Mendalami Sensualitas dan Cinta Paling Liar dalam Film Wuthering Heights

Sekar Anindyah Lamase | Athar Farha
Mendalami Sensualitas dan Cinta Paling Liar dalam Film Wuthering Heights
Wuthering Heights (IMDb)

Sejak detik pertama, Film Wuthering Heights yang rilis 11 Februari 2026 (dua hari lebih awal dari jadwal rilis internasional) sudah memilih untuk nggak bersikap sopan lho. 

Disutradarai dan ditulis Emerald Fennell, film ini membuka dirinya dengan suara napas yang berat, desahan yang ambigu, ruang gelap yang membuat kita mengira akan menyaksikan adegan penuh gairah. Namun, ketika gambar akhirnya muncul, yang terlihat justru tubuh seseorang yang digantung. Napas terakhir. Tubuh yang meronta.

Seolah-olah Fennell ingin berkata: di dunia Catherine dan Heathcliff, hasrat dan kematian adalah saudara kembar. Ups

Sinopsis Film Wuthering Heights

Wuthering Heights (x.com)
Wuthering Heights (x.com)

Diadaptasi dari novel klasik karya Emily Bronte, kisah ini sebenarnya sudah kita kenal lama lho. Catherine Earnshaw tumbuh di Wuthering Heights. Suatu hari, ayahnya membawa pulang anak yatim misterius: Heathcliff. Sejak kecil, keduanya seperti dua sisi dari satu jiwa yang sama; liar, keras kepala, amarah, dan banyak tawa yang terlalu keras untuk dunia yang kaku.

Dalam versi film kali ini, Catherine dewasa diperankan Margot Robbie dengan aura yang nggak rapuh. Dia bukan gadis yang pasif. Dia sadar betul pada tubuhnya, pada tatapannya, pada efek yang ditimbulkan. Sementara Heathcliff, yang dimainkan Jacob Elordi, tampil dengan sunyi yang terpendam tapi membara. Dia jarang meledak, tapi setiap tatapannya seperti janji yang nggak pernah diucapkan.

Masa kecil mereka di padang Yorkshire adalah bagian yang paling jujur. Mereka berlari di antara kabut, saling menantang, saling melukai, saling melindungi. Hasrat di tahap ini masih termasuk wajar ‘ala-ala cinta monyet’. Sebatas berupa dorongan untuk selalu bersama. Untuk memilih satu sama lain, bahkan ketika dunia nggak mengizinkan.

Sayangnya, dunia seperti selalu mengingatkan Heathcliff bahwa dirinya bukan siapa-siapa. Bukan darah bangsawan. Bukan pewaris. Hanya anak pungut yang ‘diterima’. Dan hasrat, ketika terus ditekan oleh rasa nggak setara, pelan-pelan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.

Catherine mencintai Heathcliff. Itu jelas. Tapi Catherine juga mencintai bayangan dirinya sebagai perempuan terpandang. Ketika Edgar Linton yang diperankan Shazad Latif menawarkan keamanan, status, dan rumah yang lebih hangat dari Wuthering Heights, Catherine pun memilihnya. Dan di situlah tragedi dimulai.

Itu adalah pengkhianatan terhadap hasratnya sendiri. Heathcliff pergi, membawa luka yang belum sempat sembuh. Saat di kembali bertahun-tahun kemudian, dia jadi lebih rapi, lebih kaya, lebih terkendali, dan nggak lagi hanya cowok bermodalkan cinta. Kali ini dia ingin membalas.

Di antara mereka, yang tersisa bukan lagi cinta polos. Melainkan obsesi. Tatapan mereka setiap kali berjumpa terasa seperti dua orang yang tahu mereka nggak boleh lagi berdekatan, tapi nggak mampu berhenti berdekatan. Duh!

Semenarik itu memang kisah filmnya. Dan bagaimana impresi selepas nonton Film Wuthering Heights? Lanjut kepoin ya Sobat Yoursay!

Review Film Wuthering Heights

Potret Margot Robbie di film Wuthering Heights (Warner Bros. Pictures)
Potret Margot Robbie di film Wuthering Heights (Warner Bros. Pictures)

Anehnya, film ini paling hidup saat mereka (dua protagonis utama) nggak bersentuhan. Saat jarak memaksa mereka menahan diri. Saat tangan hampir menyentuh tapi nggak jadi. Hasrat terasa lebih nyata dalam penolakan daripada dalam pelukan.

Adegan-adegan intim dan seksualitas memang ada. Tapi yang lebih mengguncang justru momen ketika Catherine berdiri di ruangan megah Thrushcross Grange, memakai gaun indah yang terasa seperti sangkar. Tubuhnya ada di sana, tapi jiwanya masih berlari di padang bersama Heathcliff. Dia menikah, hamil, menjalani peran sebagai istri terhormat, tapi matanya selalu mencari satu nama yang nggak pernah benar-benar dia lepaskan.

Heathcliff, di sisi lain, nggak lagi sekadar mencintai. Dia menggunakan hasratnya sebagai senjata. Hubungannya dengan Isabella Linton, yang dimainkan begitu intens sama Alison Oliver, lebih terasa kayak pelarian ketimbang perasaan yang murni. Heathcliff ingin menyakiti, membalas, dan bukan menyembuhkan dirinya dari masa lalu. Cinta yang dulu dia simpan untuk Catherine berubah menjadi cara menghukum.

Di tengah semua itu, Nelly Dean yang diperankan Hong Chau menjadi saksi. Dia melihat segalanya. Dia memahami api di antara dua manusia itu. Tapi seperti banyak orang dewasa dalam kisah cinta yang salah arah, dia hanya mengamati dan urung mencegahnya. 

Secara visual, film ini indah. Kabut tebal, warna merah yang dalam, cahaya yang kontras. Musik modern menyelinap di antara lanskap klasik, membuat segalanya terasa sengaja dibengkokkan. Akan tetapi di balik semua keindahan itu, ada perasaan bahwa dunia dalam film ini terlalu ingin memukau penonton. 

Versi ini terasa seperti janji badai yang besar dan kadang benar-benar mengguncang, tapi juga beberapa kali seperti badai yang ditahan di dalam botol kaca. Kita melihat petirnya, mendengar gemuruhnya, tapi nggak sepenuhnya tersambar. Dalam hal ini, ‘rasa’ yang terkandung dalam filmnya agaknya kurang menyentuh hati penonton. 

Namun, satu hal yang nggak bisa disangkal, film ini memahami bahwa cinta Catherine dan Heathcliff bukan cinta yang indah. Melainkan cinta yang saling mengikat terlalu kuat, sampai keduanya kehilangan diri. Mereka nggak pernah benar-benar ingin sembuh. Mereka ingin merasa. Meski perasaan itu menghancurkan.

Sobat Yoursay penasaran dan ingin nonton filmnya? Mari kita tunggu versi OTT-nya karena penayangan di bioskop Indonesia sudah selesai. Selaman menanti dan selaman nonton ya!

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak