktu singkat.
Secara keseluruhan, Waru adalah film horor yang solid untuk pecinta genre lokal. Den, tanggapan positif di media sosial menunjukkan potensinya sebagai sleeper hit. Bagi yang suka film seperti Suzzanna atau Danur, ini wajib ditonton di bioskop untuk merasakan teror kolektif.
Rating pribadi dariku 7.5/10. Tayang mulai 12 Februari 2026, jangan lewatkan kesempatan merinding bersama teman atau keluarga—tapi mungkin jangan sendirian di malam gelap.